'Walking Shark' dan Terumbu Karang Surga Bawah Laut Ternate

  • 03-02-2020 / 09:23 WIB
  • Kategori:lifestyle
'Walking Shark' dan Terumbu Karang Surga Bawah Laut Ternate

malangpostonline.com- Ternate di Provinsi Maluku utara punya banyak destinasi bawah laut yang menawarkan satu biota endemik langka, yakni gorango haga atau hiu berjalan hemiscyllium Halmahera. Hemiscyllium halmahera atau hiu berjalan merupakan hewan endemik Maluku utara yang ditemukan ilmuwan Australia, Gerrard Allen, pada 2008.

Oleh warga setempat, hiu berjalan ini dikenal dengan sebutan gorango haga. Allen menemukan gorango haga saat menyelam di teluk buli, pulau Halmahera, namun baru dinyatakan endemik setelah Allen melakukan riset pada 2012.

Walking shark mudah ditemukan di titik penyelaman taman Falajawa di pusat Kota Ternate. Nurkhalis, peneliti Universitas Khairun menyatakan, tidak semua titik selam di Ternate dapat ditemukan hiu berjalan Halmahera.

"Hal ini sangat dipengaruhi adalah karakteristik habitat, sehingga tidak semua pesisir bisa ditemukan hiu berjalan halmahera. Paling mudah ditemukan di pesisir peralihan antara padang lamun dengan terumbu karang,"ujar Nurkhalis kepada CNNIndonesia.com Sabtu (1/1).

Hewan ini memiliki warna dasar cokelat dengan sejumlah bintik gelap berbentuk polygon, meski termasuk dalam jenis hiu, hemiscyllium halmahera hanya memiliki panjang 68 sentimeter hingga 1,22 meter. Walking shark menggunakan sirip dada, panggul, dan punggung untuk merayap di pasir sehingga terlihat seakan-akan hewan ini tengah berjalan.

Di Kota Ternate, gorango haga paling mudah ditemui di pesisir pantai yang terletak di pusat kota, di kedalaman 2 sampai 3 meter. Sekali penyelaman, penyelam bisa menemukan 3 hingga 6 ekor walking shark. Sebagai hewan nocturnal, walking shark lebih mudah ditemukan pada penyelaman malam hari.

"Hiu berjalan halmahera atau walking shark ini lebih memilih berjalan atau beraktifitas di malam hari untuk mencari makan, jadi kalau siang hari dia lebih memilih untuk berdiam diri di balik batu karang, makanannya adalah kepiting maupun udang," kata penyelam Adita agoes.

"Hiu berjalan halmahera tidak berenang seperti hiu pada umumnya namun dia dikenal dengan merayap menggunakan siripnya. Kalau di lokasi pantai taman nukila kita sudah bisa menjumpai dijarak sekitar 30 meter bisa dilihat 3-6 ekor."

Sebagai hewan endemik, keberadaan walking shark di pesisir Ternate merupakan harta karun dunia bawah laut. Namun reklamasi yang 'getol' dilakukan pemerintah daerah beberapa tahun belakangan ini dikhawatirkan akan mengganggu habitat hiu berjalan hemiscyllium Halmahera.

Dekan fakultas perikanan dan ilmu kelautan Universitas Khairun ternate, dr. Janib Haji Ahmad menyatakan, rekayasa pesisir pantai berupa reklamasi akan mengganggu pola arus yang berpengaruh pada migrasi biota laut. Karena itu pembangunan seharusnya juga mempertimbangkan aspek ekologi.

"Jadi perubahan pesisir itu punya korelasi dengan pola arus, jadi kalau pisisir itu dirakayasa (reklamasi) maka terjadi perubahan pola arus, dan itu pasti akan mengganggu biota sehingga terjadilah perubahan," ucap dr. Janib.

"Untuk itu yang dipikirkan oleh pengambil kebijakan adalah bagaimana mengidentifikasi perubahan biota endemik ini karena akan membawa eko wisata di Ternate," ucapnya kemudian.

Dengan segala kekayaan alam di sana, sudah seharusnya pemerintah dan masyarakat kompak menjaga lingkungan, tujuannya apalagi kalau bukan melindungi hiu-hiu lucu ini.

Lihat juga: Palau, Negara Pertama yang Larang Sunscreen Beracun

(sai/mik/cnn/bua)

 

Editor : bua
Uploader : MG
Penulis : CNN
Fotografer : CNN

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU