Ramah Difabel, PSLD UB Raih Penghargaan Zero Project Di Vienna Austria

  • 27-02-2020 / 18:22 WIB
  • Kategori:Kampus
Ramah Difabel, PSLD UB Raih Penghargaan Zero Project Di Vienna Austria Wakil Rektor IV UB, Prof. Dr. Ir. Moch. Sasmito Djati, MS (tengah) dan Ketua PSLD UB, Zubaidah Ningsih AS, Ph.D, (kanan) dalam kegiatan Bincang Santai (Bonsai), Kamis (27/2) di Studio UB TV.

Malangpostonline.com – Upaya Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) Universitas Brawijaya (UB) dalam memenuhi hak belajar peyandang disabilitas selama 8 tahun ini membuahkan hasil. Pada Rabu (19/2) lalu, PSLD UB berhasil meraih penghargaan internasional Zero Project Award sebagai best practice in the world di Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Vienna, Austria.

Sejak 2012 silam PLSD UB telah terus berinovasi dalam memberikan kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk memperoleh layanan pendidikan. Untuk memberikan fasilitas ini, UB turut berkolaborasi dengan banyak institusi termasuk di level internasional dengan Australia sehingga kini mampu dikenal.

“Penghargaan yang kami peroleh ini karena inovasi tentang difabel, penghargaan ada yang karena sistemnya, assisted teknologi, kalau kami masih relative sederhana hanya sistem penerimaan difabel menggunakan tes psikotes, media dan lain sebagainya dan ternyata itu diperhatikan oleh UNIDo,” ujar Wakil Rektor IV UB, Prof. Dr. Ir. Moch. Sasmito Djati, MS dalam kegiatan Bincang Santai (Bonsai), Kamis (27/2) di Studio UB TV.

Penghargaan ini merupakan pencapaian membanggakan, sebab UB satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia dan Asia Tenggara yang menerima penghargaan Zero Project 2020. Penghargaan disertai pengalaman luar biasa ini turut membawa semangat baru bagi UB agar kedepannya semua program studi dapat menerima mahasiswa berkebutuhan khusus.

Kedepan PSLD UB akan mempertahankan capaian tersebut dan turut mensosialisasikan kepada universitas lain serta siswa SMA/SMK yang mau masuk ke Perguruan Tinggi harus di pre-conditioning calon mahasiswa. Hal ini ditujukan untuk memudahkan mereka di lingkungan kampus.

“Langkah pertama, infrastruktur UB yang harus kita perhatikan harus ramah kepada mereka, kedua PSLD saya minta untuk mengembangkan sistem pembelajaran, sistem admission juga, setelah lulus bagaimana ini juga sedang kita upayakan,” terang Prof. Sasmito.

Hal ini lantaran tidak semua perusahaan mau menerima disabilitas, padahal kadang kala mereka justru memiliki kemampuan lebih dibanding dengan orang normal. Misalnya autis, dia memiliki konsentrasi yang tinggi ketika bekerja di bidang tertentu yang pasti sesuai dengan intelektualnya mereka.

Sementara itu, Ketua PSLD UB, Zubaidah Ningsih AS, Ph.D, menambahkan bahwa setiap tahunnya UB menerima sebanyak 20 mahasiswa difabel. Sedangkan peminatnya sendiri cukup tinggi seperti tahun lalu pendaftar sebanyak 75 dan 20 orang lolos.

“Kami ramah difabel dengan adanya fasilitas seperti trotoar yang bisa dilewati kursi roda, ada guiding block untuk teman-teman tunanetra berjalan dan beberapa gedung telah dilengkapi dengan toilet ramah difabel, meskipun belum semuanya,” terang Zubaidah.

Tak hanya dari segi infrastruktur, PSLD UB juga terus mengembangkan inovasi, jika dulunya menggunakan buku Braille bagi penyandang tunanetra sekarang telah menuju digitalisasi buku. Sehingga proses belajarnya bukan lagi membaca melainkan melalui pendengaran.

“Selain itu dosen kami ajari untuk menyiapkan bahan ajar sekaligus cara menguji karena mereka tidak bisa presentasi sehingga diubah bagaimana cara penyampaiannya, yakni dengan teknik menyampaikan kuliah dimulai dari bahasa yang simpel harapannya agar mahasiswa difabel mendapatkan inti dari kuliahnya,” tutupnya.  (lin)

 

PENTING! Baca Ini:

https://m.malangpostonline.com/bisnis/lowongan-kerja

https://m.malangpostonline.com/bisnis/iklan-baris

https://m.malangpostonline.com/bisnis/iklan-properti

 

Editor : lin
Uploader : slatem
Penulis : lin
Fotografer : lin

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU