Dekan FEB UB Sebut Indonesia Akan Mengalami Bencana Demografi

  • 19-08-2019 / 19:17 WIB
  • Kategori:Kampus
Dekan FEB UB Sebut Indonesia Akan Mengalami Bencana Demografi Ribuan maba FEB UB akan menjadi bagian dari Bonus Demografi.

MALANGPOSTONLINE.COM - Dalam kurun lima tahun mendatang, Indonesia diprediksi akan mengalami bencana demografi jika Sumber Daya Manusia (SDM) usia produktifnya tak berkualitas. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Brawijaya pada momen kuliah perdana mahasiswa baru (maba) tahun ajaran 2019/2020 di Samantha Krida, Senin (19/8).

"Indonesia tengah bersiap menghadapi bonus demografi, itu akan menjadi berkah jika SDM generasi usia produktif memiliki kualitas dan mutu yang mumpuni. Sebaliknya, jika SDMnya memiliki kualitas yang kurang, maka kita akan mengalami bencana demografi," kata Dekan FEB UB, Nurcholis, SE, M.Bus.(Acc).,Ak.,Ph.D dihadapan 1900 maba FEB.

Dijelaskannya, bonus demografi hanya akan dialami setidaknya satu kali oleh suatu negara. Bonus demografi sejatinya tak hanya dialami oleh Indonesia, namun juga sejumlah negara lain seperti Rusia, China, Taiwan, hingga negara tetangga Malaysia. Untuk itu, momen tersebut tak boleh hanya disia-siakan. Sebab dampak buruk akan menanti jika SDM yang melimpah kuantitasnya, namun kualitasnya belum berimbang.

"Bonus demografi terdiri generasi milenial generasi Z yang merupakan digital native, seperti kalian para maba. Katanya generasi tersebut jago multitasking, manusia serba bisa. Harapannya benar-benar seperti itu. Agar nantinya bisa menjadi bagian dari bonus demografi yang membawa berkah," lanjutnya.

Lebih lanjut, sejalan dengan yang disampaikan oleh Nurcholis, Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Prof. Achmad Erani Yustika menyampaikan bahwa bonus demografi yang terdiri dari generasi usia produktif (rentang usia 15 hingga 64 tahun) tidak berkualitas justru akan menjadi beban bagi negara.

"Asumsinya, negara tidak akan bisa melaju dengan cepat, karena menanggung mereka yang masuk pada kategori usia produktif namun tidak mampu bersaing karena tak memiliki kualitas yang dibutuhkan pada era digital seperti ini," ungkapnya.

Masih menurut Prof Erani, percuma jika Indonesia mempunyai komposisi masuarakat yang banyak, namun kualitasnya tidak memadai atau tidak memenuhi Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Tetapi, Indonesia saat ini sedang menuju ke arah tren pemerataan IPM di seluruh wilayahnya.

"Tidak ada satu pun Provinsi di Indonesia yang IPMnya dibawah 70, semuanya diatas 70. Bahkan ada yang mendekati 80. Ini artinya Indonesia punya potensi besar untuk mendapatkan berkah demografi. Namun, Indonesia masih memiliki kendala krusial yakni stunting pada balita yang angkanya masih tinggi," imbuhnya.

Persoalan stunting sendiri juga akan berdampak besar pada bonus demografi. Pada 2018, prosentase stunting masih mencapai 28 persen. Artinya kisaran 10 hingha 15 tahun yang akan datang Indonesia akan memiliki tambahan 28 persen tenaga kerja yang akan memiliki keterbatasan tubuh.

Untuk itu, terdapat sejumlah hal yang harus diperhatikan dalam bonus demografi yakni kualitas SDM yang terdiri perbaikan pendidikan hingga kesehatan. Aspek-aspek tersebut menjadi kunci dalam menyongsong  berkah bonus demografi di negara Indonesia.(Mg3/Malangpostonline.com)

Editor : asa
Uploader : slatem
Penulis : asa
Fotografer : asa

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU