Randu Alas, Sang Penjaga Mata Air

  • 16-11-2019 / 15:02 WIB
  • Kategori:Cerpen
Randu Alas, Sang Penjaga Mata Air

Cerpen Oleh: Dimas Yuli Rakasiwi

 

Di bawah sana mengalir jernih sumber kehidupan kami. Sebuah pohon randu alas besar penjaganya. Orang-orang di desaku percaya bahwa randu alas itu dihuni oleh wewe gombel. Hantu penculik anak yang suka ngumpetin anak-anak kecil di ketiaknya. Zaman dahulu jika ada anak kecil yang bermain di luar rumah menjelang surup maka ia akan digondol wewe gombel dan disembunyikan di atas pohon besar. Satu-satunya pohon terbesar di desaku ya pohon randu alas itu.

Rumahku berada di seberang pohon randu alas itu. Sebuah rumah sederhana yang dikelilingi bermacam-macam jenis tanaman. Tidak ada tetangga di samping kanan dan kiriku. Hanya hamparan sawah dan kebun. Sebagian dari sawah itu adalah milik bapakku yang sekarang diwariskan padaku. Dan di tanah itulah tumbuh randu alas ratusan tahun yang lalu.

Sejak Taman Safari di bangun di Prigen, sudah puluhan orang yang datang kepadaku untuk membeli tanah ini. Untuk dijadikan villa katanya. Tapi aku tak berniat untuk menjualnya. Aku terus teringat kata Bapakku dulu " Ojok sampek diketok wit randu alas iku. Ciloko... Bakale ciloko... ."

Kata-kata Bapak terus terngiang di ingatanku. Mungkin benar kami akan celaka jika menebang pohon besar itu. Bukan karena tahayul tentang roh halus penghuninya akan marah jika pohon itu ditebang, tapi betul jika randu alas ditebang kemungkinan sumber air di desaku akan berkurang.

Randu alas termasuk salah satu jenis tanaman pelindung mata air. Ada 15 jenis pohon yang dipercaya termasuk jenis itu diantaranya pohon aren, gayam, kedawung, trembesi, beringin, elo, preh, bulu, benda, kepuh, jambu alas, bambu, dan picung.

Penanaman pohon sebagai salah satu upaya untuk perlindungan dan pelestarian mata air memiliki tujuan untuk melindungi titik mata air. Kegiatan ini disebut juga springshed protection . Istilah itu aku kenal ketika aku mengikuti seminar lingkungan hidup zaman kuliah dulu.

Aku sendiri sebenarnya bukan berasal dari jurusan pertanian, tapi bercocok tanam sudah jadi nadi kehidupanku sejak lahir. Aku adalah seorang guru di sebuah SD swasta. Pagi sampai siang hari aku di sekolah. Sore hari pergi ke sawah atau ke kebun.

Sudah 8 tahun ini aku menanam berbagai bibit tanaman di pekarangan. Berbagai bibit tanaman buah utamanya. Sebagian ada yang sengaja kubeli. Sebagian lagi dari hasil ndeder dan mencangkok atau stek.

"Buat apa sih Pak nanam pohon terus? ," suara renyah si kecil Ahmad memecah lamunanku.

"Biar rumah Ahmad sejuk."

"Kata Bu Guru hutan yang banyak pohonnya itu paru-paru dunia. Maksudnya apa Pak?," anakku Ahmad yang baru duduk di kelas satu SD ini selalu penasaran.

"Di hutan yang banyak pohonnya udara yang buruk diserap diganti udara yang baik. Pohon-pohon di hutan itu menghasilkan gas yang namanya oksigen, " aku mencoba menerangkan dengan bahasa yang mudah dimengerti anak-anak.

"Lah oksigen itu apa Pak, " tanyanya lagi.

"Oksigen itu adalah udara bersih yang kita butuhkan untuk bernapas," kadang menjelaskan sesuatu pada anak-anak itu tidak perlu dengan bahasa ilmiah. "Coba sekarang kamu tarik napas. Gimana rasanya?."

"Sejuk. "

"Nah itu kalau udaranya bersih rasanya sejuk. Itu karena di rumah kita banyak pohon. "

"Iya sejuk dan wangi daun..., " wangi daun??? Si kecil ini memang lucu. Tapi juga cerdas.

Memang ada pohon yang wangi daunnya begitu khas. Sebut saja pohon jeruk. Sama seperti buahnya, daunnya juga mengeluarkan aroma yang segar. Kalau kita ciumdaun mangga kitapun akan merasa seperti sedang mencium aroma buahnya. Aku menyebut aroma-aroma itu wangi alam.

Pohon-pohon itu selain memberikan udara yang bersih. Daun, bunga, buah, bahkan rantingnya yang telah kering dan berjatuhan pun memberikan manfaat. Salah satu pohon favoritku adalah pohon kopi. Setiap bulan Mei sampai September adalah waktunya pohon kopi berbuah dan siap panen. Dan sebelum buah-buah itu bermunculan ada ratusan kuntum bunga berwarna putih yang begitu semerbak memenuhi udara.

Aku tak pernah jemu untuk selalu menunggu musim kopi berikutnya untuk menikmati wangi bunganya sekaligus menikmati memanen kopi yang telah matang di pohonnya. Warna merah tua menandakan kopi telah siap untuk dipetik. Setiap kali memetik aku selalu tergoda untuk mencicip buah kopi-kopi itu. Daging buahnya memang tipis dan hampir tak terlihat dengan jelas, namun ada rasa manis yang tak mungkin bisa kita temui pada buah yang lain. Makan buah kopi hanya diemut, setelah itu bijinya kita kumpulkan. Jangan dibuang, karena biji itulah yang akan kita olah.

Mengolah kopi tergolong cukup mudah. Tinggal kita tumbuk kopi sampai kulitnya terlepas saja. Jemur kopi sampai kering. Setelah kering ayak atau pisahkan biji kopi dari kulitnya. Nah, kopi yang sudah diayak bisa langsung kita goreng di penanangan. Penanangan adalah alat untuk menyangrai yang berasal dari tanah liat. Setelah biji kopi matang, tandanya berwarna kehitaman. Kopi lantas kita tumbuk sampai halus. Nah kopi robusta hasil dari kebun sendiri siap diseduh dan dinikmati. Sebagai wong ndeso aku sudah terbiasa untuk bisa mengolah apa saja yang ada di sekitar dengan cara tradisional.

*

Sore itu aku duduk-duduk di teras rumahku sambil menikmati suasana. Kuperhatikan pohon klampok putih di samping rumahku tampaknya sudah mulai berbuah. Senang rasanya melihat tanaman yang telah kita tanam memamerkan buahnya. Ada rasa bangga, saat jerih payah kita membuahkan hasil. Kuseruput kopiku sekali lagi, kemudian kuambil sepotong pohong goreng.

"Assalamualaikum, " dari kejauhan tampak Sanadi masuk ke pelataran rumah. Sanadi adalah saudara sepupuku.

"Waalaikum salam. "

"Monggo, " aku mempersilahkannya untuk duduk.

"Sri, ada Kang Di. Tolong buatkan kopi," aku memanggil istriku yang ada di samping rumah.

"Iya, sebentar. "

"Monggo pohong goreng, mbedol di belakang rumah, " Sanadi mencomot dan memakan sepotong.

"Kiranya ada perlu apa Kang Sanadi ke sini?, " aku memulai omongan lagi.

"Begini, soal randu alas di kebunmu. Apa kiranya kamu tak tertarik untuk menjualnya?."

"Menjual???. "

"Iya. Toh kayu randu alas dipelihara tak ada gunanya juga, " Sanadi kembali bersuara. "Mending kamu jual kayunya, lumayan bisa jadi duit. "

"Aku tidak tertarik untuk menjual pohon randu itu Kang. Aku masih menjaga amanat Bapak untuk tidak memotong pohon itu, apalagi untuk dijual. Bisa ciloko Kang," aku kembali menegaskan.

"Akhhh.... Kau ini madih percaya legenda wewe gombel yang diceritakan orang-orang tua itu ya, " Sunadi berdecak heran.

"Tidak Kang, aku rasa orang tua dulu itu ada benarnya. "

"Maksudmu kamu percaya kalau wewe gombel itu ada??!!, " Sanadi melotot.

"Kang, di bawah pohon randu alas itu kan ada sumber air. Kalau seandainya kayu itu ditebang bukankah kita akan menghilangkan sumber air itu, " aku mencoba menjelaskan.

"Susah ya ngomong sama kamu ini. Sarjana kok masih mikir tahayul semacam itu. Ya sudahlah kalau tak mau jual wit randu alasnya. Mending kamu jual rumahmu ini. Kan lumayan bisa kamu pakai beli mobil. Aku punya kenalan yang tertarik membeli rumahmu ini. "

"Matur nuwun sebelumnya tapi aku tidak tertarik untuk menjual rumah ini. "

"Susah ya ngomong sama kamu, ditawari rejeki kok gak mau. Ya sudah aku pulang dulu. Pikirkan baik-baik siapa tahu besok kamu berubah pikiran. Untuk apa merawat pohon-pohon yang tidak berguna terus," aku terus mengelus dada melihat kelakuan Kang Sanadi.

Ternyata begitu sulit untuk membelokkan pikiran orang dari uang. Niatku itu baik. Seandainya aku serakah pasti sudah kujual rumah dan tanah-tanah ini untuk dijadikan villa pastinya akan kukantongi uang ratusan juta atau bahkan miliaran.

Tapi tidak rumah dan tanah ini adalah peninggalan Bapak yang harus kujaga, terlebih pohon randu alas itu. Sampai kapanpun aku tidak akan menebangnya. Aku tahu suatu saat pohon itu akan menua dan lapuk atau bahkan mati. Tapi sebelum itu terjadi aku sudah menanam pohon-pohon pengganti di sekitar pohon randu itu.

Sumber air yang bersih sudah jarang kita temui di negara kita. Apalagi ketika musim kemarau panjang melanda. Di Pasuruan sendiri, terutama di sekitar tempat tinggalku. Sumber mata air di kawasan Gunung Arjuna-Welirang terus menyusut akibat seringnya terjadi kebakaran hutan.

Sementara proses rehabilitasi dan reboisasi hutan yang rusak belum bisa dilakukan secara maksimal. Dari 11 titik sumber mata air di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soerjo dan perhutani bagian Pasuruan, hanya lima mata air yang memiliki debit air yang besar. Lima sumber mata air itu antara lain, mata air Gumandar, mata air Kuning, mata air Krokopan, Precet, dan Alap-alap. Mata air Gumandar yang menjadi sumber air terbesar kecamatan kami, Prigen Jawa Timur.

Kalau bukan kita, siapa lagi yang bisa menyelamatkan lingkungan dari kerusakan. Jika kita menjaga lingkungan pasti akan kita tuai manfaatnya. Tapi jika kita lalai, bencanalah yang akan datang. (*)

 

TAMAT

Prigen, 10 November 2019

(Dimas Yuli Rakasiwi/bua/Malangpostonline.com)

Editor : bua
Uploader : irawan
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU