Guru BK Harus Berperan Sebagai Kontrol Perilaku Siswa

  • 09-12-2019 / 21:59 WIB
  • Kategori:Sekolah
Guru BK Harus Berperan Sebagai Kontrol Perilaku Siswa Konselor pendidikan internasional, Rtn. MPHF. Ayyapparaj Mani mengisi materi tentang Penanganan Konseling Anak Didik dengan Kompleksitas Masalah Keluarga di Era Disruption di Seminar Internasional HUT PGRI dan Hari Guru Nasional.

Malangpostonline.com – Masalah yang kerap terjadi di lingkungan pendidikan sebagian besar adalah penggunaan gadget. Namun persoalan berbeda diutarakan oleh konselor pendidikan internasional, Rtn. MPHF. Ayyapparaj Mani bahkan permasalah utama bagi anak didik adalah sesuatu yang membahayakan bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Permasalahan lainnya yakni hal-hal yang tidak sesuai atau tidak cocok dengan usia anak tersebut. Selain itu juga pembelajaran yang diganggu sehingga menyebabkan penekanan yang tidak logis kepada peserta didik.

“Jadi banyak problematika yang sering dihadapi oleh siswa yang itu bisa menyebabkan orang lain merasa tidak masuk akal, masalah itu tak jarang dilatarbelakangi  dari keluarga, sebagai guru BK sebaiknya mengajak berkomunikasi setelah tahu masalanya kita libatkan keluarga tersebut untuk mencari solusinya,” ujar Ayya Sapaan akrab Rtn. MPHF. Ayyapparaj Mani, saat memaparkan materinya yang bertajuk Penanganan Konseling Anak Didik dengan Kompleksitas Masalah Keluarga di Era Disruption, Senin (9/12) di Aula SMK PGRI 3 Malang.

Kehadiran konselor pendidikan internasional sekaligus British Ambasaddor Education dari Tamil Nadu, India ini merupakan salah satu agenda peringatan HUT Ke-74 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dengan mengangkat tema Peran Guru BK dalam Pembelajaran di Era Revolusi Industri 4.0. Kegiatan yang berlangsung di SMK PGRI 3 Malang ini juga dihadiri oleh Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Malang, Totok Kasianto, Guru Besar Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof. Dr. Siti Masitoh, M.Pd, serta Koordinator BK dan Pengawas Pendidikan SMK/SMA Kota Malang, Drs. Gogok Rachmad Basuki, M.Pd.

Menurut, Drs. Gogok Rachmad Basuki, M.Pd, di era disrupsi ini merupakan suatu perubahan dimana semua inovasi banyak berkembang dengan karakteristik lebih efektif dan efisien.

“Kita bisa melihat bagaimana internet berkembang pesat, sehingga guru BK diharuskan bisa memahami perilaku siswa, karena tidak mungkin peserta didik dilarang menggunakan handpone karena itu termasuk pelanggaran HAM,” jelas Gogok.

Untuk itu guru BK harus bisa mengarahkan siswa untuk menggunakan gadget dengan baik dan tepat. Pada dasarnya adanya teknologi mampu meningkatkan kualitas hidup manusia, namun sebagai guru BK yang notabennya adalah media mentransformasikan ilmu-ilmu maka dituntut untuk mampu mengontrol penggunaan handphone di kalangan siswa.

“Peran guru BK itu bagaimana bisa membimbing anak-anak kita mengambil hikmah perkembangan teknologi, proses adaptasi perubahan yang cepat juga perlu diantisipasi dengan cepat oleh pihak sekolah termasuk orang tua siswa juga perlu dilibatkan,” tandasnya.

Di era disrupsi ini para guru dituntut mampu menjelajahi semua inovasi baik melalui praktek maupun teori serta perlunya kegiatan komprehensif di lingkungan sekolah tersebut. (lin/Malangpostonline.com)

Editor : lin
Uploader : slatem
Penulis : lin
Fotografer : lin

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU