Pria Enggan Bertani Picu Peningkatan Jumlah Petani Perempuan

  • 19-11-2019 / 20:12 WIB
  • Kategori:Kampus
Pria Enggan Bertani Picu Peningkatan Jumlah Petani Perempuan Prof. Dr. Ir. Yayuk Yuliati, M.S guru besar ke-253 UB dalam bidang Sosiologi Pertanian (kiri) dan Prof. Dr. Ir. Bambang Tri Rahardjo, S.U (kanan) bidang Ilmu Tanah dan Hama Tanaman sebagai profesor ke-254 di UB.

Malangpostonline.com –Jumlah petani di Indonesia mengalami pergeseran. Dari 42.8 juta orang di tahun 2010 menjadi 39.7 juta jiwa di tahun 2017 dan terus mengalami penurunan sebesar 1.1 persen per tahunnya.

Sementara, jumlah tenaga kerja perempuan meningkat di tahun menjadi 55.04 persen di Februari 2017 dari tahun 2016 dengan angka 52.71 persen, sedangkan tenaga kerja laki-laki justru menurun dari 83.46 persen menjadi 83.05 persen.

“Kondisi ini menujukkan adanya keterlibatan perempuan dalam kegiatan pertanian atau biasa disebut dengan feminisasi pertanian,” ujar Guru besar UB Prof. Dr. Ir. Yayuk Yuliati, M.S.

Yayuk dikukuhkan menjadi guru besar dari Fakultas Pertanian (FP), Selasa (19/11). Pidato pengukuhannya berjudul Peningkatan Kapasitas Perempuan Tani Dalam Menguatkan Feminisasi Pertanian.

Menurutnya, dengan adanya feminisasi pertanian ini, beban kerja perempuan semakin rumit. Bahkan hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia melainkan juga di beberapa negara lainnya seperti China. Mereka juga diberi tanggungjawab kegiatan pertanian lantaran suami atau laki-lakinya bekerja di luar sektor pertanian.

Yayuk melakukan penelitian tersebut di daerah Gresik. Untuk mengetahui sejauh mana peran laki-laki dan perempuan dalam suatu masyarakat maka digunakan alat analisis gender berdasarkan empat aspek. Meliputi profil kegiatan, akses, kontrol, manfaat serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

“Melalui analisis gender ini diperoleh adanya ketidakadilan gender dalam bentuk marginalisasi, sub ordinasi, stereotipi, kekerasan dan beban kerja. Terjadinya feminisasi pertanian di Indonesia karena banyak lahan yang dialihfungsikan menjadi pemukiman, bangunan publik, kantor dan lain sebagainya,” urai guru besar ke-40 di FP dan ke-253 di UB.

Dari alih fungsi lahan tersebut banyak keluarga mencari pendapatan lain di luar sektor pertanian, laki-laki memilih beralih profesi tak jarang juga perlu ke luar negeri untuk mencari penghasilan lebih baik. Sehingga untuk meningkatkan kapasitas perempuan tani maka perlu dilakukan beberapa strategi seperti pemberian akses sumberdaya, pengurangan beban kerja, koordinasi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat dalam merumuskan pembangunan yang berperspektif gender, dan perlu adanya sosialisasi gender bagi seluruh elemen masyarakat. (lin/oci/Malangpostonline.com)

Editor : oci
Uploader : slatem
Penulis : lin
Fotografer : lin

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU