Konsep Literasi Digital Di Sekolah Akhlak Pelita Hidayah

  • 12-03-2020 / 22:30 WIB
  • Kategori:Sekolah, Advertorial
Konsep Literasi Digital Di Sekolah Akhlak Pelita Hidayah SENANG: Sejak usia dini siswa-siswi Sekolah Akhlak Pelita Hidayah TK Plus Al-Kautsar sudah dikenalkan dengan teknologi sebagai sarana pembelajaran.

Malangpostonline.com - Selain Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), lembaga pendidikan juga perlu mengintegrasikan literasi pada proses pembelajaran. Pengertian Literasi dalam konteks Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas. Antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis dan berbicara. 

GLS merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat melalui pelibatan publik. Sebab literasi lebih dari sekadar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual dan digital.

Dalam konteks ini, Sekolah Akhlak Pelita Hidayah, menerapkan konsep literasi digital sebagai salah satu program yang diunggulkan. Dimana aktivitas literasi sudah pada tingkat pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital. 

AKTIF: Siswa-siswi Sekolah Akhlak Pelita Hidayah SD Plus Al-Kautsar menggunakan laptop sebagai media pembelajaran literasi digital 

 

Baik berupa sarana alat-alat komunikasi atau jaringan dalam  membangun pengetahuan baru. Meskipun demikian, Kepala Badan Standarisasi Pengelolaan Pendidikan (BSPP) Yayasan Pelita Hidayah, Dr. Dhiah Saptorini, SE., M.Pd., mengungkapkan,  keterampilan siswa dalam mengeskplor kemampuannya dengan literasi digital tidak lantas melampuai batas. Sehingga komunikasi yang dibangun bersama orang lain mempunyai nilai-nilai faktual dan berbasis akhlak. 

"Karena frame kita Sekolah Akhlak, maka literasi yang kita bangun mengandung makna pemahaman dan pengetahuan pada siswa, yang kita kembangkan agar anak bisa mengenal perangkat digital, dan memanfaatkan sebagai kebutuhan," katanya kepada Malangpostonline.com. 
Selanjutnya, kata Rini, siswa harus bijak menyikapi sarana digital dalam kehidupan sosial. Sehingga tidak mengganggu kehidupan orang lain. "Karena akhlak terpotret pada kehidupan sosial. Bukan kehidupan pribadi. Meskipun bisa pakai gadget tapi tidak literat akhirnya akan mengganggu stabilitas hidup bermasyarakat," terang Rini, sapaan akrabnya. 

Menurutnya, penggunaan media sosial yang akrab di dunia digital saat ini, harus disesuaikan dengan usia seseorang. Misalnya Instagram, dan bahkan WhatsApp sekalipun. Yang idelanya baru bisa dipakai oleh anak usia 16 tahun. 

"Sekalipun pandai bermedsos tapi belum pada masanya, juga akan berpengaruh pada mental dan etika. Sebab kondisi emosional mereka secara usia belum cukup matang untuk mamahami dan menyikapi fenomena dan problematika di dunia maya," tuturnya. 

Aturan tersebut, kata Rini, bukan berarti melarang siswa untuk menikmati kemajuan teknologi. Tapi ada batasan yang perlu disadari oleh siswa. Maka penggunaan teknologi dibatasi untuk beberapa aplikasi saja, seperti email, yang penggunaannya tetap dalam pengawasan orang tua.

"Sarana digital hanya tools, maka jangan kejebak dengan benda ini. Batasan yang kami maksud pada cara memanfaatkan dan menyikapi. Sehingga konteksnya tetap pada akhlak," tegasnya. 

LITERATUR: Waktu senggang digunakan oleh siswa Sekolah Akhlak Pelita Hidayah SMP Plus Al-Kautsar untuk berliterasi untuk menambah wawasan mereka

 

Penanggungjawab Literasi Digital BSPP Yayasan Pelita Hidayah, Agus Wahyudi, S.Pd., M.Pd., mengatakan, kemajuan dunia digital yang salah diartikan oleh genarasi muda menjadi keprihatinan tersendiri. Seakan-akan penggunaan sarana digital ditonjolkan pada sisi kekininaanya saja. Tanpa mempertimbangkan pada nilai etika atau akhlak.  "Berangkat dari keprihatinan ini, maka sebelum memperdalam keterampilan digital, siswa perlu dibina lebih dulu dengan akhlak," katanya.  

Ia memaparkan, arah pembinaan akhlak dalam literasi digital di Sekolah Akhlak Pelita Hidayah, antara lain menyikapi informasi dengan bijaksana dan menyampaikan informasi dengan benar dan santun. Selain itu siswa mampu menggunakan sarana digital dengan bijak dan berarah pada penguatan karakter. 

Dengan demikian maka pengembangan literasi digital tidak menyimpang dari tujuan Sekolah Akhlak itu sendiri. "Saat ini kita sedang menggagas program literasi yang yang akan diimplementasikan di Sekolah Akhlak Pelita Hidayah. Konsep literasi digital yang akan dikembangkan dengan tiga basis. Yaitu berbasis kelas, berbasis budaya dan berbasis masyarakat," paparnya. (imm/adv)

 

PENTING! Baca Ini:

https://m.malangpostonline.com/bisnis/lowongan-kerja

https://m.malangpostonline.com/bisnis/iklan-baris

https://m.malangpostonline.com/bisnis/iklan-properti

Editor : imm
Uploader : slatem
Penulis : Imam W.
Fotografer : Imam W.

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU