Kasus Tertinggi di Dampit, Turen, Kepanjen, Lawang/

Kekerasan Seksual Membekas Sampai Tua

  • 17-11-2019 / 04:46 WIB
  • Kategori:Kabupaten
Kekerasan Seksual Membekas Sampai Tua

KURANGNYA perhatian orang tua serta salah pergaulan, menjadi salah satu penyebab terjadinya kekerasan pada anak. Baik fisik ataupun seksual. Di Kabupaten Malang, jumlah kekerasan terhadap anak masih cukup tinggi. Kejahatan yang menimpa terhadap anak ini, terutama kekerasan seksual akan membekas hingga mereka tua.

Berdasarkan data laporan masuk di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Satreskrim Polres Malang, pada tahun ini sampai bulan Oktober, ada 89 kasus. Rinciannya, 78 kasus adalah kekerasan seksual, dan 11 kasus adalah kekerasan fisik.

"Sedangkan untuk tahun 2018, jumlah kekerasan terhadap anak sebanyak 109 kasus. 81 kasus adalah kekerasan seksual dan 27 kasus adalah kekerasan fisik," ungkap Kanit PPA Satreskrim Polres Malang, Ipda Yulistiana Sri Iriana.

Menurut Yulistiana, jumlah kasus kekerasan terhadap anak ini, terjadi hampir merata di semua kecamatan di Kabupaten Malang. Tertinggi adalah wilayah Kecamatan Dampit, kemudian Turen dan Kepanjen, serta Kecamatan Lawang.

Usia pelakunya dominan adalah dewasa, mulai usia 18 - 25 tahun sebanyak 53 persen. Kemudian, usia 26 - 33 tahun sebanyak 14 persen, usia 34 - 41 tahun sebanyak 9 persen, usia 42 - 49 tahun sebanyak 3 persen, usia 50 - 57 tahun sebanyak 6 persen, usia 58 - 65 tahun sebanyak 4 persen, usia 66 - 73 tahun sebanyak 1 persen serta usia 74 - 81 tahun sebanyak 3 persen. Sedangkan untuk pelakunya anak-anak usia 10 - 17 tahun sebanyak 7 persen.

Dikatakannya, penyebab terjadinya kekerasan seksual terhadap anak, dikarenakan anak (baik korban dan pelaku, red) salah pergaulan. Kurangnya perhatian dan pengawasan dari orangtua. Dimana orangtua seakan tidak peduli dengan pergaulan anaknya.

"Termasuk broken home, juga menjadi salah satu penyebabnya, meskipun tidak banyak. Selain itu, pengaruh video porno juga menjadi penyebab terjadinya kekerasan seksual," ujar Yulistiana.

Begitu juga dengan kekerasan fisik, penyebabnya juga karena anak salah pergaulan dan kurang mendapat perhatian orangtua. Pelaku dari kekerasan fisik terhadap anak ini, kebanyakan dilakukan oleh orang lain yang dikenal oleh korban.

"Kalau pelakunya orang tua kandung sendiri, jarang terjadi. Setahun mungkin hanya satu sampai dua kasus. Penyebabnya karena kesal dan faktor ekonomi keluarga," tutur wanita berhijab ini.

Modus operandi dari para pelaku kekerasan ini, terutama kekerasan seksual, adalah karena bujuk rayu dan tipu muslihat. Namun juga, ada yang melakukan kekerasan fisik. Termasuk melakukan pengancaman terhadap korban.

Dampak dari kekerasan yang dialami oleh anak-anak ini, paling membekas adalah trauma yang mendalam. Terutama anak yang menjadi korban kekerasan seksual. Kejadian pahit yang dialaminya, akan terpendam bertahun-tahun sampai anak tersebut dewasa.

"Kalau kekerasan fisik mungkin masih bisa diobati. Tetapi kalau kekerasan seksual, akan membekas terus sampai anak dewasa, sehingga menyebabkan trauma yang mendalam. Dan kebanyakan, pelaku kekerasan seksual ini, dulunya pernah menjadi korban," jelasnya.

Langkah dari UPPA Satreskrim Polres Malang, dengan banyaknya kasus kekerasan ini, dengan terus melakukan edukasi terhadap masyarakat. Karena selama ini, masyarakat Kabupaten Malang masih banyak yang kurang sadar hukum.

Anak ataupun orangtua yang menjadi korban, tidak mau melapor karena menjadi tabu dan malu. Padahal ketika dibiarkan tanpa melaporkan kepada pihak berwajib, justru akan menjadikan beban pada anak yang menjadi korban.

"Selama ini bersama dengan Pemerintah Kabupaten Malang serta instansi terkait, selalu bekerjasama memberikan edukasi. Karena kesadaran masyarakat masih kurang, dengan tidak mau melapor ketika menjadi korban kekerasan fisik atau seksual," pungkasnya.(agp/ary)

Editor : Ary
Uploader : irawan
Penulis : agp
Fotografer : agp

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU