Mengenal Maos App, Karya Mahasiswa Universitas Brawijaya

Deteksi Skizofenia Lewat Sidik Jari, Raih Empat Penghargaan di Jepang

  • 03-12-2019 / 08:19 WIB
  • Kategori:Kampus
Deteksi Skizofenia Lewat Sidik Jari, Raih Empat Penghargaan di Jepang BORONG PENGHARGAAN: Rahmah Nur Diana (kanan) dan Rizka Fajriana Putri Ramadhani (2 dari kanan) menerima empat penghargaan di ajang IEYI 2019.

Malangpostonline.com - Hebat, mahasiswa baru Universitas Brawijaya (UB) bisa menciptakan alat pendeteksi dini penyakit skizofrenia. Namanya Maos App,yang bisa digunakan dengan sidik jari. Karya tersebut mendapatkan empat penghargaan di ajang International Exhibition for Young Inventor (IEYI). Ajang itu diselenggarakan oleh Japan Institute of Invention and Innovation beberapa waktu lalu.

Ya empat penghargaan! Antara lain silver medal, special award dari China, special award dari Phillipines dan special award dari Macao. Maos App dirancang oleh empat mahasiswa lintas fakultas yakni Rizka Fajriana Putri Ramadhani (Biologi/2019), Nadia Riqqah Nurlayla (Biologi/2019), dan Rahmah Nur Diana (Teknik Informatika/2019).

Dalam ajang tersebut tim ini mengusung karya berjudul “Maos App: A Novel Application Using Mathematic Fractal Analysis for Schizophrenia Early Detection on Fingerprint Pattern”.

“Aplikasi ini dapat mendeteksi apakah orang tersebut menderita skizofrenia atau tidak hanya dengan menggunakan sidik jari, cara deteksinya hanya dengan menggunakan scanner sidik jari kemudian hasilnya dianalis melalui aplikasi tersebut,” ujar Rahmah Nur Diana.

Secara rinci fingerprint scanner yang berbentuk USB tersebut diberi adaptor lalu disambungkan ke handphone. Berdasarkan uji yang telah dilakukan tim ini, Maos App memiliki akurasi sebesar 80 persen. Namun pengujian belum dilakukan kepada orang secara acak, melainkan menggunakan perbandingan antara penderita skizofrenia dan manusia normal.

Untuk itu, ke depan tim ini akan mengembangkan lebih lanjut agar bisa digunakan untuk melihat adanya penyakit skizofrenia kepada orang yang belum terdeteksi. Sejauh ini sampel yang digunakan yakni pasien dari RSJ Lawang sebanyak 70 orang penderita gangguan mental dan 70 sampel normal.

“Maos App sudah ada wujudnya yang nantinya bisa didownload oleh masyarakat, hanya saja handphone yang mendukung hanya android nougat ke atas,” terang mahasiswi Teknik Informatika Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) UB ini.

Pengembangan aplikasi ini akan terus dilakukan, termasuk melakukan koordinasi dengan pihak terkait misalnya spesialis kesehatan jiwa baik dari UB maupun pihak luar. Terlebih Maos App aplikasi yang berbasis kesehatan sehingga diperlukan perizinan dari Dinas Kesehatan.

Sementara itu, Rizka Fajriana Putri Ramadhani menambahkan, bahwa Maos App sudah dilakukan sejak tahun lalu. Tepatnya ketika masih menjadi siswa MAN 2 Malang, dengan penelitian pendahuluan yang menjelaskan perbedaan sidik jari penderita skizofrenia dan tidak. Namun ketika itu metode penghitungannya tidak spesifik sehingga hasilnya inkonsisten.

“Kemudian sekarang kami kembangkan dengan metode baru yakni Matematika fractal, kami mencari topik apa yang bisa dikembangkan lagi dan sampai saat ini sebenarnya masih ada yang perlu diperbarui termasuk aplikasinya karena masih sering trouble,” jelas Rizka.

Fraktal sendiri dapat mendeteksi ketidaksamaan pola sidik jari melalui rumus box-counting. Prinsip dari rumus fraktal box-counting adalah menghitung jumlah box yang menutupi objek sidik jari. Kemudian dilakukan serangkaian iterasi menggunakan rumus sama dengan memberi ukuran box yang berbeda-beda.

Lebih lanjut, nantinya aplikasi ini tidak bisa beredar bebas, melainkan hanya dapat digunakan oleh tenaga kesehatan. Agar fungsi dan manfaatnya lebih tepat sasaran. Jika disebarkan secara luas dan masyarakat dengan mudah dapat mengaksesnya dikhawatirkan orang yang tidak bisa menerima dirinya terkena skizofrenia akan mengambil keputusan salah.

Selain itu, pada prinsipnya Maos App bersifat diagnosis yang mana itu tidak bisa 100 persen akurat. Terlebih tidak semua orang bisa menerima bahwa dirinya terkena skizofrenia.

“Keunggulan Maos App adalah dari segi kepraktisan lebih praktis dan harga terjangkau bila dibandingkan metode skizofrenia yang lain seperti MRI atau CT Scan, selain itu juga proses analisnya juga lebih cepat,” kata dia.

Tak hanya itu, aplikasi ini juga memiliki fitur untuk memberikan rekomendasi ketika pengguna terdeteksi mengalami skizofrenia.

Latar belakang pengembangan Maos App ini yakni adanya keprihatinan terhadap masih minimnya pembahasan terkait skizofrenia. Terlebih mental health selama ini masih dipandang sebelah mata selain itu riset atau penelitiannya juga masih sangat terbatas.

“Kami ingin memberikan kontribusi juga di bidang kesehatan,” tandasnya.

Perlu diketahui bahwa IEYI telah diadakan sejak 2004 sebagai hasil dari pertemuan Forum Internasional Kekayaan Intelektual (IFIP) di Tokyo, Jepang pada November 2003. Pertemuan tersebut diprakarsai oleh Institut Penemuan dan Inovasi Jepang (JIII) dengan melibatkan negara-negara dari Asia dan Afrika. Salah satunya menyelenggarakan Pameran Internasional bagi Penemu Muda atau IEYI sebagai bentuk dukungan bagi generasi muda dalam sains dan teknologi. 

Kompetisi internasional ini diikuti sebelas negara, yakni Indonesia, Jepang, Macau, Malaysia, Filipina, Rusia, Singapura, Taiwan, Thailand, Tiongkok dan Vietnam. Tahun ini bahkan terdapat lebih dari 4.000 proposal inovasi teknologi yang masuk dan terpilih 300 invovasi untuk dipamerkan dengan pengunjung dari berbagai kalangan seperti peneliti, kalangan akademisi, instansi pemerintahan terkait, hingga investor.

Sebelumnya tim ini juga mendapatkan tiga penghargaan di ajang Istanbul International Invention Fair (ISIF) 2019. Penghargaan yang diperoleh karya berjudul Mastitis Paper Detection: Utilization of Filter Paper, Surfactants and Dye as a New Detection Method of Subclinical Mastitis in Dairy Cow antara lain silver medal ISIF 2019, Special Award from Association of British Inventors and Innovations serta Honor Award from Associacao Postuguesa De Inventores, Inovadores E Criativos (A.P.I.I.C.I.S).(lin/ary/Malangpostonline.com)

Editor : Ary
Uploader : irawan
Penulis : lin
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU