BPCB Trowulan Temukan Situs Petirtaan Merjosari

  • 07-10-2019 / 15:17 WIB
  • Kategori:Malang
BPCB Trowulan Temukan Situs Petirtaan Merjosari CEK : Petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya Trowulan, perwakilan Baranusa dan warga, saat menunjukkan lokasi yang diduga petirtaan peninggalan Kerajaan Kanjuruhan.

MALANG – Petugas BPCB Trowulan dan warga sekitar mendatangi sebuah sumber di kawasan Kelurahan Merjosari, Kota Malang, Senin pagi. Diduga kuat, sumber ini dulunya adalah petirtaan peninggalan Kerajaan Kanjuruhan yang usianya lebih dari 1200 tahun. Untuk mencapai lokasi ini, para petugas, melewati Jalan Joyosuko Metro.

Setelah mencapai ujung jalan dekat kantor MCW Kota Malang, petugas BPCB Trowulan masih berjalan lagi sampai melewati jembatan Kali Metro. Motor lalu diparkir di dekat jembatan yang sedang dibangun. Para petugas, berjalan kaki kurang lebih 500 meter, untuk menuju ke lokasi diduga petirtaan.

“Dulu, kami sudah pernah ke sini, dengan membawa arkeolog dari BPCB Trowulan. Hasil penyelidikan, diduga kuat kawasan ini memang petirtaan, peninggalan Kerajaan Kanjuruhan. Diduga, sumber air ini sudah ada di tahun 760 masehi,” kata Hariyoto, petugas BPCB Trowulan kepada Malang Post, di lokasi, Senin pagi.

Lokasi diduga petirtaan ini, tepat berada di dasar dinding tanah setinggi kurang lebih 10 meter. Dari sela-sela tanah, muncul air bening yang mengalir ke arah kali Metro. Di dekat dinding tanah, terdapat sebuah satu area seperti kolam, yang diduga kuat menjadi pusat petirtaan.

Kolam ini tidak dalam, hanya sedalam kurang lebih 1 meter dengan panjang dan lebar 1,5 meter. Tapi, kolam tersebut terlihat seperti buatan manusia, dan tidak terbentuk secara alami dari erosi air terhadap batuan cadas di sekitar sumber tersebut. Area yang berada di sekitar kawasan diduga petirtaan, memiliki luas kurang lebih 50 meter kali 50 meter.

Namun, menurut Hariyoto, area diduga petirtaan ini memiliki luas lebih dari itu. “Karena, di sekitar aliran menuju kali metro, ada lahan luas, yang sebenarnya merupakan batu cadas. Tapi, warga membawa tanah gembur, dan menempatkannya di atas batu cadas, untuk bercocok tanam,” tandas Hariyoto.

Hariyoto juga mengungkapkan, kawasan ini sangat mirip dengan petirtaan Ngawonggo Nanasan Tajinan. Selain itu, kawasan ini juga memiliki satu batu besar yang berada tidak jauh dari sumber air. Batu besar ini diduga umpak, karena terdapat satu cekungan seukuran kepalan tangan.

“Di sini juga ada umpak, yang menguatkan dugaan bahwa ini dulunya petirtaan. Kami, sudah melakukan penyelidikan, dan mengirimkan rekomendasi kepada Pemkot Malang untuk segera menjadikan kawasan ini cagar budaya,” sambung Jayadi, petugas BPCB Trowulan, sekaligus petugas di Candi Badut Kota Malang itu.

“Kalau dilihat dari lokasi, meski belum ada kepastian, lokasi ini sudah disebut benda cagar budaya dengan meninjau usianya. Umurnya sudah sangat tua. Kalau melihat posisinya, kawasan ini diduga ada koneksi dengan kerajaan Dinoyo dan kerajaan Kanjuruhan,” tandas Jayadi.

“Perlu ada tindaklanjut dari Pemkot Malang dan arkeolog Malang, supaya tidak menduga-duga tentang lokasi petirtaan ini,” sambungny. Selain umpak di dekat petirtaan, terdapat linggayoni yang letaknya di bagian atas area sumber air ini. Ferry Daud, warga Merjosari, mendorong Pemkot Malang untuk segera menjadikan kawasan ini cagar budaya.

Karena, pada bagian atas petirtaan, sudah ada rencana pembangunan perumahan. “Jangan sampai sudah terbangun perumahan, kawasan ini akhirnya tercemar, airnya jadi tidak jernih dan bening lagi, kan sayang,” tuturnya.

Sementara itu, Robiyan, Panglima Baranusa Kota Batu, yang ikut dalam kunjungan ke situs diduga petirtaan Kerajaan Kanjuruhan, menegaskan bahwa dia melihat kawasan ini memiliki kandungan air yang murni. Meskipun masih akan membawa sampel air untuk dites ke laboratorium, Robiyan mengaku sudah mencicipi air di petirtaan ini. “Rasa airnya seperti TDS 15, yang mengandung banyak oksigen, tapi masih perlu dites lagi,” tutupnya.(fin/Malangpostonline.com)

Editor : fin
Uploader : irawan
Penulis : fin
Fotografer : fin

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU