Terjerat Anyelir (1)

Tiba-tiba Wesley Merasa Ada yang Mengintipnya saat Mandi

  • 25-10-2019 / 00:02 WIB
  • Kategori:Misteri
Tiba-tiba Wesley Merasa Ada yang Mengintipnya saat Mandi

Wesley, pemuda 25 tahun telah mengatur secara matang waktu liburannya. Di balik kerjaan menumpuknya nyaris setiap hari, dia sudah mengatur liburan bersama Angga, Tesa dan Rena.

Sangat jauh malah, tiga bulan, atau bahkan lebih dari 100 hari sebelumnya. Wesley nggak mau, liburannya ke Pulau Dewata kali ini gagal seperti dua rencana yang sama di tahun 2019 ini. Namun, nyatanya meski sudah diperhitungkan matang, satu per satu temannya, membatalkan janjian tersebut.

Angga, dia mendadak harus menghemat duitnya, demi persiapan masa depan. Wesley tak bisa protes setelah mendapatkan penjelasan dari mantan teman sekantornya tersebut.

“Sorry West, mendadak apply kredit rumahku diterima dan aku harus lunasin segera DP-nya. Kalau maksa liburan, bisa numpang doang aku sama kalian,” jelas Angga.

Angga berusaha meminta pengertian temannya tersebut. Walaupun, dia sendiri sebenarnya bergabung paling akhir untuk menyatakan turut serta dalam liburan. “Beneran? Kan biaya nggak gede amat, Ngga?,” tanya Wesley, sembari memohon. Matanya penuh harap. Setelah tak lagi sekantor, mereka sudah jarang bertemu. Untuk itu dia berharap bila Angga bisa jadi bagian dalam liburan kali ini.

Namun, jawaban tetap sama. Angga sudah memutuskan, menunda liburannya kali ini. “Sorry banget ya bro. Next coba diatur lagi. Mungkin bisa kalau pengeluaran gak sebanyak bulan depan,” sebut Angga. Dengan perasaan bersalah, Angga coba menutup pembicaraan dari seberang telepon.

Sebelumnya, Tesa, fotografer freelance malahan lebih dulu mundur. Dia mendapatkan tawaran job di tanggal yang sudah ditentukan, 22-26 September. Wesley sudah tidak kaget. Karena liburan sebelumnya pun gagal karena dia dan Tesa tak menemukan hari libur yang sama. Masing-masing memiliki job yang selalu nggak sinkron. Kalau nggak Wesley harus dapat tugas ke luar kota bahkan luar pulau, Tesa dapat job untuk foto di luar kota atau liburan bareng keluarga

“Kamu yakin tetep berangkat? Sendirian lho. Rena juga gak jadi ikut kan,” tanya Tesa. Kali ini Tesa mulai merasa bersalah, melihat sahabatnya itu harus liburan sendiri. Ya, walaupun dia tahu, Wesley terbiasa menjalani job di luar kota sendiri. Apalagi kali ini sekadar liburan, pasti dia bisa melaluinya. “Eh, temen mantanmy yang di Bali masih ada kan? Coba hubungi dia deh buat nemenin, siapa tahu balikan,” imbuh Tesa coba menenangkan si Wesley.

Tesa sebenarnya tidak yakin liburan Wesley bakal berjalan. Ya mungkin, nasib dari temannya yang satu ini. Liburan bareng kerjaan. Toh, hampir setiap bulan Wesley mendapat tugas ke luar kota. Mungkin, Wesley kembali harus berlibur di kampung halamannya, sembari memulihkan tenaga serta pikirannya.

“Sudah, sendiri aku tetep berangkat. Pengajuan cutiku kan udah lama juga. Daripada seperti sebelumnya, cuti tapi di rumah,” jawab Wesley pada Tesa. Dia pun berlalu, meninggalkan Tesa, dengan senyum kecewa.

Wesley tidak mau, rencana dia eksplore Bali batal. Dia ingin liburan yang antimainstream. Bukan ke Kuta, Legian atau Nusa Dua. Namun dia ingin mendatangi tempat lain seperti Kerobokan, Ubud atau bahhkan sampai ke Karangasem.

Beberapa hari kemudian, Wesley bertemu dengan Derry dan Rezty. Pasangan suami istri, yang merupakan kerabatnya pula dan sedang mendapatkan pekerjaan manggung di Bali. Sebenarnya, dia malas bercerita, karena dua temannya ini pasti bakal mengoloknya. Walaupun sebatas menggoda Wesley.

“Udah, kamu gabung sama kita aja. Buat apa sih liburan sendiri?,” tanya Derry, sembari tersenyum karena tahu teman-teman Wesley sudah pasti batal ke Bali. Lagu lama. Liburan dari temannya ini kerap gagal. Itu karena Wesley juga. Terlalu sibuk bekerja hingga sulit menemukan jadwal liburan bareng yang cocok.

“Tapi kamu harus nunggu kerjaan kami kelar. Hari pertama saja kamu sendiri, setelah itu gabung sama kami,” sahut Rezty.

Arghh.. Wesley terlihat ogah. Sebab, liburan dengan Derry dan Rezty, sama saja. Dia sudah terlalu sering bareng, walau sekadar nongkrong ngopi atau main UNO di Malang. Masak iya, liburan bareng mereka lagi, main UNO lagi. Dalam pikirannya, nggak, gak masalah liburan sendiri. Biarkan Derry dan Rezty liburan sendiri, hitung-hitung double date sama Putri dan Afi.

“Nggak deh. Bosen juga kan ngliat wajah loe lagi loe lagi,” jawab Wesley.

Selain bosan, Wesley yang dianggap masih jomblo itu oleh dua temannya, enggan jadi bulan-bulanan karena seorang diri. Ya walaupun guyonan tersebut tentu saja tidak serius.

Saat liburan tiba, benar saja. Wesley sendiri. Tiba di Bandara Ngurah Rai, dia sudah menetapkan tempat untuk menginap. Ubud. Ya, dia suka dengan nuansa wilayah tersebut. Bau dupa, bunyi gending khas Bali, dan tentu saja, bapak, ibu, atau gadis-gadis Bali dengan pakaian adat yang memancarkan aura tersendiri. Tak terkecuali mistis. Sesuatu yang kadang menarik perhatian Wesley.

Menikmati suasana desa tersebut, Wesley sudah merasa senang. Walaupun tidak jauh berbeda dengan kampung halamannya. Sawah, bukit, sungai, dan tegur sapa ramah warganya. Wesley merasakan kenikmatan tersendiri. Seperti masa anak-anak, ketika dia seringkali bermain tanpa teman. Namun kadang aneh, Wesley kadang merasa memiliki banyak teman di tengah kesendiriannya.

Ia merasa lebih santai, hanya ada satu pemikiran dalam liburannya. Nggak perlu debat mau kemana. Selama bensin di dalam tangki motor sewaannya masih terisi, dia terus melalui jalanan di kawasan Ubud.

Tiba-tiba di hari kedua. Masih tengah siang, matahari baru saja lewat dari atas kepala. Getar handphone terasa di saku Wesley. Pemuda berlesung pipi ini memang sengaja ‘mendiamkan’ hp-nya. Dia tidak mau terlalu direcoki saat liburan. Tapi, kali ini getaran tersebut tak kunjung berhenti.

Derry…!!!

“Heh, kenapa dia telepon. Pakai video call lagi,” gumam Wesley. Dia tak sampai hati mengabaikan panggilan video tersebut. Apalagi, itu sudah keempat kali. Wesley masih menganggap Derry sebagai sahabat yang baik baginya. Belum lagi, Derry jarang melakukan panggilan kecuali benar-benar ada hal yang penting.

“Apa iya liburan begini masih butuh bantuan?,” Wesley mulai bimbang. Namun, dia memikirkan akan adanya ajakan berlibur dari Derry. Hingga akhirnya, Wesley mengangkatnya.

Muka kecut coba dipasang Wesley Sebaliknya, senyum-senyum dari Rezty dan Derry terlihat di seberang telepon. Benar saja. Ketakutan Wesley terjadi. Pertama kata terucap adalah sindirian, meskipun bernada pertanyaan.

“Sendiri aja bro, jomblo ya,” tanya Rezty.

SIALLL..

Dalam hati Wesley sudah paham apa yang akan disampaikan oleh dua sahabatnya itu. Tapi, telepon terlanjur diangkat. Meskipun bermuka kecut, perbincangan terjadi. Sampai akhirnya, Derry memohon, Wesley harus datang ke vila yang sudah dia sewa.

“Cepet kesini pokoknya. Jangan lupa bawa mie, telor dan camilan. Kita nggak usah keluar malam ini. Ada daging dan ikan kalau mau bakar-bakar. Cuma kita kepingin mie. Jauh banget kalau mau keluar. Aku shareloc lokasinya,” cerocos Derry, tanpa memberi kesempatan yang menganggap Wesley sudah sepakat untuk datang.

24 kilometer. Wesley coba melihat jarak tempat Vila Anyelir yang disebutkan oleh Derry. “Buset.. Jauh banget,” sesal Wesley. Butuh waktu 30-45 menit menuju tempat tersebut. Sesaat kemudian, Wesley melanjutkan liburannya. Dia sudah melupakan apa yang disampaikan Derry dan Rezty dari seberang telepon.

Tiga jam kemudian…

“Haduh, kamu lagi,” jawab dari Wesley, menerima panggilan telepon Derry.

“Cepet kesini. Keburu lapar, Wes,” tutur Derry.

“ehm…” belum sempat menjawab iya atau tidak, Derry sudah menutup panggilan tersebut. Padahal, Wesley sudah mau mennyampaikan, dia bisa namun malam hari. Wesley ingin melanjutkan liburan hari keduanya sendiri.

Petang tiba, akhirnya Wesley mulai kepikiran. Dia memutuskan ke Vila Anyelir. Tapi, dia tidak memberikan kabar pada dua sahabatnya itu. Ia melajukan motor yang sudah dia sewa, menuju wilayah Canggu. Ya, vila tersebut berada di Canggu. Tidak begitu berbeda dengan Ubud, dengan beberapa hamparan sawah yang masih terlihat.  Jalanan relatif sepi, bila dibanding dengan Kuta atau Legian.

Telur, mie instan goreng dan kuah, sudah di tangan. Dia nyaris tanpa kesulitan mencari vila itu. Sampai akhirnya di depan area vila tersebut, Wesley bertanya pada sosok yang berjaga di pos sebelah kanan.

“Pak, Anyelir di sebelah mana?,” tanya Wesley, sembari menyampaikan alamat yang dimaksud.

“Ujung paling kanan bli. Tapi, yang sewa vila sedang keluar baru saja,” jawab satpam yang menjaga 10 vila di kawasan tersebut.

“Sendiri saja?,” tanya penjaga berpakaian hitam-hitam. Untung ada namanya, Putu. Wesley bisa menyebut nama satpam tersebut. Namun, pertanyaan tersebut menyiratkan tanya. Untuk apa Pak Putu bertanya demikian. Kenapa dia tidak berpikir, kalau pria di hadapannya ini adalah rombongan yang tertinggal. Atau paling parah, kurir ojek online mungkin, sedang mengantarkan pesanan.

“Saya barusan telpon Derry yang sewa vila itu. Katanya suruh masuk saja, pak. Mereka cari makan sebentar,” jawab Wesley mencoba meyakinkan Pak Putu yang masih menyiratkan tanya. Entah dia curiga, berhati-hati atau heran.

“Ya bli, nomor lima sebelah kanan. Jangan salah masuk ya. Hati-hati,” sahut Pak Putu kemudian. Entah itu sekadar basa-basi atau benar-benar peringatan dari Pak Putu.

Wesley pun masuk ke vila tersebut.Tidak dikunci. Aneh. Pintu ruang utama juga tetap terbuka. Terlihat  ceroboh Derry sama Rezty ini. Sama juga Afi dan Putri. Meskipun dua kamar di vila tersebut terkunci.

“Hei, aku sudah di vila. Kalian kemana? Sepi banget. Balik jam berapa?,” tanya Wesley pada Derry melalui pesan WhatsApp. Derry langsung membalas dengan telepon. Memastikan bila Wesley tidak salah masuk vila. Dia menyampaikan, satu kamar terbuka untuk sobatnya. Dan tidak lupa dia sedang berada di sebuah restoran, tidak jauh dari. 10 menit bisa dijangkau dengan sepeda motor.

“Nggak ahh, aku di vila aja. Capek banget. Mau mandi dan mungkin tidur. Kalian aja cepet pulang, sepi nggak enak rasanya,” jawab Wesley karena Derry ternyata akhirnya memutuskan untuk telepon.

Wesley sebenarnya mulai merasa aneh. Tidak nyaman berada di vila tersebut. Dia melihat satu per satu sudut vila, kecuali dua kamar yang terkunci. Sampai akhirnya kamar mandi di dalam kamar untuknya. Terbuka. Atap dari kamar mandi tersebut bisa langsung menatap langit. Kalau hujan turun, pastinya akan masuk ke dalam kamar mandi berukuran sekitar 33 squaremeter tersebut. Sudah seperti ukuran satu kamar sendiri.  Bahkan, lebih besar kamar mandi tersebut.

Sreet…

Tiba-tiba Wesley merasa sedang ada mengintipnya ketika sedang mandi. Perasaannya mulai tidak enak. Dia tak lagi bernyanyi, seperti kebiasaannya ketika berada di kamar mandi. Cepat-cepat dia ingin menyegarkan badan, lalu tidur.

Kamar mandi pun dia kunci setelah itu. Sekalipun lelah, dia tetap berpikir, kamar mandi yang bisa diakses bila ada orang dari luar melompati dinding yang terbuka tersebut. Saat sedang asyik memainkan laptopnya, pintu tersebut terbuka seperti terkena dorongan angin.

“Kriek”

Bunyi tersebut membuyarkan tatapan Wesley pada laptop di hadapannya. Dia berpikir keras. Tak lama kemudian dia menggaruk kepalanya.  “Perasaan tadi kukunci deh. Kok buka?,” Wesley bertanya pada dirinya sendiri. Ah sudahlah. Wesley mulai keluar. Dia memilih ke sofa depan, sembari menyalak tivi. Tidak lupa, dia berkirim pesan pada Derryy. Ia berharap, rombongan kerabatnya itu segera kembali.

“Udah deh, kamu siap-siap. Ada ojek online yang akan jemput. Kasihan kamu sendirian,” tulis Rezty. Kali ini Rezty yang mengirimkan pesan. Nah, tanpa ada persetujuan Wesley, Rezty tahu apa yang dirasakan sahabatnya.

Wesley mengunci kamarnya. Dia mencoba menutup pintu di ruang utama. Namun upayanya tak berhasil. Rasa takut tampaknya lebih kuat. Dia tinggalkan begitu saja akhirnya. Begitu juga pintu depan, di depan kamar utama. Wesley memilih menunggu di depan vila. (*/bersambung)

 

 

Penulis: Christoffel Lee

Editor : bua
Uploader : irawan
Penulis : ley
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU