Terjerat Anyelir (2)

Suara Itu Pertanda Mereka Menyukai Kehadiran Kalian, Tapi . . .

  • 25-10-2019 / 00:06 WIB
  • Kategori:Misteri
Suara Itu Pertanda Mereka Menyukai Kehadiran Kalian, Tapi . . .

Terasa lama, di area vila yang sepi tersebut. Jam sudah menunjukkan pukul 21.30. dan yang terjadi selanjutnya, Wesley kebingungan. Ojek online yang membawanya, berjalan nyaris 30 menit. Bukan ke restoran, tetapi ke sawah-sawah. Ada dua rumah di jalur tersebut. Selebihnya, tak bertuan.

“Ini serius kalian makan di restoran? Nggak ada resto, cuma rumah bercat hitam, pagarnya tinggi. Saya lewat mana,” tanya Wesley yang mulai kebingungan.

“HAH?,” Derry pun tak mengerti lokasi yang dimaksud. Dia coba menjelaskan lokasi secara detil, termasuk di sekelilingnya.

Ini tidak jauh dari Kona, restoran yang ramai. Nama Kona coba diingat oleh Wesley. Namun, tak ada nama Kona. Ciri-ciri lain yang disebutkan Derry tak satupun ditemukan Wesley.

 

LAPAS KEROBOKAN

“Saya di sini. Di depan Lapas Kerobokan. Sebelah mana? Hampir satu kilometer saya berjalan.” Wesley mulai emosi. Bila tahu harus berjalan kaki, nyasar, dan tidak tahu dimana, dia memilih tidur. Karena seharian sudah lelah berjalan-jalan. Walaupun dia harus membunuh rasa takutnya. Biasanya, Wesley bukan orang yang penakut. Malahan, makhluk tak kasat mata, bisa takut dengan Wesley.

Namun Derry meminta menunggu. “Tunggu disana. Ada ojek lagi yang menjemputmu bro,” tulis pesan WA Derry. Lah, kenapa harus ojek lagi?

Saat sampai di restoran yang dimaksud, Mirza menyambut Wesley. Si pemilik restoran ternyata. Dia mengakui, tadi sudah menginput alamat dengan benar. Entah mengapa, justru tertulis alamat rumahnya. Mungkin dia khilaf.

“Tapi bener, tadi saya tulis restoran ini. Kok ternyata di rumah. Sorry ya, pantes gak ketemu” tutur Mirza. Perkenalan yang sedikit menyesakkan bagi Wesley.

Lantas, Putri nyeletuk. “Kamu sendiri aja tadi di vila. Wah pemberani ya, kemana-mana sendiri,” tanya Putri.

Sebenarnya, Wesley malas untuk menjawab pertanyaan tersebut. Sudah jelas, datang sendiri. Tidak mungkin dengan orang lain dan disembunyikan di dalam dompet atau jaket. Setelah 1,5 jam, akhirnya Wesley, Rezty, Putri, Afi dan Derry kembali ke Anyelir.

“Yuk main UNO,” ajak Rezty selepas mereka menikmati mie instan yang sudah dipesan pada Derry. Di dapur.

Permainan UNO pun berlangsung beberapa putaran, sampai jarum jam menunjukkan pukul 01.00. rezty sebenarnya penasaran, ingin sekali mengalahkan Wesleyh. Sebab, semua sudah pernah merasakan hukuman yang aneh-aneh malam itu. Tapi, Wesley selalu selamat dari ‘maut’ hukuman. Tak ada tantangan, atau kejujuran, buah dari kekalahan.

“Kamu kalau main jangan ajak prewanganmu dong Wes. Mana bisa kalah,” seru Rezty.

Yaelah..  Rezty tampak menganggap serius permainan. Padahal, hal tersebut untuk happy-happy. Namun Rezty curiga. Sebab, dia tahu Wesley memiliki kemampuan yang orang lain tak bisa lakukan. Menebak, menerawang atau entah apa sebutannya. Wesley seolah memiliki indra keenam untuk melihat makhluk halus, membaca pikiran orang dan hal-hal lainnya.

‘Nggak lah. Murni ini. Aku kan tangguh main UNO. Kalau ngrasa nggak feel, ya biasanya kalah melulu,” jawab Wesley berusaha meyakinkan. Wesley sebenarnya tidak nyaman, ketika ada orang lain mulai membicarakan makhluk halus. Sebab, dia bisa kebablasan. Kebablasan, bahkan melihat banyak hal di sekitarnya. Seolah sebutan tersebut memanggil mereka untuk menampakkan diri pada Wesley.

Sreett….

Akhirnya, Wesley merasakan ada orang yang mengintipnya sesaat setelah Rezty menyatakan prewangan atau makhluk halus yang membantu seseorang. Wesley mulai tidak nyaman lagi dengan Vila Anyelir.

Dia mencoba mengajak menyudahi permainan. Dia beralasan ngantuk berat. Namun, melihat tingkah polah sahabatnya, saat berusaha menang, menghindari kekalahan yang berujung hukuman, mendadak dia bersemangat.

“Prok, prok, prok.”

Semua kaget. Mendengarkan suara tepukan, seperti botol plastik yang dibenturkan ke dinding atau meja. Entahlah. Mata Derry dan Afi, yang paling dekat dengan arah dapur, langsung menoleh. Wesley yang berada pada titik terjauh saja mendengar. Begitu pula Rezty, yang bisa secara jelas melihat dapur. Sama dengan Wesley. Hanya Afi, Derry dan Putri yang duduk membelakangi.

Suara tadi terdengar, setelah tepukan Putri, yang lega dan senang atau riang. Karena dia telah berhasil meletakkan semua kartu UNO-nya. Artinya, dia bebas dari ancaman hukuman. Tinggal Afi dan Derry.

“Suara apa itu,” tanya Rezty yang mulai parno.

“Bukan, itu suara kursi. Yang tergeser saat aku bergerak-gerak,” ujar Putri. Dia coba mempraktikkannya lagi. Bertepuk tangan, menggoyangkan badan di kursinya. Tapi, suara itu tidak ada. Ia mulai bingung. Lhoh!!!

Wajah Derry dan Afi mulai takut. Begitu juga Putri.

“Selesai. Sudah. Besok saja lagi,” ajak Rezty.

“Ayo, aku juga ngantuk,” sahut Putri.

Sementara, Afi dan Derry, mencoba terlihat tenang. Walau raut kebingungan Nampak dari muka mereka. Mereka tampak mulai beralasan. Mengajak untuk segera berisitrahat.

Tapi, semua belum usai.

“Tunggu,” teriak Putri.  “Handponeku mana,” tanya dia. Putri mulai memandangi wajah temannya satu per satu. Terutama Derry. Dia memang paling terlihat jahil.

“Lah, handphoneku juga mana,” sahut Wesley. Dia kut-ikutan kehilangan handphonenya. Namun, ini bukan handphone utamanya. Cuma, tadi gadget tersebut dia gunakan untuk merekam momen-momen di dalam vila. Termasuk peristiwa lucu selama bermain UNO.

Wesley dan Putri kompak menuduh Derry. Cuma dia memang yang memungkinkan usil. Kecuali teman tak kasat mata Wesley, yang kadang juga usil.

“Nggak Put,Wes. Beneran aku nggak tahu.” Derry mencoba membela diri. Dia turut membantu mencari handphone tersebut. Padahal, baik Wesley maupun Putri, tadi juga sempat memainkan handphone tersebut selama bermain UNO.

Mereka terus mencari. Sampai akhirnya Putri berteriak. “Ini, di bawah kursi,” kata Putri. Tapi aneh, hp tersebut di bawah kursi Wesley. Lah…

“Terus hp-ku dimana?,” tanya Wesley.

Derry lantas mendapatkan jawaban, seperti berbisik di telinganya.

 

DASHBOARD

“HAH? Kok bisa?,” Wesley mencoba menjawab bisikan tersebut. Entah tadi suara siapa. Wesley pun tak paham. Dashboard, artinya di dalam mobil. Ada mobil yang disewa oleh Derry. Putri dan Afi yang mendengar, langsung mencari kunci mobil yang tadi dipegangnya.

Wesley berlari keluar, sembari meminta Putri menelepon nomornya. Benar saja. Handphone tersebut ada di dalam dashboard, yang tertutup.  Wesley tak mau melanjutkan kebingungannya. Dia simpan sendiri. Menutup pintu mobil. Mengunci pintu vila. Dan tidur. Semua sudah kelelahan, dan ketakutan. Walaupun tak ada ungkapan rasa takut terucap.

 

GEMPA…

“Gempa.” Teriak Wesley. Dia pun berlari keluar kamar. Hujan mulai turun. Tapi Wesley bingung, Tak satupun temannya keluar. Apakah dia merasakan gempa bumi sendirian? Atau mungkin teman-temannya kelelahan. Wesley yakin, tadi adalah gempa. Belum lagi, beberapa hari sebelumnya, Bali memang dilanda gempa.

Wesley pun tertidur. Walaupun dengan banyak pertanyaan berkecamuk. Dia tak mau membangunkan teman-temannya. Sebelum tertidur, Wesley memutuskan menyimpan kejadian janggal itu sendiri. Sebab, ia merasa wajar mengetahui hal-hal tersebut.

Baginya, memiliki kemampuan lebih dalam merasakan makhluk tak kasat mata, kadang susah diterima informasinya oleh orang lain. Apalagi sosok religius seperti Derry.

 

PUTRI dan AFI.

Pasangan baru menikah ini merasa, malamnya tidak nyaman. Suara dinding digedor, plafon seperti menjadi ajang sepak bola bagi para tikus. Tak beraturan, terus terdengar.

“Sudah-sudah, ayo tidur saja. Tikus itu,” ajak Afi pada Putri. Rasa takut akhirnya membuat mereka tertidur.

“Nggak. Dari tadi memang aneh,” suara menggelegar Putri menghardik argumen Afi.

Dalam pikiran Afi, malam ini mereka harus istirahat. Kalau harus terjaga, tidak mungkin. Yang lain sudah lelah. Apalagi, pagi harinya mereka sudah memiliki jadwal untuk mengunjungi beberapa tempat.

Mereka semua mencoba memendam hal tersebut. Bahkan, seorang Derry pun sebenarnya ketakutan. Ia merasa ada yang aneh dengan vila tersebut. Tetapi dia pintar menutup rapat rasa takutnya.

Handphone Wesley bergetar lama pagi harinya. Karena tidur nyaris pukul 03.00, telepon pukul 07.00 pagi pun tak terasa baginya. Padahal di ujung telepon, Kadek berkali-kali meneleponnya. Kadek khawatir dengan temannya tersebut. Teman yang kemarin baru saja diantarkannya berkeliling Ubud.

Kadek baru menyadari, temannya itu berada di Anyelir. Vila yang mengisahkan beberapa cerita tak enak. Dia pun bergidik ketika mengetahui temannya di sana. Seorang anak pernah tenggelam dan akhirnya tewas, di kolam renang, tepat di depan ruang utama. Sekitar delapan tahun lalu. Tak diketahui bagaimana awalnya anak tersebut tenggelam,

Cerita berikutnya, seorang pasangan kekasih, bertengkar hebat di salah satu kamar vila tersebut. Konon, terjadi saling dorong diantara keduanya. Sampai si perempuan terantuk bathtub. Berdarah-darah. Hingga akhirnya tewas dalam perjalanan ke rumah sakit.

“Halo. Halo. Wes.. Kamu baik-baik saja?,” teriak Kadek. Dia sudah berada di Anyelir, begitu teleponnya nyaris satu jam tak direspon. Kadek berusaha membangunkan Derry, yang terlihat masih tertidur. Namun, keringatnya bercucuran. Wesley susah membuka mata. Sekalipun dia mendengarkan teriakan dan tepukan Kadek.

“Hah, Wesley kenapa? Semalam dia baik-baik saja,” tanya Derry yang baru saja terbangun mendengarkan teriakan Kadek. Sementara, Afi dan Putri sudah tak berada di kamarnya. Dia memang ada jadwal pagi ini. Jam lima pagi mereka berdua sudah keluar.

“Sepertinya dia mengalami kejadian aneh. Entahlah. Kita harus segera membuat dia tersadar,” sebut Kadek. Kadek lantas menanyakan pada Derry, siapa yang memiliki ide memilih Vila Anyelir. “Tidak ada yang tahu kisah di sini?,” tanya dia.

“Nggak ada. Kami memilih acak saja,” sahut Derry.

“Lalu kalian mengalami apa? Suara tepukan atau gedoran. Itu pertanda, mereka menyukai kehadiran kalian. Tapi tidak bagus, karena kalian pasti akan terus diganggu. Kalian harus cepat keluar,” jelas Kadek.

“Tapi kami masih menunggu Afi dan Putri. Dia balik jam 11 pagi. Terus bagaimana Wesley,” cerocos Derry

Derry mulai khawatir, karena dia yang mengajak Wesley ke Anyelir. Namun, kini justru temannya menjadi sasaran. Mungkin karena Wesley bisa menanggapi kehadiran penghuni Anyelir. “Tunggu dia bangun. Harus usahakan dia segera bangun. Sedikit saja sadar, bawa dia keluar. Maaf, saya juga baru tahu begitu dia memberikan pesan tengah malam tadi. Dia meminta saya telepon dia atau membangunkannya. Dia menyebut ada di Anyelir,” jelas Kadek.

Panik. Dia berulang kali melepaskan nafas panjang. Derry dan Rezty pun demikian, bergantian mencoba membangunkan Wesley. Sesaat kemudian, Derry memutuskan membereskan barang-barang. Termasuk barang milik Wesley. Untung sudah rapi.

Saat sedang sibuk beres-beres, Wesley tiba-tiba terbangun. Dia berjalan keluar kamar. Di sana dia melihat Kadek. Lalu, Derry dan Rezty sudah siap dengan kopornya.

“HAH..” teriak Rezty. Dia bingung, kaget, dan lega. Jadi satu.

“Kamu sudah bangun?,” tambah Rezty. Dia menyeret Derry mendekati Wesley.

“Pusing banget. Tadi saya mimpi buruk, nolongin anak tenggelam dan…,” Wesley tak sempat melanjutkan kata-katanya. Derry dengan cepat menimpali.

“Syukurlah sudah bangun. Cepet siap-siap, kita susul Afi dan Putri,” ajak Derry. Derry memutuskan mengajak liburan mereka pindah ke Ubud.

Kadek melihat sembari mengangguk. Menandai setuju dengan usul kerabat dari Wesley. Kadek tak mau menjelaskan lebih panjang. Ia sudah lega melihat kondisi semua temannya aman dan segera meninggalkan Anyelir.  (*/tamat)

 

 

Penulis: Christoffel Lee

Editor : bua
Uploader : irawan
Penulis : ley
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU