Penelitian Data Satelit Menunjukkan Jawa Timur Mengalami Perubahan Permukaan Tanah

  • 29-03-2020 / 17:03 WIB
  • Kategori:Kampus
Penelitian Data Satelit Menunjukkan Jawa Timur Mengalami Perubahan Permukaan Tanah Ketua Grup Riset Geoinformatika Filkom UB, Fatwa Ramdani, D.Sc., S.Si., M.Sc menunjukkan hasil penelitian melalui data satelit

Malangpostonline.com - Sebagian daerah Jawa Timur mengalami perubahan permukaan tanah. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Grup Riset Geoinformatika Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB), Fatwa Ramdani, D.Sc., S.Si., M.Sc., berdasarkan hasil penelitian data satelit.

Perubahan permukaan tanah ini di Jawa Timur tersebut berbeda-beda, sebagian mengalami kenaikan dan penurunan yang diakibatkan oleh faktor alami atau buatan. Jika terjadi karena faktor alam maka perubahan yang terjadi skalanya kecil. Sementara perubahan karena faktor manusia justru menimbulkan dampak masif atau berskala besar.

"Faktor manusia contohnya seperti pembangunan infrastruktur, industrialisasi, pembangunan dan pemakaian air tanah yang terjadi di bagian utara Surabaya dan Gresik," ujar Fatwa Ramdani, D.Sc., S.Si., M.Sc.

Sementara penurunan permukaan tanah karena berada di daerah patahan lempeng bumi atau dikarenakan faktor alam terjadi di bagian Malang Selatan. Penurunan permukaan tanah bisa berdampak negatif seperti banjir, longsor hingga robohnya infrastruktur.

Penurunan permukaan tanah ini dapat meluas karena tanah sifatnya continue bukan diskrit atau terpisah-pisah. Sehingga perlu ada kerjasama yang baik antara peneliti dan pemerintah dalam upaya mencerdaskan masyarakat serta meningkatkan kepeduliannya untuk menjaga kondisi lingkungan.

"Peneliti harus lebih banyak menyebarluaskan data dan informasi kepada msyarakat sebagai bentuk pencerdasan kontribusi pengabdian. Sementara itu pemerintah bisa menjalankan fungsi kontroling dan  penegakan hukum yang baik," terangnya.

Fatwa menambahkan hukum mengenai perlindungan lingkungan atas dampak pembangunan sudah ada namun penegakan dan kontrolingnya masih lemah di Indonesia. Semua harus jelas termasuk dimana pembangunan, kenapa dibangun, layak tidak dibangun, bagaimana dengan kondisi tanah dan airnya.

"Kemudian kalo perlu pemerintah juga memberikan insentif kepada masyarakat atau pengusaha yang telah melakukan konservasi air tanah ataupun berkontribusi pada pelestarian lingkungan," tandas Fatwa.

Sementara bagi masyarakat dapat berpartisipasi aktif menjaga lingkungan dengan membuat sumur resapan, melakukan penghijauan di tingkat rumah tangga dan melakukan sistem pemanenan air hujan. Apabila ada tanah kosong jangan di bangun melainkan seharusnya ditanam pohon untuk menahan tanah dan air.

Menurutnya, penurunan tanah sering kali terjadi akibat air di tanah menghilang dan beban di atas tanah bertambah. Memanen air hujan maksudnya tidak membiarkan air hujan langsung dibuang ke saluran drainase tetapi dibiarkan masuk ke dalam tanah. (lin)

 

PENTING! Baca Ini:

https://m.malangpostonline.com/bisnis/lowongan-kerja

https://m.malangpostonline.com/bisnis/iklan-baris

https://m.malangpostonline.com/bisnis/iklan-properti

 

 

Editor : lin
Uploader : slatem
Penulis : lin
Fotografer : lin

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU