Merindu di Langit yang Sama

  • 16-11-2019 / 21:11 WIB
  • Kategori:Cerpen
Merindu di Langit yang Sama

Cerpen oleh: Heni Aprilia Rahayu

 

All my bags are packed

I'm ready to go

I'm standing here outside yoor door

I hate to wake you up to say goodbye

But the dawn is breakin'

This early mornin'

The taxi waitin'

He's  blowin' his horn

Already I'm so lonesome I could cry

So kiss me and smile for me

Tell me that you wait for me

Hold me like you'll never let me go

Cause I'm leaving on a jet plane

Don't know wen I be back again

Oh babe I hate to go...

Lantunan suara Chantal Kreviazuk menemani penghujung malamku. Malam yang dingin dan gelap.  Saat semua orang terlelap dalam tidur masing-masing aku masih terjaga dengan mata lebar.  Menatap burah lampu Selecta yang lebih mirip matahari di antara kegelapan ini.  Wangi daun pinus merebak di udara.  Begitu kuat seperti juga rinduku padamu. 

Jam di dinding sudah menunjuk pukul 01.00 ketika aku masih duduk di studio kerjaku.  Jendela kaca besar membuat ruangan ini serasa menyatu dengan ladang pinus.  Di sinilah setiap harinya kuhabiskan waktu dengan melukis. Namaku Yulfi,  aku seorang pelukis muda yang sedang merintis karir. 

Aku adalah seorang pelukis realis.  Dari dulu aku sangat menyukai Barli Sasmitawinata.  Hebatnya seorang Barli Sasmitawinata ia tetap haus akan ilmu meskipun sudah memiliki ketenaran nama.  Meskipun kini beliau sudah tiada,  namun karyanya senantiasa menginspirasi. 

Salah satu lukisan Barli yang sangat kusuka berjudul 'D Pasar. ' Lukisan berukuran 40cmX30cm ini bergaya realisme,  abstrak,  dan ekspresionisme.  Sosok Barli begitu peka terhadap momen-momen kemanusiaan terutama pada masyarakat kecil.  Tampak dalam beberapa karyanya seperti 'Penjaga Ikan', 'Pencari Kayu Bakar', 'Dua Nenek Pengemis',  'Buruh Kasar',  'Petani', dan masih banyak lainnya. 

Aku punya galeri kecil-kecilan di salah satu sudut kota Batu.  Dyandra Gallery berisi lukisan yang telah kubuat dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.  Tak terlalu banyak sih baru tiga puluh karya.  Ada juga karya pertamaku.  Lukisan itu kubuat saat aku masih duduk di bangku SD.  Sebuah karya percobaan karena memang aku belum pernah melukis di kanvas sebelumnya.  Karya itu kuberi judul 'Gadis Pemulung'.

Alhamdulillah sejak berdiri tahun 2016 Dyandra Gallery ada saja pengunjung.  Meskipun satu dua orang dalam sehari,  aku masih cukup senang karena ada saja komunitas yang mengajak merger di beberapa event  pameran seni.  Ada juga yang memesan khusus untuk dibuatkan lukisan yang akan diadaptasi jadi cover sebuah buku.  Sebagai pelukis zaman now  aku rasa perlu terus mengembangkan diri.

Melukis dan berkebun dua hal itulah kegiatanku sehari-hari.  Awal sampai akhir pekan aku bekerja.  Tak terkecuali malam Minggu. Ketika muda mudi berbondong-bondong bermalam mingguan bersama kekasih.  Aku hanya bisa menikmati malming berteman kanvas.  Raihan kekasihku saat ini sedang menempuh studi S2 di Jakarta.  Karena jarak yang jauh ia hanya pulang saat libur semester tiba.  Alhasil long distance relationship  ini terpaksa kujalani. 

Sudah satu tahun. Aku berusaha meyakinkan diriku untuk tetap bertahan.  Seperti semua lukisanku, aku yakin ketika berani menghadapi kenyataan jiwa kita akan semakin kuat. Dan kenyataan LDR ini adalah kenyataan yang harus kuhadapi.

"Mbak Yul,  hari ini aku ijin pulang lebih awal ya, " suara Ratna asistenku memecah lamunanku.

"Ah,  iya kamu bilang apa tadi?. "

"Aduh mbak Yul nglamun aja sih,  tadi tuh aku bilang mau ijin pulang duluan, " Ratna yang gemas mencubit pipiku.

"Emangnya kamu mau kemana?. "

"Hari ini keluarganya mas Bimo mau ke rumah, " ungkap Ratna malu-malu.

"Kamu mau dilamar?. "

"Iya mbak,  tahu sendiri kan orang tua itu terlalu kolot.  Sebenarnya mereka melarang aku pacaran, " dalam hati aku pun mengiyakan kata-kata Ratna.

Nasibku juga sama,  kedua orang tuaku adalah orang yang saklek dalam hubungan muda-mudi.  Menurut orang tuaku pacaran itu tidak diperbolehkan,  kalau memang serius alangkah baiknya taaruf dan segera menikah.

"Kalau gitu kamu bisa langsung pulang."

"Thanks ya mbak Yul."

"Sama-sama."

Aku bersiap-siap menutup galeri ketika seorang pria berbadan tegap berjalan masuk.  Dari penampilannya yang rapi mungkin saja ia seorang pekerja kantoran.

"Ada yang bisa saya bantu?, " sapaku ramah.

"Saya ingin bertemu dengan pemilik galeri.  Apa bisa dipanggilkan?, " tak hanya wajahnya yang rupawan tutur kata laki-laki itu pun sangat lembut.

"Iya saya pemilik galeri ini."

"Kebetulan sekali, saya ingin memesan lukisan.  Kalau dari foto bisa gak?. "

"Tentu bisa Pak," jawabku bersemangat.

"Kira-kira berapa hari selesainya?. "

"Biasanya sih tiga hari sudah jadi. "

"Wah bisa secepat itu ya.  Kalau begitu ini fotonya mbak. "

"Oke saya terima.  Hari Rabu sore bisa diambil. "

"Rabu sore ya. Aku melirik sekilas foto yang ditinggalkan laki-laki itu.  Seorang ibu yang berjalan beriringan dengan seorang anak laki-laki.

"Eh tunggu Pak.  Lukisannya atas nama siapa?."

"Samudra, " ia menjawab sambil bergegas masuk ke mobil meninggalkan pelataran galeri.

Sepeninggal pria itu aku langsung menutup galeri dan pulang.  Sesampainya di rumah aku didambut wangi bunga sedap malam yang baru mekar,  anggun dan misterius.  Kuncup-kuncup mawar pun berbaris rapi bersiap untuk mekar esok pagi.

"Sudah pulang Ndok?. " suara renyah ibuku terdengar fari sudut ruang tengah.

"Iya bu, " aku mendekati ibuku dan mencium tangannya.

"Tumben jam segini sudah pulang?."

"Iya,  tadi Ratna ijin pulang duluan.  Jadi aku juga ikut pulang. "

"Memangnya Ratna kenapa?. "

"Tidak kenapa-kenapa.  Ratna mau lamaran. "

"Wah bagus itu. Harusnya kamu juga begitu,  ndak ada gunanya menunggu lelaki yang gak jelas itu. Lebih baik kamu terima lamaran Nak Riko,  atau Doni,  atau juga Bisma.  Mereka itu lelaki yang baik dan cocok untuk kamu.  Dan sudah jelas bibitnya.  Ibu kenal keluarganya dengan baik.  Nah si Raihan itu cuma anak tukang pecel, " ada nada meremehkan yang ditekankan ibuku saat menyebut tukang pecel. 

Memang ibu Raihan adalah penjual nasi pecel.  Ia tak punya fasilitas mewah seperti anak kolega-kolega ibuku.  Tapi Raihan punya semangat yang tinggi untuk terus maju menatap masa depan.  Dia adalah orang yang jujur dan pekerja keras.  Studi S2 ini pun ia dapat lewat jalur beasiswa.  Kesederhanaan karakternya inilah yang membuatku jatuh hati kepadanya.

*

"Kamu lagi ngapain sih? Balesnya lama banget. "

"Ngerjain proyek. "

"Proyek apa?. "

"Ngelukis dong. "

"Ouw... Gak kangen aku ta?."

"Gak sempat. "

"Ih... Jahat !!."

"Kamu lebih jahat lagi.  Kapan pulang ?."

"He... He... He... Aku lagi ngerjain tesis. "

Hanya video call yang bisa kami lakukan untuk sedikit mengurangi derita rindu.  Untungnya zaman sekarang teknologi begitu canggihnya, begitu jauh jarak memisahkan kita tetap bisa berbincang dengan menatap wajah masing-masing. Menonton video series di youtube adalah kegiatan bersama yang biasa kami lakukan.  Joka bosan kami biasanya main game online. 

Terkadang aku merasa seperti orang bodoh yang menunggu keajaiban jatuh dari langit. Begitu banyak waktu yang kuhabiskan untuk menapaki jalanan sepi.  Tanpa kekasih di sisi, ditambah lagi tekanan batin yang harus kuhadapi karena desakan orang tua untuk segera menikah.

"Mbak Yul,  ini ada titipan," Ratna mengulurkan sebuah kotak yang dibungkus kertas emas dan pita merah.

"Apa ini?. "

"Ndak tau mbak, ini dari costumer yang kemarin lusa pesan lukisan itu loh.  Si Mas Ganteng. "

Oh..... ," aku berlalu sambil membawa kotak itu. Sesampainya di ruanganku kotak itu kubuka. Sebuah gaun biru cantik nan anggun dan sebuah kartu ucapan.

Ini  ucapan terima kasih dari ibuku

Aku tidak mengerti maksud hadiah ini.  Bukannya dia sudah membayar untuk lukisan yang dia pesan. Aku pun berniat mengembalikan hadiah itu,  tapi aku bingung mau kembalikan ke mana.  Kan aku tidak tau alamatnya.

Tak berhenti di situ,  keesokan harinya aku pun menerima kiriman karangan bunga dari orang yang sama.  Aku senang saja mendapat hadiah. Tapi ini hadiah dari orang yang tidak kukenal. Rasanya aneh.

"Cie... Cie.. Mbak Yulfi punya penggemar, " goda Ratna.

"Penggemar apaan? Hush kamu jangan ngaco dech. "

"Bukan penggemar gimana wong ngirimnya bunga mawar merah."

"Ya terserah kamu dech.  Kamu jaga galeri.  Aku mau jalan-jalan sebentar. "

"Jalan-jalan apa ketemuan?, " goda Ratna.

"Hushhh... Makin ngaco aja kamu. "

Waktu menunjukkan pukul tujuh tiga puluh malam ketika scooby kuparkir di alun-alun Batu.  Setelah berjalan-jalan sebentar aku mampir ke pos ketan. Pengunjung sangat ramai,  namun untungnya masih ada tempat kosong. Aku memutuskan untuk memesan KPDK (Ketan pc Durian+Keju Susu Vanila) ditemani dengan wedang legenda. 

Puas jajan, aku pun duduk sebentar di alun-alun. Suasana sangat ramai sekalipun malam hari dan udara dingin.  Suasana makin semarak oleh air mancur,  lampion-lampion beraneka bentuk, tak ketinggalan bianglala yang menampilkan permainan cahaya yang membius mata.

Pos ketan dan alun-alun adalah tempat yang sering aku dan Raihan kunjungi. Sekarang saat dia tak di sini aku masih setia ke Pos Ketan Legenda untuk sekedar mengisi perut atau sekedar mencari inspirasi. 

"Kamu gak kangen KCM?, " godaku di sebuah foto selfie yang kukirim padanya. KCM (Ketan+Susu Misis Kacang) adalah menu ketan favorit Raihan.

"Kangeeennn, " balasnya sambil menunjukkan foto selfinya yang sedang ngopi di kamar kosnya. 

Kangen adalah ungkapan kata yang berasal dari rindu yang sudah tak terbendung.  Tinggal sedikit lagi perjuangan ini. Ya, tiga bulan lagi Raihan akan menyelesaikan studinya.  Aku tetus mendoakan agar tesisnya lancar sehingga dia bisa cepat yudisium dan wisuda.  Sampai saat itu tiba aku harus tetap bertahan.

Dari alun-alun aku langsung meluncur pulang.  Sesampai di depan pintu aku mengeluarkan kunci dari dalam tas. Aku berpikir jam segini orang rumah pasti sudah tidur. Tapi loh pintunya kok gak dikunci.  Apa Ibu dan Bapak belum tidur?  Pelan-pelan kubuka pintu.

"Eh kamu sudah pulang Yul?," sapa Ibuku.

"I... I.. Ya..., " sontak saja aku kehilangan kata-kata ketika tahu di ruangan itu tak hanya Bapak dan Ibuku saja. Ada dua orang lainnya. Satu Ibu-ibu dan satunya lagi aku rasanya familiar dengan laki-laki ini.

"Tunggu apa lagi ayo cepat kesini!!," lagi-lagi suara Ibu memecah lamunanku.

"Sini duduk dulu! Yulfi,  Bu Kirana dan Nak Samudra datang kesini sengaja untuk bertemu dengan kamu."

"Ada apa? Bukannya pesanan lukisan sudah beres?."

"Nak Yulfi,  Ibu datang kesini membawa niat baik, " wanita yang tak kutahu namanya itu pun angkat suara.

"Ibu ingin melamar kamu untuk putra Ibu satu-satunya,  Samudra, " what's melamar??? Kenal aja enggak main asal lamar aja.

"Maaf sebelumnya,  tapi saya ini tidak kenal loh sama putra Ibu. "

"Nak Yulfi mungkin lupa, dulu kita ini pernah tetanggaan.  Walaupun cuma sebentar.  Keluarga kami pindah karena ayahnya samudra dipindahtugaskan ke Yogya.

"Tapi maaf Bu,  saya betul-betul tidak kenal sama putra Ibu.  Dan perlu saya jelaskan saya itu sudah punya calon suami. "

"Yulfi!!!!, " teriak Ibuku. "Kamu ini betul-betul ya,  tidak punya sopan santun. "

"Memang benar Bu,  Yulfi sudah punya calon sendiri. "

"Calon apa?  Apa pernah dia datang kesini untuk melamar sehingga kamu bilang dia calon. "

"Ibu keterlaluan. "

"Sudah... Sudah...!!! Tolong jaga sikap kalian.  Kita masih ada tamu. Bu Kirana Nak Samudra tolong maafkan sikap putri dan istri saya. "

" Iya ndak apa-apa Pak. Mungkin kedatangan kami ini terlalu terburu-buru.  Makhlum Samudra ini sudah sejak lama mengagumi Yulfi.  Sampai-sampai dia bertekad kembali ke Batu dan memulai usaha dari nol setelah kepergian ayahnya.

"Sekali lagi saya minta maaf. "

"Ada baiknya kalau kami pamit dulu.  Lain kali insyaallah kami akan berkunjung lagi. "

"Oh tentu,  kapan saja kalau mau kesini pintu rumah ini selalu terbuka lebar untuk kalian. "

Setelah kejadian malam itu Ibu jadi ngambek dan tak mau bicara padaku.  Aku berusaha bersikap biasa saja.  Seperti kejadian yang dulu-dulu Ibu juga bakalan gak betah sendiri.  Bukannya ingin jadi anak durhaka tapi aku berusaha untuk memperjuangkan keinginanku. Pernikahan adalah hal sakral yang harusnya dilakukan oleh dua orang yang saling mencintai. 

Berdebat dengan ibuku tak ada gunanya. Yang ada kami akan terus saling menyakiti satu sama lain.  Aku pun sebenarnya mengerti perasaan Ibuku.  Putri satu-satunya beberapa kali menolak lamaran orang demi menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Apalah daya aku hanya bisa pasrah.

"Lagi dimana?, "

"Nih lagi sama teman-teman.  Ada kegiatan amal dan bazaar. "

"Ouww... Ya udah aku berangkat ke galeri dulu ya."

"Ok. "

Video call pagi itu hanya singkat.  Sejak kejadian tadi malam moodkukurang baik. Apalagi melihat Raihan ada kegiatan di luar sama teman-temannya yang notabene cewek.  Pikiranku jadi kemana-mana.  Terbersit rasa cemburu di hati kecilku. Kenapa cewek-cewek itu bisa menghabiskan waktu dengan Raihan. Sementara aku terus bertahan dengan rasa sepi yang menggerogoti hari-hariku.

Apakah karena teman-temannya itu Raihan begitu betah di sana.  Chatting balesnya lama banget. Video call pun jarang-jarang.  Mungkinkah di sana ada seseorang yang menarik perhatian Raihan.  Mungkinkah dia tidak tergoda akan kecantikan salah satu dari mereka.  Begitu banyak tanya meracuni otakku sejak video call tersebut.

Hatiku yang kukuh tiba-tiba meradang.  Rasa curiga membumbuinya menjadi cemburu tak beralasan yang sedikit banyak mempengaruhi psikisku.

Hari ini aku tidak ke galeri.  Bangun,  mandi,  sarapan,  aku langsung ke studio pribadiku. Saat merasa lelah dan tertekan hanya inilah tempat ternyaman yang kudatangi.  Melukis membuatku sedikit melupakan masalah yang sedang kuhadapi.

Melukis dan melukis. Tak terasa sudah satu minggu rutinitas itu kulakukan.  Hasilnya jadilah sepuluh buah lukisan ini.  Dan wow, aku jadi ada ide buat pameran lukisanku nanti.

"Waduh mbak Yul.  Kemana aja nich?? Udah lupa apa sama galeri kita?, " suara renyah Ratna terdengar lagi setelah sekian lama.

"Biasalah Rat,  aku juga pingin libur.  Ngerefresh otak. "

"Wah berarti mbak Yul abis liburan.  Kok Ratna gak diajak?. "

"Libur bukan berarti liburan kali. "

"Lah terus pas libur mbak Yul ngapain??. "

"Ngelukis. "

"Ha... Ha... Ha.... Dasar seniman.  Bisa-bisanya kerja dibilang libur.  by the way  pas mbak Yul gak kesini kita dapat tiga undangan event loh. "

"Oh ya??. "

"Malah ada pesanan lagi. "

"Oke itu nanti kamu urus.  Srkarang tugas kamu adalah persiapan pameran lukisan kita yang srlanjutnya.  Ini konsepnya. "

"Assiappp Bu Bos. "

"Oh ya,  bentar lagi ada yang nganter lukisan aku.  Ntar kamu cek semuanya ada sepuluh lukisan."

Sudah seminggu ponsel aku nonaktifkan.  Apa kabarnya Raihan tanpa gangguan chatt atau video call dariku. Mungkinkah dia khawatir? Atau mungkin sebaliknya?

"Drrtt.. Drrtt," wow 97 chatt dan 50 panggilan. Dan ouww ada panggilan masuk.

"Hallo sayang... Kamu kemana aja.  Kamu gak pa pa kan? Apa terjadi sesuatu?  Atau kamu lagi sakit? Kamu... "

"Stop, aku gak kenapa-napa.  Ponsel aku hilang... Ya terus aku terpaksa deh ganti ponsel dan ngurus sim cardnya lagi. "

"O... Gitu. Aku takut terjadi apa-apa sama kamu. "

"I'm fine . Malahan sekarang aku lagi nyiapin segala sesuatunya untuk pameran selanjutnya. " aku terpaksa bohong dan menyimpan semua ini sendiri.  Aku terus meyakinkan diri sendiri untuk terus menjaga cinta ini. Walaupun terasa semakin berat dari hari ke hari.  Wah bagus dong kalau begitu. 

"Yaw udah sayang sekarang aku udah lega. "

"Kalau gitu aku end  ya video call nya. Ada client  nih. "

"Oke bye. "

"Bye. "

*

Menunggu sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku

Saat ku harus bersabar dan terus bersabar

Menantikan kehadiran dirimu

Entah sampai kapan aku harus

Menunggu sesuatu yang sangat sulit tuk kujalani

Hidup dalam kesendirian sepi tanpamu

Kadang ku berpikir cari penggantimu

Saat kau jauh di sana

Gelisah sesaat saja tiada kabarmu kucuriga

Entah penantianku takkan sia-sia

Dan berikan satu jawaban pasti

Entah sampai kapan aku harus

Bertahan saat kau jauh di sana

Rasa cemburu merasuk ke dalam pikiranku

Melayang tak tentu arah tentang dirimu

Apakah sama yang kau rasakan

Aishiteru-  nya Zivilia mengalun merdu menutup ujung malam ini. Rintik hujan masih setia membasahi daun cemara.  Dingin semakin memeluk.  Sementara hatiku masih saja sama.  Menunggu sampai suatu saat entah kapan kesendirian ini berakhir.

Gelap dan hanya suara hujan. Dari kejauhan tampak Gunung Kekep yang berselimut awan hitam. Begitu anggun dan mistis.  Tak ada tanda-tanda orang yang beraktivitas. Hujan dan dingin membuat orang enggan keluar rumah.

Pohong keju di meja tinggal dua potong,  dan cangkir kopiku sudah kandas.  Aku berniat untuk menuang kopi saat kulihat Bapak masih menonton TV di ruang keluarga.  Rupanya Bapak sedang menyaksikan pertandingan bola. Manchester City melawan Watford.

Dulu saat zaman SMA,  aku sering sekali nonton pertandingan sepak bola bareng.  Aku adalah suporter setia Manchester City, sementara Bapakku penggemar setia Liverpool.

Manchester City adalah sebuah klub sepak bola profesional dari Inggris yang bermain di Liga Premier Inggris. Julukan Manchester City adalah City,  The Citizens,  dan The Sky Blues. Klub ini merupakan klub yang sekota dengan The Reds alias Manchester United.

Ketika nonton bola,  Bapak dan aku selalu melek'an . Kopi semorong penuh, godho telo,  atau pohong tak pernah ketinggalan. Pohong alias singkong adalah makanan favorit kami.  Sampai-sampai Bapak menanam singkong di sebagian besar lahan kami.

"Belum tidur Ndok?.

"Belum Pak. "

"Emang ada proyek lagi?. "

"Iya seminggu lagi mau pameran. Eh... Ada Manchester City toh?. "

"Kebanggaanmu. "

"Ha.. Ha... Ha.. Iya,  lawan Watford lagi pasti seru, " timpalku. "Lebih seru lagi kalau lawan Liverpool.... Pasti Liverpool yang menang. "

"Eits tidak bisa. Bola itu bundar,  semua kemungkinan masih bisa terjadi. "

"Kalau loncong ya Klenyem. Klenyem  adalah makana tradisional berbahan dasar singkong parut yang diisi gula merah tdrus digoreng.  Saat singkong melimpah Ibuku biasa membuat klenyem  atau tape.

"Ndok... "

"Ya,  Pak,"

"Bapak mau tanya ...," ada keseriusan dalam nada bicara Bapak.

"Tanya aja Pak.  Kok serius amat kelihatannya.

"Kamu benar serius sama Raihan, " tuing... Pertanyaan yang tak pernah kuduga bakalan muncul dari mulut Bapakku.

" Kenapa Bapak tanya seperti itu? Apa Bapak berpikiran sama seperti Ibu. "

"Bukan seperti itu. Bapak hanya ingin tahu keseriusan kamu, " mendengar penuturan Bapak akhirnya aku kembali tenang.

"Tentu Pak,  Yulfi yakin... Raihan adalah adalah pikiran yang terbaik untuk Yulfi.

"Tapi Ndok,  kamu tahu sendiri kan bagaimana Ibumu.  Aslinya Ibu itu sayang sekali sama kamu. Karena saking sayangnya dia jadi bersikap seperti itu. "

"Yulfi paham Pak,  Ibu pasti juga menginginkan yang terbaik bagi Yulfi. "

"Kamu yang saja.  Ngalah!!!  Jangan sampai adu mulut seperti kemarin. Bapak yakin suatu saat ibumu pasti mengerti. "

"Iya Pak matur nuwun  sudah mendukung Yulfi. "

"Bapak dan Ibu selalu mendukung apa pun yang terbaik untuk kamu Ndok. Wah Manchester City menang telak 8-1."

"Yeahh Yulfi menang. "

"Ha... Ha... Ha..., " kami tertawa berbarengan.  Momen Bapak dan anak ini adalah momen bahagia yang tak akan terlupa sampai kapan pun. "

"Sudah jam tiga dini hari.  Bapak mau tidur dulu.  Kamu juga istirahat!!!. "

Iya Pak Sugeng injing. "

*

Hari yang ditunggu datang juga.  Pameran yang sudah kupersiapkan dua minggu penuh akhirnya akan terlaksana. Pukul delapan pagi galeri kami buka.  Tidak seperti biasanya jam segini galeri cukup ramai.

Ada dua puluh lima lukisan yang akan menjadi point center hari ini.  Tapi ada satu lukisan yang menjadi favoritku sendiri.  Lukisan itu adalah lukisan seorang gelandangan yang tengah tertidur di teras sebuah toko kosong.  Lantai teras basah oleh genangan air yang entah datang dari mana,  tapi gelandangan itu begitu saja merebahkan tubuhnya disana. Badan dan baju yang kumal ditambah lagi tebalnya debu jalanan membuat pemandangan itu begitu dramatis.  Lukisan ifu kuberi judul Bambong.

"Mbak Yul ini Mas Bondan founder Save Batu foundation. "

"Yulfi. "

"Bondan."

"Begini Mbak Yul,  Mas Bondan ini ingin menawarkan proyek kerjasama. "

"Betul Mbak,  Save Batu Foundation menggandeng seniman di Batu untuk giat melestarikan budaya asli Batu. "

"Terus apa yang bisa aku lakukan untuk Save Batu Foundation. "

"Kami ingin mengundang mbak dalam acara melukis bersama pelukis muda Indonesia  dengan tema wakil rakyat. "

"Wah pasti seru. "

"Pastinya Mbak.  Ya udah daya masih ingin lihat yang lain-lainnya."

"Silahkan Mas"

Pameran kali ini terbilang cukup sukses.  Walaupun cuma sehari sepuluh buah lukisan berhasil terjual.  Ada rasa bangga di dalam hatiku namun terasa ada yang kurang.  Di momen spesial seperti ini seandainya Raihan ada di sini.

"Eh... Nglamun aja Mbak Yul lni," Ratna menepuk punggungku dari belakang.

"Siapa yang nglamun???, "elakku.

"Nih... Ada paket.  Pasti dari penggemarnya lagi, " goda Ratna sambil mencubit lenganku."

"Ihh... Apaan sih??. "

"Pameran hari ini sukses.  Apa Mbak Yul gak pengen merayakan atau gimana gitu..., " gaya bicara Ratna yang centil membuat orang yang mendengarnya gemas.

"Boleh... Tapi kamu tahu gak tempat nongkrong yang asik. "

"Rebess... Cuzzz kita berangkat. "

 

Sepuluh menit kemudian. Sampailah kami di suatu tempat bernama Fifteen Celcius Sky  Lounge. Lokasinya berada di lantai empat Amarta Hills Hotel and Resort Batu.

Sepanjang jalan memasuki kawasan Amarta Hills Hotel,  kami disuguhi indahnya panorama alam yang mempesona.  Sesampainya di Lounge pemandangan alam Gunung Panderman kala senja begitu menyihir mata.

"Kamu tahu aja tempat yang bagus Rat, " aku melirik Ratna yang sedang sibuk berselfie ria.

"Oh... Tentu,  Ratna," sahutnya dengan nada sombong.

"Well Mbak Yulfi mau pesan apa nih???, " Ratna menyodorkan menu makanan.

"Apa ya...? Yang enak disini apa?. "

"Oh... Aku tahu.... "

"Iya kamu aja yang pesenin. "

"Okey"

Sepuluh menit kemudian makanan yang kami pesan datang.  Pasta,  sushi,  latte dan secangkir kopi hitam.

"Kamu tahu aja kesukasn aku. "

"Jelas dong,  Ratnaaa... "

"Ya... Udah langsung aja kita sikat. "

"Assiaapp. "

Setelah makan kami berbincang santai sambil menikmati suasana senja.

"Mbak Yul,  aku salut loh sama embak. Udah mandiri,  sukses lagi.," Ratna memulai perbincangan.  "Tapi aku lebih salut lagi sama perjuangan Mbak mempertahankan cinta, " mendengar ucapan Ratna yang terakhir aku terkesiap.  Tapi aku masih tidak mau menjawab.

"Padahal penggemar Mbak Yulfi itu banyak.  Ganteng-ganteng lagi.  Kalau aku nih musti LDR pasti udah gak sanggup.  Apalagi punya penggemar yang setiap waktu ngirim hadiah, " mata Ratna menjadi berbinar-binar  ketika menyebut hadiah.  Ngomong-ngomong soal hadiah aku jadi keinget kotak pink yang dari tadi kusimpan di tas.  Aku mengeluarkan kotak itu dan pelan-pelan membukanya.  Ada selembar kertas bertuliskan 'Untuk Kesayangan'.  Dan nama pengirimnya Raihan. 

Dari tadi aku mengabaikan kotak itu karena mengira itu dari orang-orang gak jelas.  Tapi ternyata dari Raihan.  Sebuah kalung emas dengan liontin berbentuk hati. Di kanan dan kiri liontin hati,  ada liontin tulisan Batu dan Jakarta. Dengan sigap kuambil ponselku.

"Assalamualaikum Sayang... "

"Waalaikumsalam... "

"Loh pamerannya sudah selesai??. "

"Sudah dong. "

"Nah terus lagi dimana nih kok aku gak di ajak."

"Diajak gimana??? Wong kamunya gak ada di sini.  Tapi ngomong-ngomong thanks kadonya, " aku menunjukkan kalung itu dengan wajah yang sumringah. 

"Sama-sama Sayang.  Maaf ya aku gak bisa datang ke pameran kamu. "

"Gak pa pa. Aku suka sekali kadonya. "

"Bagus deh kalau gitu.  Ngomong-ngomong coba kamu lihat ke langit Sayang, aku juga lagi mandang langit sambil ngebayangin kamu. "

Suatu saat kita pasti bisa duduk satu meja sambil menikmati kopi sama-sama. "

"Lah kamu sih gak pulang-pulang. "

"Satu bulan lagi insyaallah. "

"Beneran??, " sahutku begitu bersemangat.

"Iya tesisku udah selesai. "

"Aku seneng banget deh Sayang. "

"Ya udah kamu lanjutin ngopinya. "

"Oke,  eh tunggu-tunggu nih Ratna mau ngomong. "

"Cepet pulang Mas Brow. Cepet lamar Mbak Yul.  Keburu disambar orang loh."

"Siap... Siap!!!!. "

"Yaw udah sayang, aku end dulu video call-nya  ya. "

"Ciye... Ciye yang mau dilamar. "

Perjuangan cinta ini masih belum berakhir.  Tinggal tiga puluh hari lagi.  Harapan ini akan terlunasi.  Tiga puluh hari lagi.

Bertahan itu bodoh

Ketika kamu tak yakin

Tapi itu bukan kita

Kita adalah pejuang cinta

Yang percaya pada saatnya nanti

Akan ada malam yang panjang

Untuk kita berdua saling membahagiakan

Jarak hanya secuil goda

Yang meretas alunan rindu kita

Dua manusia

Memandang langit yang sama

Meyakinkan diri sendiri

Jika bukan malam ini

Mungkin nanti

Pasti kita bisa bersama.

 

TAMAT.

Singosari,  26 September 2019.

 

(Heni Aprilia Rahayu/bua/malangpostonline.com)

Editor : bua
Uploader : irawan
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU