Jelang Kasada Suhu Ngadisari 8 Derajat

  • 17-07-2019 / 21:40 WIB
  • Kategori:Kabupaten, Destinasi
Jelang Kasada Suhu Ngadisari 8 Derajat Ritual untuk Yadnya Kasada sudah mulai digelar malam ini di Balai Desa Ngadisari.

MALANGPOSTONLINE.COM - Ritual untuk Yadnya Kasada sudah mulai digelar malam ini di Balai Desa Ngadisari. Tim Malang Post Online hadir langsung di lokasi, yakni wartawan Ira Ravika dan Fotografer Ipunk Purwanto. Suhu tembus 8 derajat celcius. Di pendopo Balai Desa Ngadisari, kegiatan resepsi Yadnya Kasada Bromo 2019 diawali dengan tari Beskalan Lanang.

Kegiatan resepsi dimulai pukul 19.55. Wisatawan sudah ramai menyerbu areal Gunung Bromo. Menurut Sarmin, Kasi Wilayah 1 TNBTS, Kasada selalu bersamaan dengan fenomena frost. Fenomena itu akhir-akhir ini terjadi juga memberikan dampak peningkatan jumlah wisatawan. "Sebetulnya frost itu bukan sesuatu yang baru. Tapi sudah lama. Tapi karena sekarang viral, jadi banyak yang penasaran," tambahnya.

Frost terjadi saat musim kemarau. Atau ketika suhu sangat ekstrem, yaitu ketika suhu mencapai minus derajat. Soal Yadnya Kasada, kata dia merupakan kegiatan adat yang digelar setiap tahun. Namun demikian, kegiatan ini sangat menarik, karena selain acara seremonial juga ada acara ritual.

"Yadnya Kasada ini dimulai Jumat (12/7) lalu. Hari ini (Rabu) acara seremonial. Menurut agendanya juga ada pengukuhan warga kehormatan," katanya.

Acara puncak, kata Sarmin ini  akan dimulai Kamis dinihari.  Dimulai pukul 01.00, yaitu pemberangkatan ongkek dan umat atau masyarakat adat Tengger menuju lautan pasir Gunung Bromo dari pintu gerbang masing-masing. Yakni wilayah yaitu Cemara Lawang ( Tengger Probolinggo), Pakis Bincil (Tengger Pasuruan), Jemplang ( Tengger Malang ) dan Gunung Jantur (Tengger Lumajang).

 

 

"Warga Tengger yang ikut upacara adat Yadnya Kasada sendiri biasanya 6.000- 7.000 orang. Sedangkan wisatawan yang datang biasanya mencapai 2.000. Itu mencakup dari mancanegara dan lokal," ungkapnya kepada Malang Post di Warung Gunung, Cemoro Lawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. 

Sarmin menyebutkan untuk warga suku Tengger yang ikut ritual tak ditarik retribusi. Bahkan tak ada retribusi untuk umat sejak tiga hari lalu.

"Dibandingkan dengan tahun lalu untuk jumlah wisatawan tidak jauh berbeda. Tapi kami juga belum tahu jumlah tepatnya. Ya sekitar 2.000 an lah. Kebanyakan adalah penduduk lokal," tambahnya.(ira/ary)

Editor : ary
Uploader : slatem
Penulis : ira
Fotografer : Ipunk

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU