Reta Arroyan, Fisioterapis Pertama Arema FC Putri

Sempat Canggung Tangani Atlet Putri, Lama-Lama Terbiasa

  • 05-01-2020 / 05:15 WIB
  • Kategori:Arema
Sempat Canggung Tangani Atlet Putri, Lama-Lama Terbiasa

Malangpostonline.com - Arema FC beruntung memiliki staf medis serba bisa, Reta Arroyan. Pria berusia 24 tahun tersebut, merupakan fisioterapis tim Arema FC Putri dan sebelumnya bergabung dengan tim kelompok umur yang bertanding di kelas elite pro.

Musim 2019 lalu, tugas Reta tak sekadar menjadi tim medis bagi pemain Arema U-20 dan kelompok umur lain di bawahnya. Namun, adanya kompetisi Liga 1 Putri, membuat dia pun didaftarkan sebagai fisioterapis Arema Kodew. Bahkan, pada banyak pertandingan, dia harus bekerja sendiri, menjaga kesehatan para pemain Arema Putri.

"Saya masuk Arema tahun 2018. Jadi tahun 2019 adalah tahun kedua. Kalau pertama masuk saya masih full di Elite Pro, tahun 2019 dengan Arema Putri," ujar Reta, mengawali cerita.

Bukan hal mudah bagi lulusan Universitas Muhammadiyah Malang itu menjadi fisioterapis di Arema Putri. Berbeda gender, salah satu tantangan utamanya. Sebab, tidak bisa dipungkiri, merawat kesehatan atau memberikan terapi bagi atlet perempuan, kadang ada rasa canggung.

"Pertama canggung. Saya cowok, kliennya cewek. Lama-lama terbiasa, karena sudah semakin saling mengenal. Karena sudah ada keterbukaan," bebernya.

Dia mengatakan, yang paling penting adalah mengomunikasikan dengan para pemain. Apalagi, beberapa pemain Arema juga ada yang berhijab. Ia harus berhati-hati menjaga perasaan pemain, juga tidak bisa sembarangan melakukan terapi.

"Kalau mereka tidak berkenan, ya saya minta bantuan staf (asisten pelatih) yang cewek. Tetapi sejauh ini aman-aman saja setelah semua saling kenal dan berkomunikasi," jelas Reta.

Menurut dia, di antara tim Liga 1 Putri, hanya ada Arema yang memakai tenaga fisioterapis laki-laki. Sementara, di tim lain, fisioterapis perempuan, baru dokternya laki-laki.

"Kalau yang terdaftar di website PSSI sepertinya saya laki-laki sendiri," tambah dia.

Tidak hanya itu yang menjadi tantangannya. Sebab, dia kerap kali harus mendampingi tim seorang diri sebagai tim medis. Apalagi, ketika pertandingan berada di luar kota. Maka, ia harus siap kerja keras untuk menjaga semua pemain sehat, sebelum dan sesudah pertandingan.

"Ya tugas saya kalau ada yang mulai cedera, terapinya harus tepat. Mengatur terapi, lalu, menjaga kondisi tubuh mereka tetap fit. Tetapi yang saya kerjakan, selalu konsultasi dengan dokter tim," jelas dia.

Yang paling menantang, diakuinya adalah ketika away ke Papua. Pada seri tersebut, Arema FC Putri berangkat dengan staf minim. Bahkan, hanya dirinya, pelatih kepala dan seorang kitman.

Alhasil, Reta harus merangkap banyak tugas. Belum lagi, dengan jumlah pemain yang terbatas, 18 pemain untuk satu seri atau empat pertandingan.

"Yang paling mengkhawatirkan, kalau ada yang cedera. Tetapi Alhamdulillah, sampai akhir kompetisi, skuad Arema tidak ada yang cedera serius. Paling istirahat satu dua pertandingan, dengan terapi mereka pulih," urai pria asal Ponorogo tersebut.

Namun, dia menekankan tantangan secara keseluruhan, menangani pemain perempuan itu lebih rumit dan rentan cedera. Sehingga, hal itu harus dicegah lebih awal sebelum cedera menghampiri pemain.

"Harus diberikan edukasi pada mereka, untuk cedera seperti engkel, harus ada penguatan. Harus selalu edukasi. Kalau memang sudah cedera, treatment juga mesti bagus, biar tidak gampang cedera," imbuh Reta.

Sementara itu, dia mengakui awal-awal memang merasa grogi. Apalagi ketika memasuki lapangan, menangani pemain yang cedera di tengah lapangan.

"Jadi ini juga pengalaman saya di Liga 1, meski masih semi profesional. Tetapi lama-lama, ketika tim akhirnya melangkah sampai semifinal, saya ada rasa bangga. Bisa menjaga tim ini sampai kompetisi berakhir dan tidak cedera," tandas dia.(Stenly Rehardson/ary)

Editor :
Uploader : slatem
Penulis : ley
Fotografer : ley

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU