Selina di Meja 21

  • 23-11-2019 / 22:01 WIB
  • Kategori:Cerpen
Selina di Meja 21

Cerpen oleh: Milanur Almair

 

Sudut mata itu memperhatikan sosok yang duduk sejauh empat meja darinya. Hari ini tampilan si perempuan sedikit berbeda. Rambut yang biasa tergerai sekarang dikucir tinggi. Lipstik yang dipakai juga glossy.

Ia kehilangan sesuatu. Entah apa. Tiba-tiba khawatir menguasai hatinya. Merasa bodoh karena terlalu lama mengabaikan seseorang yang kini berpindah duduk di meja 21 dekat meja kasir.

Sehari sebelumnya.

Selina berjalan cepat. Ia mulai panik ketika udara makin pekat dan pria yang memperhatikannya saat di Cafe Pit Stop tadi, muncul lagi. Ia pikir mereka hanya kebetulan berjalan ke arah yang sama. Tapi setelah dua kali angkutan umum saat pulang pukul lima petang tadi, perempuan pirang sedada itu baru sadar telah diikuti.

Selina meraba-raba tas jinjing merahnya. Mencari semprotan merica. Oh, kesiangan tadi pagi membuat benda yang seumur hidup belum pernah ia gunakan itu tak terbawa.

Hari Jumat. Ia mengganti tas setiap hari itu. Entah mengapa, memakai tas yang berbeda membuatnya menjadi Selina yang baru.

Ia berpikir keras. Apa yang harus dilakukan ketika lelaki bertubuh besar itu mendekat? Berteriak, menendang selangkangannya, atau ... ughhh, otaknya beku terpapar udara yang dingin. Selina mengembuskan napas sekeras-kerasnya. Berharap dengan bodoh bahwa satu kekuatan akan terbit lewat uap yang mengepul dari mulutnya.

Tinggal beberapa langkah lagi. Pria tadi berlari. Selina ikut berlari. Pria tadi berteriak mengatakan ‘tunggu’, Selina ikut berteriak mengucapkan ‘pergi!’. Hingga tiba-tiba lelaki bermantel navy itu mengatakan sesuatu yang membuat Selina berhenti melangkahkan kaki yang kebas karena terlalu takut bercampur dingin.

“Pit Stop Cafe? Banana Split dengan madu? Meja 21?”

Wanita bermata runcing itu berdiri kaku, memutar tubuh hingga mereka berhadap-hadapan dengan jarak mungkin sekira 27 langkah.

“Sorry?”

“Kau mungkin tak memperhatikan, tapi tidak denganku!”

Lihat! Pria ini sudah mengawasinya sejak lama. Mungkin ia pelaku penculikan yang sedang mencari mangsa. Bagaimana ia bisa tahu tentang apa yang dilakukannya di Pit Stop Cafe?

Pria berwajah Italia tadi mendekat, membuat Selina mundur beberapa langkah.

“Please, ingat-ingat kembali! Aku lelaki yang biasa duduk di meja nomor dua, dekat jendela.”

Selina mengerjapkan mata. Mencoba memutar memori lama. Sudah berapa ratus kali ia mengunjungi kafe itu? Tak terhitung. Bagaimana mungkin bakal mengingat pria ini dari ribuan wajah pengunjung?

“Oke. Bagaimana dengan pria yang memborong cokelatmu di akhir pekan minggu pertama bulan Januari 2003?”

Dahi licin itu berlipat. Oktober 2003? Itu sudah berbelas tahun lalu! Saat ia keranjingan menjual cokelat sisa hadiah Natal. Lelaki ini benar-benar maniak!

“Aku tak mengenalmu, please! Jangan lakukan apa pun padaku! Saldo tabunganku tak terlalu banyak di bank!” Ketakutan yang sangat membuat wanita hampir kepala empat itu enggan sekadar untuk mengingat.

Pria hidung betet malah tertawa dan menggelengkan kepala. Ia terdiam sejenak, mencoba mencari solusi atas ketidakmengertian lawan bicaranya ini.

“Baiklah, jika kau masih berpikir bahwa aku berniat jahat padamu, kita lakukan ini di tempat terbuka saja. Bagaimana jika besok kita bertemu di Pit Stop? Meja nomor 21, dekat meja kasir. Agar kau mengerti maksudku.”

Selina melongo. Pria ini pemaksa sekali. Tapi entah mengapa, jauh di relung hati, sedikit percaya mulai ia beri. Dalam samar, bisa terlihat raut penuh kesungguhan milik pria itu. Tapi ia tetap harus waspada. Selina bukanlah tipe wanita yang mudah dipengaruhi begitu saja. Setidaknya hal itu yang sekarang

sangat ia rasakan dampaknya.

“Mengapa aku harus percaya padamu? Kita tak saling mengenal.”

“Kita memang tak kenal secara formal. Tapi aku tahu dirimu.”

“Kau penguntit?”

“Untuk apa aku menguntitmu selama belasan tahun? Bahkan rumahmu

pun aku tak tahu!”

Selina diam lagi. Ingin membenarkan ucapan pria berwajah Italia di depannya. Rasa-rasanya memang tak pernah memergoki orang ini di lingkungan tempat tinggalnya.

 

“Bagaimana? Ayolah! Kita akan membeku di sini jika kau diam saja!”

Selina menimbang bimbang. Antara takut dan penasaran. Tak lama ia mengangguk, “Baik. Pukul empat. Pit Stop Cafe,” ujarnya sambil berjalan mundur kemudian berlari menjauh.

“Bagus! Aku pasti dataaaang!” Si hidung betet berteriak sambil membuat corong di mulut dengan kedua tangan. Setelahnya ia tersenyum senang dan berbalik pulang.

*

Hari ini. Sepuluh menit berlalu dari pukul empat. Pria berhidung betet masih setia menunggu. Pit Stop Cafe, meja 21 dekat meja kasir. Ia menoleh ke sana kemari. Kafe masih sepi. Hanya ada seorang lelaki yang duduk tafakur sambil menikmati kopi yang telah kehilangan uap di meja nomor 17.

Tak jauh dari situ, Selina masih berdiri. Kadang maju beberapa langkah, lalu mundur lagi. Ia sibuk menimbang-nimbang. Apakah benar yang ia lakukan?

Bertemu pria asing yang terindikasi sebagai tersangka pelaku penguntitan dirinya selama ini?

Selina hanya tak ingin terlihat murahan, bahkan di usianya yang sudah sangat pantas menyandang gelar perawan tua—dalam artian sebenarnya, ia benar- benar perawan. Sejak belia, ia tak pernah sudi memulai hubungan yang biasanya berakhir setelah dua-tiga kali percintaan di ranjang. Cita-cita sejak kecil untuk menjadi biarawati belum benar-benar hilang dari kepalanya.

Perempuan bertubuh ramping itu hanya mengangankan lelaki yang benar- benar diinginkannya sebagai pasangan hidup.

Sebenarnya ia sempat menemukan pada salah satu pengunjung Kafe Pit Stop. Namun rasa Selina tak berbalas. Jangankan menyapa, sekadar menatapnya pun lelaki itu tak sudi. Selina sedikit patah hati, meski agak terobati sebab pria manis yang menggunakan kaki palsu itu mengunjungi kafe dengan interval waktu tak tentu.

Selina melihat pantulan dirinya di kaca depan sebuah toko barang langka.

Ia masih menarik. Meski berbanding terbalik dengan daya jual koleksi di dalam toko tersebut. Dada dan bokongnya masih berisi berkat rutin olahraga. Ia mengembuskan napas.

Baiklah! Lupakan impian mendapatkan pria berdasi bergaji 370 dollar seminggu, atau lelaki romantis nan tampan namun berisiko menularkan penyakit kelamin karena rajin menghamburkan benihnya di tiap rumah bordil!

Selina melangkah mantap. Pit Stop Cafe, meja 21, dekat meja kasir. Telah tampak bayang pria Italia itu di kaca. Lima menit berikutnya mereka tenggelam dalam perbincangan sehangat mentari bulan Juli. Sesekali tertawa. Persis teman lama yang bertahun-tahun tak bersua. Selina memutuskan untuk menerima pertemanan Luigi, lelaki berhidung betet itu.

Di meja 17. Pria lain berpura-pura membaca buku. Padahal ekor matanya memandang Luigi dengan mata cemburu. Ia kalah cepat. Pengecut yang bertahun-tahun tak punya keberanian membalas perhatian Selina hanya karena merasa tak sepadan dengan gadis itu. Ia meninggalkan kafe, berjalan pelan dengan langkah tak sempurna. Kaki palsu ini membuatnya tak berdaya mendapatkan cinta yang

didamba sejak lama.

 

TAMAT. (Milanur Almair/bua/malangpostonline.com)

 

*Penulis adalah anggota FLP Bekasi, asal Sambas, Kal-Bar. Aktif juga di Komunitas Bisa Menulis (KBM) dan Kampus Fiksi. Pecinta fiksi yang mengisi waktu luangnya dengan menjahit. Sekarang tinggal di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Email : [email protected]

Editor : bua
Uploader : slatem
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU