Diskusi Lari Sehat Minim Risiko (2)

Penting Edukasi Pelari, Kenali Kondisi Tubuh

  • 12-08-2019 / 23:12 WIB
  • Kategori:Arema, Malang
Penting Edukasi Pelari, Kenali Kondisi Tubuh DORONGAN : Dokter Arema FC, dr. Nanang Tri Wahyudi SpKO, membagi perspektifnya soal tren olahraga lari, serta cara meredam risiko kesehatan saat lari.

BAGI tenaga medis, kesuksesan terbesar event olahraga yakni mencegah kecelakaan berujung kematian. Sayangnya, perspektif ini kurang diadopsi oleh panitia penyelenggara event besar olahraga.

Dokter Arema FC, dr. Nanang Tri Wahyudi SpKO, dalam diskusi rutin Malang Post mengapresiasi olahraga rekreasi yang makin populer. Salah satu contohnya lari.

“Bicara olahraga rekreasi, target agar olahraga menjadi sebuah habit dan gaya hidup, sudah dimulai. Komunitas lari, sepeda, luar biasa. Komunitas hiking pun sama. Apalagi, ada dukungan Instagram dan mungkin media sosial lainnya yang jadi ajang unggah foto,” papar Nanang dalam diskusi bertajuk, ‘Lari Sehat Minim Risiko’, Jumat (9/8).

Sebagai dokter, Nanang merasa senang. Karena olahraga yang populer sama dengan meningkatkan grafik kesehatan masyarakat secara umum. Tapi, kenyataan belakangan mengungkap ironi olahraga. “Kenyataannya korban di lapangan itu ada. Dalam satu tahun, ada saja korban meninggal karena sedang berolahraga. Itu terjadi di seluruh Indonesia. Inginnya olahraga untuk sehat, malah olahraga ‘membunuh’ orang. Itu yang bikin saya sedih dan emosional,” ungkapnya. 

Satu-satunya dokter spesialis keolahragaan di Jawa Timur ini mengatakan, sebuah event olahraga seperti lari marathon, memiliki banyak perspektif kesuksesan. Bagi panitia, event sukses mungkin karena banyak peserta, banyak sponsor dan mempopulerkan tren semakin tinggi. Namun bagi seorang praktisi medis seperti Nanang, kesuksesan bukan semua itu.

“Bagi dokter, kesuksesan adalah tidak adanya kematian dalam event olahraga. Kalaupun ada kejadian, harus diselamatkan. Satu nyawa yang hilang dalam event olahraga itu terlalu banyak. Karena itu, fatalitas dalam event olahraga adalah musibah. Target menyehatkan orang  gagal,”  beber alumnus Universitas Gajah Mada ini.

Secara eksplisit, Nanang mengkritisi panitia sebuah event marathon, yang menganggap event sukses berdasarkan banyaknya peserta. Padahal harusnya event olahraga, memasang target menyehatkan para pesertanya.

Ia menyebut, kasus kematian lari marathon atlet profesional adalah 1 banding 100 ribu.

Tapi kasus kematian event olahraga bagi orang biasa yang penghobi lari, adalah 1 banding 10 ribu. Potensi mortalitas orang biasa lebih besar daripada atlet profesional. Jadi, jika ada event marathon yang mengikutsertakan 10 ribu peserta, minimal ada potensi 1 orang peserta yang meninggal di arena olahraga.

“Semakin banyak peserta, semakin ngeri. Harusnya, target panitia, adalah zero fatality. Jangan sampai lari yang sedang populer ini, membuat trauma. Istri khawatir suaminya yang ikut marathon, atau anak yang khawatir bapaknya sedang ikut lari marathon,” tandas pria yang berpraktik di Persada Hospital ini.

Beberapa hal memancing seorang pelari berolahraga melebihi batas kapasitas diri. Yakni kombinasi media sosial dan medali finisher. Kadang, demi foto sedang memegang medali marathon, seorang pelari memaksakan diri mencapai finish. Jika memang kondisi tubuh dan persiapan maksimal, maka hal itu tidak menjadi masalah.

“Kebanyakan goal setting adalah meraih target medali finish, difoto lalu diunggah di Instagram. 10 medali finisher, tidak sepadan dengan nyawa, serta keluarga di rumah,” katanya.

“Perlu edukasi yang jelas, supaya pelari, terutama newbie, agar tidak dipaksa mengikuti senior-seniornya,” sambung Nanang yang juga berolahraga Aikido itu.

Ia lalu membagikan beberapa hal penting dalam mempersiapkan diri mengikuti event seperti lari marathon. Karena tiap manusia memiliki kondisi yang berbeda-beda, harus ada pemeriksaan kondisi fisik dan kebugaran sebelum mengikuti lomba lari. Idealnya, seorang pelari profesional, mengikuti lari marathon dua sampai tiga kali setahun.

“Pelari profesional, persiapan latihan, berlomba dan recovery dalam waktu yang panjang. Setelah digeber lari puluhan kilo, sel otot butuh recovery. Untuk memastikan kondisi, harus ada tes kebugaran. Bedakan, surat kesehatan itu bukan surat keterangan bugar atau fit,” rinci Nanang.

Saat memulai lari, disarankan untuk tidak meminum produk air elektrolit yang banyak dipromosikan di televisi. Nanang menyarankan, untuk mengatasi dehidrasi dan kekurangan cairan saat berolahraga, air mineral biasa, adalah solusinya. Tapi, terlalu banyak meminum air juga tidak disarankan, karena akan membebani kerja jantung. Minuman elektrolit, atau sport drink, bisa diminum 60 menit setelah berolahraga.

Saat olahraga pagi, diharapkan pelari makan makanan ringan, seperti roti satu potong. “Usai olahraga, langsung cepat-cepat makanan mengandung gula, yang bisa langsung dicerna tubuh. Seperti permen, pisang, gula merah. Setelah itu, dalam waktu kurun dua jam, yakni 30 menit setelah olahraga, harus makan besar, protein harus masuk,” urai Nanang.

Ardhitya Zulfikar Fauzi,  praktisi sport science Active Movement, peserta diskusi  menyebut,  semua tren olahraga diperbolehkan. Namun, seseorang yang ingin olahraga, harus mengimbanginya dengan wawasan diri sendiri. Jika tidak ada edukasi soal persiapan lari dan risiko-risikonya justru membahayakan.

“Data yang dimaksud adalah riwayat kesehatan, kondisi kebugaran, wajib diketahui. Untuk orang umum, situasi tak tahu riwayat kesehatan dan kondisi kebugaran, sangat riskan. Apalagi, cuma based on google atau sosial media, terbatas sekali, itu cuma satu persen dari praktiknya,” sambung pria 31 tahun yang juga personel trainer dan fitness instructor itu.

Sementara, Randa Asri Putri, humas Free Runners Malang mengungkapkan bahwa pelari pemula seperti dirinya, merasa diskusi Malang Post soal isu ini menjadi pencerahan. Bagi runners baru, pengetahuan lari sangat penting.

“Wawasan biasanya dari testimoni sesama teman yang ikutan race, ilmu dari situ. Pengalaman di race langsung. Hasil diskusi, saya merasa dapat poin baru, bahwa olahraga lari itu high risk, dan banyak yang gak aware,” tandasnya. Dia juga menyebut, hal penting lainnya, terutama pelari pemula, adalah menjaga heart rate atau detak jantung, daripada memburu kecepatan.

“Kami tercerahkan dengan diskusi ini, detak jantung atau heart rate lebih penting dijaga, daripada memburu kecepatan dalam olahraga lari. Saya berharapnya ada diskusi lanjutan lagi, dan untuk komunitas lari yang semakin banyak bermunculan, supaya aware soal isu ini,” ungkapnya.

Diskusi di Graha Malang Post ini menghadirkan peserta dari berbagai perspektif. Komunitas Lari Malang Raya (Kolamara), Persatuan Atlet Master Indonesia (PAMI), Free Runners, Active Movement, Running Goal Oriented (RGO) hadir dalam diskusi.

Selain itu dua dokter spesialis hadir memberi wawasan kesehatan. Yakni Prof. Dr. dr H. Djanggan Sargowo SpPD,SpJP(K), FIHA., FACC, dokter spesialis konsultan jantung dari RSSA Malang. Serta, dr Nanang Tri Wahyudi SpKO, dokter spesialis olahraga satu-satunya di Jawa Timur, yang juga dokter tim Arema FC. (fino yudistira/van/bersambung)

Editor : van
Uploader : abdi
Penulis : fin
Fotografer : Guest

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU