Menjaring Matahari

  • 10-11-2019 / 03:55 WIB
  • Kategori:Cerpen
Menjaring Matahari Ilustrasi: istimewa

Cerpen Oleh: Ledy Triananda

Senja ini begitu memukau rupanya, sinar mentari yang menghiasi Desa Segea, Maluku Utara. Capung yang terbang bebas di mega semesta, menari tarian bidadari jelita, dan menyanyi senandung simfoni milik ratu senja. 

Telah tampak, kabut alam yang melekat pada langit yang berhasil berubah menjadi jingga. Kini aku, Puri, Dian, Beta, Garuda, Mukhlis, Jundi dan Suryo sedang duduk di atas Pohon Akasia, pohon impian kami. 

Untung-untung melepas lelah karena seharian penuh kami telah bekerja keras mencari uang. Mukhlis yang setiap harinya membawa gerobaknya, bekerja memungut sampah, Beta dan Garuda yang masih membawa gambus dan harmonikanya, mengamen di setiap tempat, dan sedangkan aku, Puri, Dian, Jundi, dan Suryo berjualan koran di jalanan. 

Tetapi, dengan terbatasnya kehidupan ekonomi kami, aku dan ketujuh sahabatku masih dapat bersekolah. Membangun mimpi. Kami selalu bersama, jua membangun persahabatan yang akan terpahat selamanya di benakku, menembus kalbu sedalam karya Tuhan yang tak pernah semu. Kami memandang takjub betapa sang raja senja akan dilahap masuk menuju gua bibir misteri. Terdiam, terpana merasuk raga.

“Indahnya!” kata Garuda. Kami hanya menjawab dengan senyuman.
“Jika kau punya kesempatan, apa yang kau inginkan dari matahari?” Tanya Mukhlis. Kami memandang keheranan.

“Ah, kalau inyong! Hm, inyong bakal tangkap.” Jawab Suryo dengan cibiran dan logat Tegalnya yang masih kental.

“Tak usah 200 km, 400 km saja mungkin kau sudah terbakar menjadi abu, Yo!” ledek Dian tertawa, “Hei, Erna! Kalau kau apa yang kau inginkan?” lanjut Dian memukul pundakku.

“Aku? Hahaha… Aku saja tak tahu apa yang akan aku lakukan. Coba sajalah kau tanya Mukhlis. Ia yang bertanya bukan?” jawabku seadanya.

“Aku, akan menjaring matahari,” kata Muklis, “Matahari itu besar, hidupnya sakral pula, hanya Tuhan yang dapat memelihara tempat terbitnya dan tempat terbenamnya. Hingga suatu saat Tuhan sendiri yang perintahkan ia terbenam di angan cakrawala untuk selamanya.” Ungkapnya.

“Itu mimpi kau?” Mata Puri membelalak lebar. Mukhlis hanya mengangguk.
“Apa kau yakin dengan semua yang ingin kau lakukan ini?” timpal Jundi.

“Tentu saja! Aku dan kau semua akan menjaring sebuah impian besar! Ya, merangkak membasmi kegelapan, kebodohan, dan kesengsaraan. Bersama!” kata Muklis.

“Bersama!” jawab kami serempak. Tak lagi untuk masa depan kami, aku dan ketujuh sahabatku akan mengejarnya, generasi kamilah yang akan membuat Negeri kami berubah lebih berarti. Senja yang kami lewati dengan bersenda gurau, tertawa bahagia, dan menghabiskan waktu bersama telah berubah menjadi gulita. Malam menjemput kami. Bergantinya mentari menjadi dewi purnama dan permadani bintang tak membuat kami putus untuk menjaring impian kami. Kami memutuskan untuk pulang ke panti asuhan.

Pada dasarnya, kami terlahir dengan nasib yang sama. Yatim piatu. Kami tinggal di panti asuhan milik Bu Kades, kami disediakan tempat tidur yang buat kami itu sudah cukup layak, serta makanan yang cukup untuk setiap harinya. 

Masalah untuk membayar biaya pembayaran sekolah, kami menggunakan uang hasil bekerja keras kami selama ini, kami tidak ingin merepotkan Ibu Kades dan Bapak Kades karena terbatasnya krisis keuangan beliau. Seringlah kami membayarnya terlambat. Padahal, kalau di lihat sekilas mata, sekolah kami terbangun dari gubuk yang tak layak, memang tak akan kokoh. Namun, tekad dan perjuangan kami yang akan membuat sekolah kami kokoh dengan jasa wibawanya.

Saat tengah di jalan, aku dan ketujuh sabahatku bercerita tak henti-hentinya. Tiba-tiba yang membuatku terkejut adalah saat Mukhlis hendak menyebrang. Entah bagaimana kejadiannya, truk yang melaju kencang dari arah yang sama menabrak Mukhlis. Ia terpental jauh dari jalan. Tergeletak tak berdaya. 

Gerobak sampahnya sedikit remuk. Truk yang baru saja menabrak Mukhlis kabur begitu saja. Kami semua segera mendatangi Mukhlis yang tak sadarkan diri.
“Tolong, tolong, tolong!!!” teriak Beta. Tetap saja! Tak ada bantuan yang datang.
“Mukhlis…” panggilku sambil mengoyak tubuh Mukhlis.

“Percuma! Kau memanggil Mukhlis seribu kali ia takkan mendengarnya.” Bentak Jundi. Aku tertunduk lemah, ‘Tolong!!!” teriak Jundi lebih keras menoleh ke kanan dan ke kiri melihat sekitar.

“Daripada membuang waktu lebih lama, kita angkut saja Mukhlis ke dalam gerobaknya!” ujar Puri. Aku sedikit tak percaya akan mengangkut Mukhlis ke dalam gerobak. Sebenarnya, tidak tega menidurkan Mukhlis di atas gerobak bekas angkutan sampah yang bau. Tapi tak apalah, kami tak punya pilihan lain. 

Akhirnya kami menjunjung badan Mukhlis agar dapat masuk gerobak dan kami akan mendorongnya. Kami hanya mendorong dengan perasaan yang amat membuat kami khawatir. Hingga beberapa menit kemudian kami tiba di depan pintu puskesmas. Dari dalam puskesmas, keluarlah empat perawat laki-laki menuju kami. Empat perawat tersebut menghampiri kami dan mengangkut Mukhlis di kasur darurat. 

Mukhlis dibawa menuju ruang inap. Lelaki memakai baju putih dan stetoskop yang dikalungkan di lehernya masuk untuk memeriksa kondisi Mukhlis. Sesaat, dokter itu keluar dari ruangan di mana Mukhlis akan dirawat.

“Teman kau masih dapat diselamatkan. Sayangnya, benturan di kepalanya yang sangat parah membuat ia belum sadarkan diri.” Jelas dokter.

Kami gelisah mendengar apa yang dikatakan dokter baru saja. Kami memandang satu sama lain. Semua terasa hambar. Belum lagi kami harus menyelesaikan administrasi permbayaran penginapan Mukhlis. Untuk hari ini, kami tahu Tuhan telah mengirim cobaan yang berat yang harus kami pikul. Malam ini kami temani Mukhlis bersama-sama, walau tertidur di atas lantai tanpa alas melawan dingin.

Pagi ini kami terbangun. Melihat Mukhlis yang masih belum sadar, wajahnya pun pucat sekali, perban yang membalut jidatnya membuat kami semakin tak kuat menahan tetes air mata yang terbendung di bawah kelopak mata. Terngiang, kami belum juga melunasi administrasi penginapan Mukhlis, lagi-lagi kami memandang Mukhlis dengan pandangan kosong.

“Hari ini kita bekerja!” seruku.
“Untuk apa? Kita temani saja Mukhlis di sini. Kasihanlah dia!” elak Beta.
“Untuk apa, untuk apa? Ya untuk Mukhlis. Kalau kita tidak bekerja. Bayar apa kita nanti?!” Ujar Suryo menjauh dari gerombolan kami pasrah untuk duduk sendiri.

“Sudah kutanya kemarin bersama Garuda, semua biaya 50.000 ribu.” Sahut Puri. Kami ternganga dengan uang sebanyak itu. Tak pernah kami mendapatkan uang sebanyak itu. Akhirnya, aku dan teman-temanku ke luar area puskesmas. 

Mulai bekerja mencari uang. Kami membagi pekerjaan kami. Aku, Dian, dan Puri menjalankan pekerjaan Mukhlis, mengangkut sampah yang nantinya akan kami setorkan kejuragan rongsokan nanti. Suryo dan Beta berjualan koran di pinggir jalan. Garuda dan Jundi mengamen di setiap sudut tempat. Keringat yang meluap dari kening, karena sinar terik matahari tak lagi kami hiraukan. Kami hanya bekerja bekerja, dan bekerja. Hingga haripun mulai gelap. Aku, Dian, dan Puri sepakat akan kembali ke puskesmas untuk menunggu Jundi, Beta, Garuda, dan Suryo. Kami berjalan menuju puskesmas. Kudapati Jundi, Beta dan Suryo telah menungguku.

“Dapat uang berapa kau?” tanya Jundi. Aku mendekat dan menyerahkan uang sebesar 25.000 ribu.
“Kita berhasil!” Beta berteriak riang.
“Kami juga mendapat uang 30.000 ribu! Sisanya nanti kita buat makan bersama saja!” ujar Suryo. 

Aku hanya mengangguk mantap. Kami segera menuju staff administrasi untuk membayar uang biaya penginapan Mukhlis. Lega rasanya, tak ada beban lagi. Saling membantu teman kami, teman yang menjadi keluarga kami. Malam ini kami temani lagi Mukhlis. Hingga kami tertidur lelap ditemani rembulan emas.

Jarum jam telah menunjukkan pukul 6 pagi. Saat aku terbangun, ku lihat jemari Mukhlis bergerak. Ia terbangun perlahan, menggelengkan kepalanya. Aku bangunkan sahabat-sahabatku yang masih terlelap terbuai oleh malam. Ya, Mukhlis telah sadar.

“Kau semua tidur di sini?” tanya Mukhlis lemah.
“Ya,” jawab Beta datar.
“Ah…” Mukhlis mendesah, ia berusaha terbangun dari tempat tidurnya, “Hei, kawan! Berapa hari aku terbaring di sini? Sampai-sampai kakiku kaku tak dapat di gerakkan!” Mukhlis mengernyitkan dahinya, dan menatap kakinya. 

Kami hanya memandang bingung. Dian segera keluar untuk memanggil dokter yang selama 2 hari ini selalu memeriksa Mukhlis. Mereka berdua datang bersamaan.
“Hei, sudah sadarkan diri kau,” kata dokter, “Kau boleh pulang, kalau kau sudah tidak pusing dan sehat. Apa sudah tak pusing?” tanya dokter sambil memeriksa detak jantung Mukhlis.

“Hanya sedikit, dok!” jawab Muhklis, “Dok, mengapa kaki saya tak dapat di gerakkan?” tanya Mukhlis. Dokter tersebut terdiam, beliau menghembuskan nafasnya.
“Kau lumpuh nak. Maafkan aku, aku tak beri tahu teman kau. Fasilitas puskesmas kami tidak memadai, hingga kau lumpuh seperti ini.” Kata dokter. Kami menangis, menjerit tak bersuara. Mencengkram, mencabik hati pula. Kami hanya pasrah tak kuasa menahan derita.

Sinar surya telah menjemput kami, kami segera menggendong Mukhlis, dan mendudukkannya di atas kursi roda yang sudah disiapkan perawat puskesmas. Kami keluar puskesmas dengan perasaan yang sama. 

Musibah yang dialami Mukhlis membuat kami terpukul. Kali ini, kami tak akan lagi duduk di atas Pohon Akasia, pohon impian kami untuk melambaikan tangan ke arah matahari senja yang setiap sore akan hilang. 

Kini, kami hanya dapat duduk di antara ilalang-ilalang yang menjulang tinggi pada wajarnya. Dengan kejadian yang kami terima, tak menjadikan semangat kami pudar. Aku, Mukhlis, Suryo, Garuda, Jundi, Puri, Beta, dan Dian masih tetap meneruskan impian dan keinginan kami, kami akan menerjang kegelapan, kebodohan, dan kesengsaraan. Bersama. Dengan fokus terhadap pelajaran sekolah kami, kami akan mewujudkan semua. 

Kami akan menjaring matahari. Dan padamu matahari, salam sajak pagi sang pelangi sejati dari sahabat tercintaku yang masih ada dalam dekap cinta menyayat luka, Mukhlis. Dan perlu kalian tahu, semua ini akan mengalir begitu saja.

(TAMAT)

(Ledy Triananda/cerpenmu/malangpostonline.com)
 

Editor : bua
Uploader : slatem
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU