Prancis vs Kroasia: Duel Panas Buru Sejarah

  • 15-07-2018 / 01:05 WIB
  • Kategori:Piala Dunia
Prancis vs Kroasia: Duel Panas Buru Sejarah grafis: Irawan, tem/mp

MOSCOW – Dua tim terbaik Piala Dunia 2018 Rusia bakal saling menghancurkan di partai pamungkas untuk perebutan trofi supremasi sepakbola dunia. Prancis, sebagai tim favorit, akan berduel dengan Kroasia yang diragukan di awal kompetisi tapi akhirnya menjadi kuda hitam yang mencapai titik tertinggi.

Minggu (15/7) malam ini, pukul 21.00 WIB, Les Blues harus siap meredam ledakan The Blazers yang tak terhentikan sejak awal kompetisi. Paul Pogba, gelandang bintang Prancis, mengharap trofi Piala Dunia 2018 bisa menghapus kepedihan mimpi buruk saat tampil anti klimaks di Piala Eropa 2016.

“Saat Piala Eropa, kami pikir kami sudah memenangkan trofi sebelum masuk ke final.

Ketika kami mengalahkan Jerman, kami pikir itu adalah final. Kami pikir kami sudah memenangkan trofi Piala Eropa bahkan sebelum bermain. Itu adalah kesalahan terbesar kami,” tegas Pogba.

Sebagai tuan rumah Piala Eropa 2016, Prancis merasa sudah menang ketika mengalahkan Jerman di semifinal. Namun, kenyataannya Portugal yang menjungkalkan skuad asuhan Didier Deschamps di final dengan skor 1-0. Striker Prancis, Olivier Giroud ingin memastikan mimpi buruk itu sirna.

Dia pun siap menjadikan Kroasia sebagai tumbal penghapus mimpi buruk Prancis. “Kami tahu kami tidak bermain baik di Piala Eropa, dan kami tidak akan mengulangi itu lagi. Pelatih sudah bicara kepada kami agar tidak arogan,” tandas Giroud. Samuel Yves Umtiti, pencetak gol tunggal Prancis saat membekuk Belgia, siap menghalalkan segala cara, demi menambah satu bintang dalam logo timnas Prancis.

“Saya tidak peduli caranya, saya hanya ingin dua bintang di logo timnas kami. Apa yang penting bagi kami sekarang adalah kami bermain di final, dan kami harus menang. Ketika menang, tidak perlu bicara menjadi yang nomor dua atau nomor tiga,” kicau Umtiti.

Secara statistik, Prancis tak pernah kalah melawan Kroasia dalam lima pertemuan di kompetisi resmi. Prancis bertemu Kroasia di tahun 1998, 1999, 2001, 2004 dan 2011, dengan hasil tiga kali menang dan dua kali imbang. Bahkan, kemenangan pertama Prancis atas Kroasia era Davor Suker di tahun 1998, memuluskan langkah Fabian Barthez dkk saat itu menjadi juara dunia untuk kali pertama.

Dari sisi sejarah, partai final kali ini diprediksi juga akan mengalami babak tambahan. Dalam tiga edisi Piala Dunia sebelumnya, para finalis selalu menjalani 2 x 15 menit babak tambahan. Namun, hanya ada dua final yang berakhir dengan adu penalti, yakni Piala Dunia 1994 dan 2006. Kroasia yang didapuk sebagai kuda hitam terbaik Piala Dunia 2018, diyakini bakal beradu stamina dengan Prancis.

Ivan Rakitic, gelandang Kroasia, menyebut timnasnya akan mendapatkan dukungan ratusan juta suporter saat melawan Prancis malam ini. Tak hanya itu, 4,5 juta penduduk Kroasia juga sedang berbangga melihat skuad asuhan Zlatko Dalic yang tinggal selangkah lagi mencetak sejarah besar dalam persepakbolaan Kroasia.

“Saya rasa sekarang tak ada perasaan yang lebih baik ketimbang rasa bangga menjadi orang Kroasia. Mencapai partai final ini adalah penggenapan mimpi terindah. Sukacita, kebersamaan, kesatuan dan kebanggaan sebagai seorang Kroasia adalah sumber kekuatan kami,” tegas gelandang Barcelona itu.

Rakitic menyebut Kroasia layak menjadi finalis Piala Dunia 2018. Menurutnya, final ini tak hanya penting bagi 23 pemain dan pelatih maupun ofisial tim. Lebih dari 4,5 juta penduduk Kroasia juga sedang menikmati momen terbaiknya. Rakitic bahkan yakin, Stadion Luzhinki akan dipenuhi 4,5 juta penduduk apabila memiliki kapasitas besar.

Disinggung soal Kroasia yang habis-habisan menuju semifinal dengan beberapa kali menjalani babak tambahan, Rakitic mengaku tidak khawatir. “Akan ada kekuatan dan energi yang berlebih, jangan khawatir. Ini adalah laga terbesar dalam hidup kami. Saya pun siap mengorbankan karir saya dalam sepakbola, apabila itu adalah harga yang harus saya bayar demi trofi Piala Dunia,” tegas Rakitic.

Prancis memiliki pemain-pemain fantastis di setiap posisi, terutama Griezmann (3 gol, 2 assist) dan Mbappe (3 gol) di lini serang. Selain itu, Prancis juga punya pelatih jempolan, yang jago meramu strategi untuk menyesuaikan diri dengan gaya permainan lawan.

Namun Kroasia juga tak kalah, terutama di lini tengah. Di lini ini, ada kapten Luka Modric (2 gol, 1 assist) dan Ivan Rakitic (1 gol) sebagai motor permainan. Di bawah mistar, ada Danijel Subasic yang tak mudah ditaklukkan. Di sayap, ada Ivan Perisic (2 gol, 1 assist) yang menjadi Man of the Match saat melawan Inggris. Di depan, ada Mario Mandzukic (2 gol, 1 assist) dengan insting golnya yang layak diwaspadai.

Kroasia sudah berjuang sekuat tenaga untuk sampai sejauh ini, dan mereka takkan puas hanya karena telah masuk final. Gelar juara pun diincar.

“Tak ada yang mengira kami akan mencapai final, tapi kami takkan berhenti sekarang,” kata Modric. “Kami akan memberikan yang terbaik demi mengangkat trofi. Ini kesempatan yang sangat langka,” katanya.

“Saya bahkan rela menukar semua trofi juara sepanjang karier saya dengan trofi yang satu ini (Piala Dunia). Kami sudah siap untuk Prancis,” katanya. (fin/bol/feb/han)

Editor : bua
Uploader : slatem
Penulis :
Fotografer :

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU