Batik Sengguruh, Dari Pengisi Waktu Tunggu, Kini Rintis Kampung Budaya

  • 12-09-2019 / 20:22 WIB
  • Kategori:Kabupaten
Batik Sengguruh, Dari Pengisi Waktu Tunggu, Kini Rintis Kampung Budaya

MALANG - Batik lokal Malangan terus menunjukkan eksistensinya. Batik Seng, batik lokal asli kampung Desa Sengguruh Kepanjen misalnya, kini berproses menjadi banyak sentra pengrajin batik.

Batik lokal asli Gondomono Sengguruh Kabupaten Malang ini terlahir sejak 2014 silam, dan lebih dikenal dengan Batik Seng. Awalnya, kerajinan membatik di tempat ini hanya keterampilan waktu luang para ibu warga sekitar, sembari menunggu anaknya sekolah.

"Awalnya hanya memberikan pelatihan wali santri yang menunggui anaknya belajar di sekolah alam MI Bilingual Al Ikhlas. Jika terjual, hasilnya untuk bantu biaya operasional sekolah," kata Evi Wahyu Astutik, selaku orang pertama yang andil mengajari membatik Seng, Kamis (12/9/2019) siang.

Dari sekadar latihan ini, lanjutnya, lalu sesekali warga menjadi pengrajin kain batik dan mendapatkan pekerjaan borongan. Mereka pun bisa mendapatkan penghasilan dari membatik, dihitung berapa lembar kain batik yang dihasilkan.

Pendiri Batik Seng, Wiwik Indiastutik Wulandari menambahkan, motif awal batik adalah daun dan bunga enceng gondok. Dikatakan, motif ini memiliki makna, bahwa meski merupakan tanaman perusak yang mengganggu waduk Sungai Brantas, namun tetap bisa dimanfaatkan menjadi motif kerajinan yang bernilai ekonomi.

"Berikutnya, motif mengikuti trend seperti wayang dan topeng. Sekarang sudah ada sekitar 25 motif, paling mendominasi motif flora," kata Wiwik.

Sejumlah motif Batik Seng bahkan sudah dipatenkan. Menurut Wiwik, sudah punya lebih dari 15 sertifikat Hak Cipta dari Dirjen Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM. Diantaranya, untuk Ciptaan Seni motif Egon Menari dan motif Bendungan Sutami, keduanya dipatenkan pada 22 Januari 2017. Ciptaan motif paling awal adalah Kembang Srengenge Sulur (1 Jan 2016).

Bahkan, belum lama ini pegiat Batik Seng juga mendapatkan penghargaan sebagai 20 profil Finalis Pengusaha Mikro dari Citi Foundation, melalui Citi Microenterpreneurship Awards 2018-2019.

"Tahun ini, kami juga memperoleh insentif bantuan pemerintah dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Indonesia, dibantu modal senilai Rp 48 juta untuk kategori fashion. Ini setelah dari proposal masuk 1.000 lebih, yang disetujui 62 proposal saja," bebernya.

Bersama timnya, Wiwik berencana mengembangkan kerajinan membatik di media kulit, dengan memberi pelatihan sampai produksi. Yang disiapkan nantinya motif warna alam, termasuk untuk ecoprinting.

"Kami berharap nantinya bisa muncul sentra-sentra pengrajin batik di semua kampung yang ada di Sengguruh. Sehingga, bisa menjadi salah satu pemberdayaan ekonomi lokal warga," demikian Wiwik Wulandari. (amn/Malangpostonline.com)

Editor : bua
Uploader : slatem
Penulis : amn
Fotografer : amn

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU