Joker, The Artist dan Kevulgaran Andrew Schulz

  • 02-10-2019 / 17:13 WIB
  • Kategori:music and movie
Joker, The Artist dan Kevulgaran Andrew Schulz

MALANGPOSTONLINE.COM - Saya berkesempatan menonton perdana film Joker yang diperankan oleh Joaquin Phoenix di Mandala Malang Plasa, Rabu siang. Perlu saya tekankan, jangan membawa anak-anak menonton film yang disutradarai oleh Todd Phillips ini.

Karena, ini bukan film super hero. Tidak ada Batman dan tidak ada momen inspiratif untuk berkorban demi melawan kejahatan serta kegilaan Gotham, ala-ala Dark Knight yang diperankan oleh Christian Bale. Film Joker yang satu ini gila, depresif, dan membuat penonton menyaksikan kebusukan masyarakat yang memaksa para kaum marginal dan terpinggirkan, entah untuk mati sendirian di selokan, atau terjun selamanya dalam jurang insanity.

Gambaran quote Heath Ledger sebagai Joker dalam The Dark Knight, cukup satu hari yang buruk, dan satu dorongan kecil, akan menjatuhkan orang dalam kegilaan, tersirat dari fim Joker. Sama seperti ini juga gambaran saya soal Arthur Fleck, sosok badut gagal yang hari-harinya diisi dengan depresi serta frustasi.

Saya tidak akan spoiler dan merusak cara pandang calon penonton yang masih akan mendatangi bioskop hari ini atau esok. Namun, izinkan saya menggambarkan sosok yang bermetamorfosis dari seorang terpinggirkan seperti Arthur, yang di mana saya sangat bisa berempati, hingga akhirnya berubah menjadi Pangeran Kejahatan yang karismatik di antara gelapnya kota Gotham.

Sebelum membahas metamorfosa itu,saya akan mencoba mengurut Joker berdasarkan karakter dan filmnya. Banyak fans Joker dan DC yang membanding-bandingkan para pemeran super villain ini dari semua film Batman yang sudah tayang. Ada yang menyebut, Joker Jack Nicholson sebagai Joker Mafia

Dalam film Batman saat diperankan Michael Keaton, Joker berkeliaran membawa Tommy Gun, lalu memberedet dan membunuh orang.

Ada juga The Joker yang diperankan Jared Leto, didapuk sebagian penonton setia film Batman sebagai the worst Joker karena karakter yang terlalu offside dari ekspektasi para fans. Sebab, Joker Leto muncul di Suicide Squad, ketika para fans Batman masih belum bisa move on dari Heath Ledger.

Bagi yang belum tahu, sebelum Joker Joaquin Phoenix, Heath Ledger dianggap sebagai the best Joker dengan anarkisme, karakter anti kemapanan yang sedikit banyak menggambarkan betapa dark dan kacaunya kota Gotham. Gaya Joker Heath Ledger sangat memorable.

Bahkan para maniak Batman menyebut Joker sebagai the anarcist, karena ide-idenya yang menghancurkan tatanan masyarakat atau society yang memaksa orang untuk beradaptasi atau mati. Lalu, ada pula sosok Joker kartun, yang suaranya diperankan oleh pemain Luke Skywalker Starwars, Mark Hamill.

Bagi generasi yang menonton kartun Batman, sosok pengisi suara Joker ini dianggap tidak akan tergantikan, bahkan mungkin disebut paling cocok menggambarkan tawa gila Joker ketika beradu siasat melawan Batman. Hubungan kausal, saling membutuhkan, love hate antara Batman dan Joker yang sedikit diulas oleh Heath Ledger di Dark Knight, ditunjukkan secara vulgar oleh Mark

Hamill. Terutama, saat memerankan Joker di film kartun Batman : The Killing Joke.

Lalu, bagaimana dengan metamorfomas Joaquin Phoenix yang membedakannya dengan Joker lain? Bagaimana saya menggambarkan karakternya dibandingkan Joker lainnya? Jika boleh memberi julukan, maka saya akan menyebut Joaquin Phoenix sebagai The Artist, dalam caranya menampilkan karakter Joker.

Sebab, banyak scene dalam film Joker di bioskop, yang menggambarkan kegilaan ala seniman, dalam hal ini stand up comedy (profesi yang coba didalami oleh Arthur). Secara menyimpang, Arthur yang bermetamorfosis, menentang ide umum soal apa yang lucu dan tidak.

Bahwa seni komedi yang lucu bagi masyarakat, kadang subjektif. Dan masyarakat memaksa orang yang berpikiran berbeda soal komedi, untuk berpikiran sama. Komedian wanna be seperti Arthur Fleck, dibenturkan pada standar kelucuan masyarakat, dan karena itu pula, dia memberontak.

Dengan kombinasi semua situasi depresif yang dia alami sepanjang film, sosok The Artist dari Joaquin mencapai klimaks di adegan final bersama Robert De Niro. Pesan dari Joker mengingatkan saya pada Andrew Schulz, stand up comedy naik daun di Youtube. Dia berkata bahwa komedi di Amerika, mungkin pula di dunia, hanya membuat orang bertepuk tangan dan tidak lagi secara jujur membuat orang tertawa. Karena itu, lewat channelnya, Andrew Schulz  mendobrak standar dark comedy.

Dia banyak mengguyonkan hal tabu yang sejatinya benar-benar real dan terjadi di masyarakat. Dengan perspektif kocaknya, Andrew mampu menyajikan tragedi menjadi sesuatu yang lucu.

Upaya Andrew dengan ratusan ribu subscribernya mengulik komedi dalam tragedi, disebutkan pula oleh Joker.

“I thought my life was a tragedy but then I learned it was a comedy.”

Momen dialog ini sangat disturbing dan sinting, karena Joaquin mengucapkannya dalam adegan yang menurut saya mengunci dan menyelesaikan metamorfosa dari Arthur Fleck menjadi Joker.

Hampir sama seperti Joker yang jengah dengan masyarakat ignorance yang membiarkan penyakit mental menggerogoti serta tidak benar-benar peduli pada penderitanya, Andrew juga jengah dengan komedi yang tumpul, lemah dan tidak thought provoking serta menghindari pembahasan semua realitas sosial yang tengah terjadi di masyarakat, termasuk penyakit-penyakit sosialnya.

Hal terburuk dari penyakit masyarakat adalah orang berharap kita semua berperilaku seakan tidak ada penyakit itu. Untuk menutup review saya yang biasa-biasa saja ini, saya mengutip kata-kata Joker yang diucapkan dan disounding sepanjang film, dan kalimat ini menurut saya senada dengan ide tersirat Andrew Schulz soal kebobrokan masyarakat dan penyakitnya.

"The worst part about having a mental illness is people expect you to behave as if you don't.”

"Hal terburuk dari penyakit mental adalah orang berharap kamu berperilaku seakan kamu tak memiliki penyakit itu."

(fino yudistira/MALANGPOSTONLINE.COM)

Editor : fin
Uploader : slatem
Penulis : fin
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU