Langkah Kecil Menyelamatkan Bumi

  • 23-11-2019 / 22:32 WIB
  • Kategori:Cerpen
Langkah Kecil Menyelamatkan Bumi ilustrasi: istimewa

Cerpen Oleh: Diantriginayu W*

Gunung sampah dan bau sangit asap pembakaran plastik tercium dari belakang kelas. Rupanya pak Mukri sedang membakar sampah, hampir setiap hari aku memperhatikan kegiatan tersebut. Di jam-jam segini, pukul satu siang udara begitu panas bercampur kepulan asap yang ikut menyelinap dari jendela membuat suasana di dalam kelas semakin sesak. Beberapah siswa terbatuk-batuk, beberapah lagi terus saja mengipas-ngipaskan buku ke wajahnya 

"Pak... lagi manggang ubi ya?" Doni melongok dari celah jendela.
"Asapnya pak gak tahan." Ido ikutan nyembul .
"Iya, sabar cuma sebentar." Jawab pak Mukri enteng.

Jawaban yang begitu menyedihkan, mungkin saja pak Mukri nggak tahu betapa bahayanya asap dari pembakaran plastik. Ketika dibakar akan menghasilkan asap yang berisi berbagai macam partikel yang pada akhirnya mengotori udara. Selain itu setiap pembakaran akan melepaskan karbondioksida ke atmosfer bumi dan hal ini akan memperberat masalah yang sudah dihadapi oleh atmosfer bumi.

Karbondioksida adalah salah satu dari kelompok gas penyebab efek rumah kaca yang bisa meningkatkan suhu permukaan bumi yang umum disebut dengan pemanasan global. Selain itu, ada dua senyawa gas yang dilepaskan saat plastik dibakar yaitu dioxin dan furan. Dua senyawa ini selain mencemari udara juga bersifat karsinogen yaitu dapat menyebabkan kanker pada manusia.

Setiap harinya, pada jam-jam yang sama pak Mukri tetap melakukan tugasnya yaitu membakar sampah dan ironisnya hal itu teruang dan terulang terus. 

Sekolahku memang tergolong favorit, tak heran peminatnya begitu banyak. Siswa sekian banyak itulah penyumbang polutan utama di sekolah kami sendiri. Beli kue bungkusnya plastik, beli es bungkusnya plastik, makanan ringan, permen, bahkan air mineralpun bungkusnya plastik. Wow bayangkan berapa tumpuk plastik yang kami hasilkan per harinya. Sekolah kami terletak di pinggiran dan tidak ada TPS di sekitar kami, alhasil sampah ini harus dibakar tiap harinya.

*
"Lagi ngapain Ki??" Popi menepuk punggungku dari belakang, karena kaget botol-botol plastik yang kupegang  berhamburan.
"Nih, lagi ngambilin botol plastik," aku memungut botol-botol yang berhamburan tadi.
"Emang botol-botol itu mau diapain ?" 
"Mau aku buat taman. "
"Taman ?? Dari botol plastik ??! "
"Iya pi "
"Gimana caranya ? "
"Yuk ikut aku ke belakang  sekolah !" Kami berjalan beriringan menuju ke belakang sekolah. Di  dekat gudang aku meletakkan botol-botol plastik yang sudah kukumpulkan tadi. Dengan sigap aku memotong beberapa bagian botol. Setelah itu aku poleskan warna-warni. Jadilah botol-botol plastik itu pot bungah warna-warni.

"Wow... keren juga ya gak nyangka botol plastik bisa jadi pot bunga." Popi terus saja berdecak kagum.
"Eh... aku mau minta bantuannya dong Pi, besok bantuin aku menanam bunga di pot-pot ini ya Pi."
"Assssiiiaaapp !!! " tukas Popi bersemangat.

Sudah satu minggu taman gantung yang kubuat bersama Popi menghiasi tembok belakang sekolah, tepatnya di belakang kelas kami. Aku sangat lega karena tak ada lagi asap yang terhirup hidung kami lagi. Tapi, jika aku telat memungut sampah itu lagi akan lain lagi ceritanya. Aku bergegas ke koridor menyusuri lorong-lorong kelas sambil membawa tas kanva hitamku. Jam istirahat kedua kusempatkan waktu untuk mengumpulkan botol plastik.

"Eh lihat ada pemulung, " suara ledekan itu berasal dari kerumunan siswa perempuan di depan kelas XI-3. Sangat geram dengan perkataan mereka. Tapi aku bukan marah pada siswa-siswi itu. Aku geram pada ketidak pedulian mereka, generasi milenial katanya tapi kesadaran lingkungan tak ada.

Pulang sekolah aku mampir dulu ke ruang OSIS sudah beberapa hari aku tidak sambang markas osis.
"Kemana aja Ki ??? "
"Sibuk "
"Weleh,  gayanya anak SMA sibuk apa ? " Wilma ikut nyletuk sebenarnya.
"Sibuk aja lu ngurusin orang lain ?" Kubalas celetukan Wilma.
"Ih... garing, " Wilma langsung ngambek.
"Aku tuh kesini mau minta bantuan kalian guys."
"Bantuan apa ?"
"Aku pengen buat program taman gantung untuk setiap kelas limbah botol plastik di sekolah kita."
"Bagus juga!! coba jelasin gimana prosesnya !!" Adam, yang sedari tadi mendengarkan percakapanku dengan Wilma ikut nimbrung. Kebetulan adam merupakan ketua OSIS di sekolah kami. 

"Setiap kelas musti ngumpulin botol plastik dari siswa-siswi dikelas masing-masing. Terus botol-botol itu bakal disulap jadi pot-pot bunga warna-warni yang nantinya digunakan untuk membuat taman di depan atau belakang kelas masing-masing" 
"Kalau perlu kita lombain, kelas dengan taman paling kreatif bakal dapat hadiah. Ntar kamu bikin proposal aku yang ajuin ke pak kepala sekolah. "Saran Adam cukup bagus akupun langsung setuju.
"Ngapain sih susah-susah mungut sampah, jijik tau”. Terdengar ribut di dekat tong sampah kelas X-2 .

"Ah kamu ini disuruh bantuin gitu aja udah berisik." Seorang siswi lainnya menyahut.
"Baguslah... kita ada program kayak gini sekolah kita bisa sedikit menanggulangi masalah plastik itung-itung ikut menjaga lingkungan. 

"Aku bersyukur masih ada siswa yang sadar akan pentingnya penanggulangan sampah plastik. Mengajak pada kebaikan itu memang sulit tapi aku tidak boleh menyerah. Dibantu teman-teman di Osis kamipun berencana membuat sekolah ini bebas dari plastik. Tentu saja hal itu perlu kerjasama dan dukungan dari pihat sekolah. 

* * *
Kerja keras kami membuahkan hasil kue-kue basah yang biasanya dibungkus dengan plastik kini beralih kedaun pisang, kripik dan makanan kering dibungkus kantong kertas. Sementara untuk minum siswa diwajibkan membawa tumbler dari rumah karena, di sekolah disediakan posko isi ulang air minum. Dan sekarang yang kami kembangkan bersama merupakan pembuatan pupuk kompos yang berasal dari sampah daun.
Semua sampah daun bekas bungkus makanan dikumpulkan untuk dijadikan kompos. Kompos merupakan salah satu jenis pupuk organik, terbuat dari sampah organik yang sebelumnya telah mengalami proses pelapukan. Bila dibandingkan dengan pupuk anorganik (pupuk kimia) kandungan zat hara kompos jauh lebih lengkap. Selain itu cukup murah karena dibuat sendiri, jadi tidak perlu beli.

Kini tak ada lagi bau sangit asap yang masuk ke kelas saat jam pelajaran. Lingkungan di sekolapun jadi asri. Kupandang bunga geranium dari jendela kelasku kuncup-kuncupnya telah merekah, memamerkan warna warni yang mempesona. Merah, merah mudah, putih dan ungu. Dalam hati aku berjanji untuk terus menjaga pesona itu, banyak kerusakan lingkungan yang kita akibatkan tanpa sadar. Sekaranglah saatnya kita untuk memulai dari diri sendiri untuk lebih mencintai lingkungan karena menyelamatkan bumi dimulai dari satu langkah kecil dari dalam diri. 

TAMAT. (Diantriginayu W/bua/malangpostonline.com)

*Penulis adalah seorang gadis yang dilahirkan di Prigen kab. Pasuruan pada tanggal 17 Juli 1999 dengan nama lengkap Wilujeng Dian Triginayu biasa dipanggil Dian. Saat ini tercatat sebagai mahasiswi IKIP BUDI UTOMO MALANG Prodi Pendidikan Bahasa Inggris. Mulai aktif menulis sejak SMP. Selain menulis ia juga gemar membaca dan melukis.

Editor : bua
Uploader : slatem
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU