Diskusi Mengatasi Kekeringan di Kabupaten Malang (3/habis)

Ubah Strategi Hadapi Kekeringan, Saatnya Menabung Air

  • 08-10-2019 / 22:58 WIB
  • Kategori:Kabupaten
Ubah Strategi Hadapi Kekeringan, Saatnya Menabung Air GERAK BERSAMA: Direktur/Pemred Malang Post, Dewi Yuhana.  Camat Pagak Hari Krispriyanto, Camat Jabung  Hadi Sucipto, Kasi Trantib Kecamatan Kalipare  Eko Arif, Direktur Teknik Perumda Tirta Kanjuruhan,M Haris Fadillah, Sekretaris BPBD Kabupaten Malang, Bagyo Setiono, dan Kasi Pengembangan Prasarana Air Minum DPKPCK Kabupaten Malang  Sidharta Pagehgiri, ST usai diskusi.

BUTUH gerakan perubahan menghadapi kekeringan di wilayah Kabupaten Malang. Apalagi kekeringan merupakan masalah rutin setiap tahun. Masyarakat terdampak tak diposisikan sebagai obyek tapi subyek atasi persoalan.

Pentingnya gerakan baru mengatasi kekeringan diungkapkan Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, Bagyo Setiono. Dalam diskusi yang dipimpin Direktur sekaligus Pemred Malang Post Dewi Yuhana itu, Bagyo membeber 

strategi menabung air sebagai gerakan menghadapi kekeringan. Caranya yakni membuat  tandon untuk menadah air hujan, atau membuat wilayah resapan.

Gerakan tersebut merupakan salah satu cara efektif untuk menyelesaikan masalah kekeringan di Kabupaten Malang.  "Contohnya warga dengan empat  anggota keluarga memiliki tandon ukuran 10 meter kubik,  maka saat musim kemarau keluarga ini masih bertahan atau  dapat memenuhi kebutuhan air selama lebih dari satu bulan," kata Bagyo sembari menyebutkan perhitungan tersebut dengan asumsi warga menggunakan air 60 liter per hari.

Sejauh ini Bagyo getol menyampaikan ide gerakan menabung air. Namun demikian, belum semua warga paham. Padahal gagasan tersebut bermanfaat dan bisa dilakukan oleh warga sendiri. 

"Kalau terus menerus meminta pasokan air, mau sampai kapan?" katanya. Bagyo menyebutkan, kekurangan air di wilayah Malang selatan selain karena faktor alam, juga disebabkan bertambahnya jumlah penduduk.

"Dulu penduduknya sedikit, kebutuhan air dapat terpenuhi. Tapi sekarang jumlah penduduknya bertambah, kebutuhan air juga bertambah. Kondisi ini ditambah dengan faktor alam, berupa kemarau panjang, maka dampaknya kekeringan. Karena itu, harus ada sebuah gerakan perubahan, untuk menyelesaikan ini,” paparnya.
Ia mengakui wilayah Malang selatan memiliki struktur tanah berupa batuan karst sangatlah keras. Ada aliran sungai bawah tanah, tapi tidak besar. Kondisi ini pula yang menyebabkan sulit pengeboran untuk sumber air.

"Uji geolistrik sudah dilakukan jelasnya. Namun faktanya saat pengeboran, tidak ada air yang bisa keluar," urai Bagyo.

Selain gerakan menabung air, Bagyo mengajak warga menanam pohon, untuk membuat daerah resapan. Pohon yang ditanam harus berakar serabut, yang dapat menyimpan air.

"Ini juga yang perlu diperhatikan para kepala desa, jangan hanya menyediakan mobil siaga. Mobil pikup atau truk ini juga penting. Pentingnya ya seperti ini, saat musim kemarau, bisa digunakan untuk droping air ke daerah-daerah yang kekurangan air bersih," tambahnya.

Sementara berbagai langkah sudah ditempuh BPBD Kabupaten Malang mengatasi kekeringan. Di antaranya distribusi air ke daerah-daerah yang dilanda kekeringan.  

Hal yang sama juga disampaikan Kepala Seksi (Kasi) Pengembangan Prasarana Air Minum, Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Cipta Karya Kabupaten Malang, Sidharta Pagehgiri, ST.

Dalam diskusi yang digelar di kantor Malang Post, Jumat (4/10) itu, Sidharta mengatakan,

sesuai data dari Dinas PUSDA,  Kabupaten Malang memiliki sekitar 700- an sumber air. Namun demikian, keberadaannya tidak merata. Wilayah Kecamatan Donomulyo dan Sumbermanjing Wetan dengan struktur tanah karst merupakan wilayah yang minim sumber air.

"Geolistrik Kabupaten Malang tidak memiliki, tapi ada di Dirjen PU SDA. Jadi sering kami gunakan untuk melihat potensi aliran air bawah tanah. Banyak aliran air kecil, sehingga terbuang kembali ke pantai,” paparnya.

Berkurangnya sumber air atau debit air itu juga disebabkan alih fungsi lahan. Terkait dengan menangani kekurangan air, Bidang Cipta Karya DPKPCK memang terlibat secara langsung. Pihaknya pun telah menyusun program penanganan, mulai dari jangka pendek, jangka menengah, hingga jangka panjang.

"Untuk jangka pendek, kami sudah melakukan upaya. Tapi dulu kami UPTD, punya mobil tangki yang cukup. Tangki itu memang semula digunakan untuk menyiram tanaman, dan bisa digunakan untuk droping air.Tapi setelah UPTD ini pindah SOTK, armadanya berkurang. Sementara tugas kami tetap,” bebernya.

Untuk penanganan, menurut Sidharta, pihaknya telah melakukan kewajiban, yaitu memperluas jaringan. "Bersama Perumda Tirta Kanjuruhan kami sudah membuat SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum). Tugas kami membangun, dan terus berupaya untuk mereasilasi pembangunan SPAM," ungkapnya.

Sidharta mengatakan untuk pembangunan jaringan air,  pihaknya juga bekerjasama dengan Dinas PUSDA. Terutama dalam hal pemetaan wilayah. "Untuk membangun jaringan ini memang dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Butuh dukungan dari pemerintah provinsi dan pemerintah pusat, untuk percepatan pembangunan jaringan ini," tambah dia.

Ia juga membeber selain membangung jaringan, keberadaan perusahaan air minum yang dikelola warga juga perlu ditata. "Karena sejatinya air itu cukup. Tapi karena ada kelompok-kelompok masyarakat yang mengelola, akhirnya air tidak cukup," tambahnya.

Dia juga menyebutkan jika berbicara air tidak cukup dengan satu dua pihak. Tapi lintas sektoral. Dengan begitu, akan diperoleh solusi yang tepat.

Seperti diberitakan sebelumnya, selain dihadiri  Sekretaris BPBD Kabupaten Malang, Bagyo Setiono dan Kepala Seksi Pengembangan Prasarana Air Minum, Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Cipta Karya, Sidharta Pagehgiri, ST, diskusi ini dikuti sejumlah kalangan. Yakni Camat Pagak, Hari Krispriyanto, Camat Jabung, Hadi Sucipto, Kasi Trantib Kecamatan Kalipare,  Eko Arif dan Direktur Teknik Perumda Tirta Kanjuruhan, M Haris Fadillah. (ira/van)

Editor : van
Uploader : angga
Penulis : ira
Fotografer : Firman

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU