Ketika Jepang Merangkul Indonesia: Shabu-shabu Kuah Mi Instan

  • 18-01-2020 / 15:51 WIB
  • Kategori:lifestyle
Ketika Jepang Merangkul Indonesia: Shabu-shabu Kuah Mi Instan

malangpostonline.com-- Di tengah musim hujan dan cuaca yang dingin seperti sekarang ini, semangkuk makanan berkuah yang hangat pasti akan sangat menyenangkan. Tapi jangan lupa makanannya juga harus sehat, jangan lupa makan sayur sebagai sumber serat dan daging sebagai sumber vitamin.

Tapi sesekali boleh saja beralih dari aneka sayur berkuah ala Indonesia ke makanan berkuah milik tetangga jauh, Jepang. Shabu-shabu dengan semua pilihan kuahnya pasti bakal menggoda Anda. Kuahnya yang clean dan gurih serta pilihan aneka isian pasti memberi keseruan tersendiri.

Shabu-shabu - yang juga identik dengan narkoba padahal artinya sama sekali berbeda- memiliki bentuk yang sama dengan hot pot ala China, Shuan Yangrou. Merunut sejarahnya, shabu-shabu diperkenalkan di Jepang sejak abad 20. Makanan berkuah sup hangat ini pertama kali dijual oleh restoran bernama Suehiro di Osaka.

Nama shabu-shabu sendiri merupakan sebuah onomatopoeic (proses penciptaan nama dari bunyi yang menyerupainya) dari bahan-bahan yang direbus dalam kuahnya.

Di Indonesia sendiri, shabu-shabu dikenal seiring dengan masuknya makanan Jepang ke Indonesia, yang sampai saat ini masih digemari. Seiring waktu, makanan all you can eat ini pun mengalami perkembangan dan inovasi, apalagi kalau bukan rasa kuahnya.

Kuahnya tak lagi hanya bening dan gurih, ini yang dikenal dengan kuah original. Namun kini, cita rasanya makin beragam, menyesuaikan dengan palet rasa orang Indonesia, pedas dan gurih yaitu tom yam. Rasa ini pun jadi populer beberapa waktu lalu. Ketika orang Indonesia sedang menggemari aneka makanan sehat, kuah shabu-shabu pun juga ikut 'sehat' dengan memperkenalkan kuah kolagen yang berbahan dasar ayam. Kuah kolagen ini dikenal dengan warnanya yang putih bak susu dan diklaim juga bermanfaat untuk kecantikan.

Kitamura Shabu-shabu

Akan tetapi, semua restoran shabu-shabu sudah punya semua rasa yang sama. PR-nya adalah bagaimana menemukan restoran shabu yang punya kuah berbeda? Bisa jadi Kitamura Shabu-shabu adalah jawaban yang Anda cari. Restioran shabu-shabu ini menghadirkan cita rasa baru dalam kuahnya namun sekaligus rasa yang familiar dengan orang Indonesia, mungkin khususnya bagi anak kos. Rasa mi instan!

Kitamura yang merupakan bagian dari Kulo Grup ini menghadirkan inovasi kuah shabu-shabu dengan kolaborasi bersama mi instan populer di Indonesia. Ada beberapa varian rasa yaitu ayam bawang, kari ayam, atau soto. Satu meja bisa memilih dua jenis sup yang diinginkan.

Malam itu, saya memilih kuah kolagen dan mi instan kari ayam. Seperti ekspektasi, kuah kolagen datang dengan warna kuah yang putih susu dengan tambahan irisan daun bawang di dalamnya. Di sebelahnya kuah kari ayam juga dituangkan. Warnanya kekuningan dan aromanya khas.

Sembari menunggu kuahnya mendidih, Anda bisa memilih dan mengambil isiannya. DI sini Anda bisa memilih daging sesuai paket yang diinginkan. Ada dua yang bisa dipilih yaitu makushita (daging sapi Australia dan US Prime beef) seharga Rp99 ribu, sedangkan paket yokozuna yang berisi daging sapi wagyu,Australia, dan US dihargai Rp129 ribu. Sebagai aawalannya, Anda akan mendapatkan masing-masing 2 piring daging. Jangan takut, kalau kurang tinggal tambah.

Sebagai pelengkapnya, restoran all you can eat (AYCE) ini juga menghadirkan berbagai pilihan sayuran seperti sawi putih, bayam, dan juga aneka baso seafood, mi instan kering, udon, dan lainnya. Ada juga tempura, tapi sayang saat saya ke sana, tempura sudah habis dan tak kunjung diisi ulang, padahal waktu masih jam 8 malam.

Setelah kuah mendidih, saya pun buru-buru memasukkan aneka sayuran ke dalamnya. Tentunya dibagi ke dua kuah terpisah. Tak lupa bakso-bakso seafood juga saya masukkan ke dalamnya, tunggu lima menit. Karena lapar, saya buru-buru mengambil baksonya, karena takut jadi terlalu lembek jika terlambat diangkat.

Tapi sial, bagian luarnya memang sudah empuk tapi bagian dalamnya ternyata masih keras dan dingin. Bakso-bakso ini ternyata masih beku dan memiliki bulir es di lapisannya. Saran saja, perhatikan tingkat kebekuan baso seafood agar tak terjebak seperti saya. Kalau mau aman, makan saja sayurannya dulu.

Untuk dagingnya sendiri jangan terlalu rama direbus karena akan jadi alot. Setelah dicelup selama beberapa detik, angkat daging dan celupkan dalam sausnya.

Ada aneka saus yang bisa jadi pilihan ponzu, goma, shoyu, miso tare, minyak wijen, spicy miso, saus sambal, cabe rawit iris, bawang putih, sampai wijen. Ada racikan yang bisa disarankan oleh restoran ini tapi saya lebih memilih untuk membuat racikan saya sendiri. Saya mencampur dua sendok spicy miso tare dengan satu sendok goma chili, 1/2 sendok bawang putih, 1 tetes minyak wijen, dan juga biji wijen. Aduk rata dan campur. Buat saya, saus ini enak dan 'asin' untuk menemani daging rebus kolagen yang kuahnya hambar.

Ya, buat saya, kuah kolagennya agak encer dan hambar. Berbeda dengan kuah kolagen, kuah kari ayam ini jauh lebih asin dan gurih. Rasanya? sama seperti saat Anda memakan mi instan. Apalagi jika Anda menambahkan mi instan kering dan juga sayuran hijau ke dalamnya. Persis seperti makan mi instan panas. Rasa yang familiar dalam mulut.

Tak perlu menambah saus celupan setelah merebus daging dalam kuah kari ayam karena rasanya sudah asin dan tentunya tak akan cocok bersama.

Secara keseluruhan, untuk harga Rp99 ribu dan Rp129 ribu dengan pasokan daging tiada henti selama 90 menit cukup murah dan menggoda dengan asa yang 'bisa dipahami.'

Setidaknya dengan harga itu, Anda juga masih akan mendapatkan makanan penutup berupa es krim gratis.

 (chs/cn/bua)

Editor : bua
Uploader : MG
Penulis : CNN
Fotografer : CNN

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU