Fenomena Crosshijaber Sedang Viral, Ini Tanggapan PCNU dan PD Muhammadiyah Kota Malang

  • 14-10-2019 / 20:47 WIB
  • Kategori:lifestyle
Fenomena Crosshijaber Sedang Viral, Ini Tanggapan PCNU dan PD Muhammadiyah Kota Malang

Malangpostonline.com  - Fenomena crosshijaber sedang banyak diperbincangkan di berbagai media sosial. Seperti Instagram, Facebook hingga Twitter.

Sosok crosshijaber adalah seorang pria yang menggunakan cadar atau hijab yang umumnya digunakan oleh perempuan. Bahkan, di media sosial Instagram sedang ramai tentang akun crosshijaber. Namun, saat ini, akun tersebut sudah tidak ditemukan lagi. Hanya tersisa hastag #crosshijaber yang banyak memperbincangkan fenomena itu.

Berdasarkan unggahan yang ada para crosshijaber tampak percaya diri berdandan sebagai wanita dan tak ragu membagikan tips agar tidak ketahuan. Para crosshijaber meng-klaim bahwa hal tersebut merupakan hobi semata. Semakin niat dan berusaha menjadi crosshijaber, semakin tidak ketahuan.

Berdasarkan unggahan yang ada, para crosshijaber kerap masuk ruang salat wanita. Tak jarang, mereka juga memasuki toilet perempuan. Tak perlu waktu lama, hal tersebut langsung menjadi perhatian warga net. Bahkan, salah satu akun twitter @Infinityslut sempat membuat thread. Di dalam thread itu, ia menjelaskan bahwa crosshijaber ternyata sebuah komunitas yang cukup mengejutkan keberadaannya.

Komunitas tersebut terdiri dari para pria yang terobsesi menjadi wanita. Namun bukan sekadar mengenakan pakaian dan berdandan selayaknya wanita, mereka memilih mengenakan hijab panjang serta gamis syar'i.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Malang, Isroqunnajah mengungkapkan, hingga saat ini, pihaknya masih belum bisa memastikan, crosshijaber termasuk fenomena atau sebuah kasus. “Kemungkinan, pria yang melakukan ini ada kelainan. Harus diklarifikasi terlebih dahulu. Jika menemukan fenomena ini, harus ditanyakan secara jelas, apa motovasinya,” terang dia ketika dikonfirmasi Malangpostonline.com, Senin (14/10).

Menurutnya, jika dilihat dari segi pakaian yang menggunakan gamis dan hijab syar’i, dinilai mampu mengajak perempuan untuk menggunakan pakaian tersebut. Namun, dalam hal ini, ia tidak mmembenarkan jika laki-laki menggunakan baju khusus untuk perempuan. Apalagi, mereka menggunakan pakaian tersebut dengan mendatangi tempat umum. “Harus dilawan jika sampai ke tempat umum, apalagi masjid. Untuk itu, dimanapun, harus dilakukan deteksi dini. Seperti di Bandara, ada X-Ray atau geledah tubuh, agar segera diketahui,” tegas dia.

Jangan sampai, lanjut dia, stigma tersebut akhirnya memberikan stigma negatif terhadap sebuah kelompok tertentu, dimana banyak para perempuan yang menggunakan gamis. “Yang paling penting, harus tahu dulu apa motivasinya. Baru setelah itu, kita bisa melakukan pendekatan agar yang bersangkutan sadar. Sehingga, hal ini tidak terjadi lagi,” tandas dia.

Terpisah, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Malang Abdul Haris menilai, dari segi normatif agama, perbuatan tersebut sudah salah, dimana laki-laki tidak boleh menggunakan pakaian perempuan. “Mungkin salah memahami agama. Terkutuk laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki,” tegas dia.

Menurutnya, dari segi berpakaian, sudah salah kaprah. Apalagi, sampai masuk masjid dan berada di shaf perempuan. “Berkumpul dengan perempuan sudah salah lagi. Entah itu kelainan atau apa. Kami kembali kepada aturan agama. Style seperti itu salah dan tidak dibenarkan menurut agama,” papar dia.

Dia menambahkan, hal tersebut harus diantisipasi agar tidak menjadi tren dan terus berkembang. Nantinya, ia akan memberikan imbauan dan nasehat keagamaan melalui pengajian-pengajian yang diadakan. “Kalau ada pengetahuan baru seperti ini, akan kami sampaikan melalui pengajian. Jangan sampai hal ini terjadi di Kota Malang, jangan sampai berkembang,” pungkas dia.(tea/Malangpostonline.com)

Editor : tea
Uploader : slatem
Penulis : tea
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU