Alana

  • 17-10-2019 / 00:57 WIB
  • Kategori:Cerpen
Alana ilustrasi: istimewa

Oleh : Lindaes

 

“Bagaimana lagi, aku sudah terlanjur menaruh harapan atas perhatianmu,” bisik Alana kepada pria yang ada di sampingnya.

Mata keduanya bertatap, tapi tidak ada sepatah katapun yang terucap. Mereka mendalami setiap kalimat, mengingat kembali kesalahan diawal perjumpaan itu.

Ruang kelas mulanya ricuh seketika lengang. Nampaknya puluhan mahasiswa terkesima dengan sosok laki-laki muda yang baru saja memasuki kelas mereka. Pemuda berambut rapi itu sengaja diutus dosen senior untuk menggantikan kegiatan perkuliahan.

Namanya Fajar Ramadhan, seorang dosen muda yang ketampanannya tidak seberapa namun aura wibawa langsung bisa dikenali sekali mata memandang. Tak butuh waktu lama untuk para mahasiswa itu akrab dengannya. Selain pembelajaran yang interaktif, banyak metode-metode baru yang diajarkan.

Satu bulan Pak Fajar, sapaan akrabnya mengisi kelas Bahasa Indonesia. Dosen muda berumur 28 tahun itu juga tidak membutuhkan waktu lama untuk menjadi teman bagi mahasiswa laki-laki di kelas tersebut. Salah satunya, Theo.

Kedekatan pak Fajar dengan Theo tidak hanya terbatas di ruangan kelas. Melainkan juga mereka kerap menghabiskan waktu untuk nongkrong di kota dingin ini. Sangking akrabnya Pak Fajar meminta Theo untuk membantunya menyelesaikan penelitian.

“Pak boleh saya mengajak beberapa teman lainnya?” tanya Theo.

“Iya, ajak saja, boleh kamu ajak tiga temenmu yang lain”

Tepat di tanggal 15 Juli, Theo mengajak tiga temannya untuk bertemu Pak Fajar dan membahas program penelitian yang nantinya akan dikerjakan selama satu bulan lamanya. Theo, Alana, Dion, dan Angga bersama-sama mendatangi rumah dosen muda itu.

Pak Fajar yang notabennya seorang dosen sangat ramah  menyambut kedatangan mereka berempat. Mempersilakan duduk dan mengicipi hidangan yang sudah disiapkan sebelum kedatangan para mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia itu.

“Loh ini yang paling cantik siapa namanya?” canda Pak Fajar kepada Alana.

“Alana”

“Dari kelas apa kok ndak pernah kelihatan”

“Kelas C saya pak”

Selanjutnya mereka membahas beberapa program yang akan dikerjakan serta membagi tugas dan tanggungjawab masing-masing ke depannya. Tiga jam berlalu, keempat mahasiswa tersebut lantas berpamitan kepada Pak Fajar.

“Alana, kamu ndak pakai jaket, dingin banget lo, nanti kamu masuk angin”

“Tidak papa pak, rumah saya dekat kok”

“Ambil jaket saya di dalam, jangan sampai gak pakai jaket, nanti masuk angin, udaranya dingin banget sekarang”

“Cieee cieee Pak Fajar, Ingat usia pak,” sahut Theo, Dion, dan Angga kompak.

Alana pulang dengan mengenakan jaket dari Pak Fajar. Secara pribadi Gadis berusia 22 tahun itu mengirim chat kepada pak Fajar, mengucapkan terima kasih telah dipinjami jaket.

“Kapan saya bisa mengembalikan jaket Pak Fajar?” sambung Alana.

“Kapan-kapan, dibawa saja dulu”

“Saya jadi sungkan pak”

Sejak saat itulah kedekatan Alana dengan Pak Fajar kian menjadi. Perbincangan yang awalnya dari murid ke gurunya ini berubah menjadi percakapan tak biasa. Panggilan pak kini berubah menjadi mas, dan panggilan Alana pun berubah menjadi dek.

Tanpa sepengetahuan siapapun Alana dan Fajar menjadwalkan sebuah pertemuan. Mereka bertemu di sebuah restoran fried chicken yang buka 24 jam. Pertemuan keduanya berjalan mesra, tidak ada sekat. Bahkan layaknya muda-mudi sedang dimabuk kepayang.

Fajar yang sudah mulai lupa daratan dan Alana yang sedang mencari cinta keduanya kembali bertemu lima hari setelahnya. Mereka bertemu di sebuah café elit kota dingin. Keduanya sangat asyik berbincang  banyak hal.

Lelaki berambut rapi dengan lesung di pipi kirinya itu menggeser tempat duduknya ke samping Alana. Merangkul pundak Alana dan memegang tangan kanan Alana.

“Apa kamu nyaman sama aku?”

“Iya mas,” sahut Alana singkat.

“Bagaimana jika aku jatuh cinta sama kamu?”

“Tidak apa-apa, tapi bukannya mas sudah punya istri?” tanya Alana sedikit gugup.

“Iya benar, istriku baru saja melahirkan anak pertama kami dan sekarang dia ada di Bandung untuk waktu yang cukup lama” dosen muda itu mencoba meyakinkan Alana.

Keduanya tidak lagi saling menghubungi. Namun dua hari setelahnya mereka kembali dipertemukan saat rapat lanjutan progress penelitian. Perhatian demi perhatian Fajar menghujam Alana, meski hanya mengambilkan susu kotak, membelikan makan dan dan beberapa hal kecil lainnya.

Alana yang sedang mencari jati diri itu tak kuasa menghentikan curahan kasih sayang Fajar. Hati kasmaran keduanya justru membuat mereka semakin intens, tak terpisahkan bagaikan perangko.

“Bagaimana lagi, aku sudah terlanjur menaruh harapan atas perhatianmu dan aku telah jatuh cinta,” bisik Alana kepada pria yang ada di sampingnya.

Jadwal pertemuaan mereka semakin tak beraturan, berangkat malam pulang siang dengan intensitas waktu yang bisa dipastikan setiap satu minggu sekali.

“Alana, nanti pagi aku ke rumahmu ya,” tulis Theo melalui pesan whatsapp.

“Aku lagi di tempat temenku”

“Temenmu yang mana?”

“Ada temenku”

Melihat gelagat Alana yang tidak seperti biasanya, Theo merasa ada yang aneh dengan sahabatnya itu. Tidak hanya sekali atau dua kali, melainkan setiap Jumat ketika ingin mampir perempuan ayu yang sudah dijadikan sahabatnya sejak semester pertama itu selalu menolak dengan alasan serupa. Padahal ia hanya ingin main sembari menunggu jam kuliah berikutnya.

Theo berinisiatif mendatangi rumah Pak Fajar tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Ia terkejut mendapati sepeda motor Alana terparkir di halaman rumah dosen muda itu. ia memutuskan untuk mengurungkan niatnya mampir, tetapi hanya menunggu di warung tak jauh dari kediaman Pak Fajar.

Alangkah terkejutnya Theo mendapati Alana keluar dari rumah itu, lalu berpamitan dengan Pak Fajar. Ia dibuat shock dengan adegan yang baru saja dilihatnya.

“Apa-apaan mereka, buat apa cium tangan dan cium kening,”

Ia hanya kesal sendiri. Tanpa ada niat sedikitpun untuk memergoki perilaku melenceng sahabat dan dosennya itu, Theo memutuskan akan mengintai apa saja yang dilakukan mereka di minggu berikutnya.

“Alana malam ini ngopi yuk, bareng-bareng sama temen-temen” ajak Theo melalui sambungan telepon.

“mmmm temenku lagi sakit, aku diminta ke sana untuk menemaninya” jawab Alana.

Tak menunggu lama Theo mendatangi warung kopi tak jauh dari rumah Pak Fajar. Selang 20 menit, mobil Pak Fajar datang. Mata Theo terbelalak melihat Alana keluar dari mobil berwarna hitam itu.

Namun Theo tak ingin gegebah dan perprasangka buruk dini, ia kembali memutuskan untuk menunggu. Jam 01.15 dini hari, mobil itu tak kunjung keluar, pun dengan Alana juga masih berada di rumah Pak Fajar.

“Mas, kami sudah mau tutup,” tegur pemilik warung.

“Baik pak, maaf ya pak tidak pulang-pulang”

Theo pulang dengan perasaan gelisah. Merasa iba dengan keputusan Alana yang hanya mengedepankan perasaan tanpa peduli bagaimana istri dan anak Pak Fajar jika mengetahui perbuatan suaminya.

Keesokannya, Theo kembali mendatangi kediaman Pak Fajar. Kali ini tidak ada lagi kesabaran. Ia datang dengan amarah meluap-luap. Ia mencoba mengirim pesan ke Pak Fajar tetapi tidak ada balasan.

Tak hilang akal, ia menelpon nomor Pak Fajar berulang kali dan sebanyak itulah handphone bernada dering ayam berkokok berbunyi. Theo juga berulang kali menelpon Alana, berharap ia mengangkat tapi ternyata keduanya bungkam.

“Pak Fajar, terserah bapak selama apa diam di dalam rumah, selama itu pula saya akan menunggunya di depan pintu”

Satu jam kemudian Pak Fajar keluar. Menemui Theo dan memintanya segara pulang.

“Pulang Theo, apa yang kau cari tidak ada di sini”

Theo tak menuruti perkataan dosennya itu. Ia lantas merangsek masuk ke dalam rumah. Mencari Alana di setiap sudut. Didapatinya sahabatnya itu berdiri sembunyi di balik pintu dapur. Diraihnya tubuh Alana yang terdiam kaku.

Theo bersimpuh dihadapan Alana,. Menangis histeris. Ia sangat menyesal mengajak Alana di dalam progres penelitian dari Pak Fajar. Seandainya ia tak mengajaknya mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.

“Aku menyesal mengajakmu Alana, tapi apa yang kami fikirkan, dari awal aku sudah mengatakan kepadamu kalau Pak Fajar sudah memiliki istri dan juga seorang anak yang masih bayi”

“Dimana letak otakmu itu Alana, dimanaa!!!!”

“Apa kamu sehina ini merampas kebahagiaan orang lain”

“Tapi istrinya tidak tahu Theo, dia tidak di sini” sahut Alana dengan entengnya.

Pak Fajar sedari tadi hanya menyaksikan Theo dan Alana. Mengambil waktu yang tepat untuk berbicara. Setalah beberapa saat ruang utama itu lengang, Pak Fajar meminta Theo untuk duduk membicarakan masalah tersebut secara baik-baik agar tidak sampai didengar tetangga.

Berulang kali Pak Fajar membujuk Theo untuk memahami keadaannya. Meminta menyembunyikan perselingkuhannya kepada siapapun.

“Kamu tidak lebih dari seorang bajingan,” tunjuk Theo tepat di hadapan Pak Fajar.

“Dan kamu Alana, semoga kamu tahu jalan kegelapan apa yang sedang kau pilih,” sambungnya sembari beranjak meninggalkan rumah bercat abu-abu itu.

 

TAMAT

(*/Malangpostonline.com)

Editor : bua
Uploader : slatem
Penulis : lin
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU