Rebutan Warisan, PA Kabupaten Malang Eksekusi Tanah Sengketa Lalu Dibagi Rata

  • 20-11-2019 / 17:09 WIB
  • Kategori:Kabupaten
Rebutan Warisan, PA Kabupaten Malang Eksekusi Tanah Sengketa Lalu Dibagi Rata Petugas PA Kabupaten Malang dengan pengawalan puluhan polisi melakukan eksekusi tanah waris.

Malangpostonline.com - Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Malang mengeksekusi tanah waris di Desa Tanggung, Kecamatan Turen, Rabu (20/11) siang. Eksekusi sebidang tanah seluas 2093 M2 tersebut, berdasarkan putusan Ketua PA Kabupaten Malang, atas perkara gugatan nomor register 5844/Pdt.G/PA.Kab.Mlg.

Proses eksekusi dipimpin oleh Panitera Muda Gugatan Pengadilan Agama Kabupaten Malang, Margono. Selama eksekusi berlangsung, dikawal oleh puluhan petugas Polres Malang dan Polsek Turen. Tidak ada penolakan atau perlawanan dari pihak termohon, semuanya berjalan dengan lancar.

"Perkara gugatan nomor 5844/Pdt.G/PA.Kab.Mlg ini, sudah diputus pada 7 Agustus 2017 dan mempunyai kekuatan hukum tetap. Kemudian dari putusan tersebut, Ketua PA Kabupaten Malang membuat penetapan ekskusi pada 22 Oktober 2019 lalu, dan baru hari ini (Rabu, red) dilakukan eksekusi," terang Margono, usai melakukan eksekusi.

Menurutnya, perkara gugatan tanah waris ini, terdaftar di PA Kabupaten Malang pada 20 Oktober 2016. Pemohon gugatan ada tiga orang. Yakni, Watilah, Ngatiyah dan Budianto. Mereka adalah anak​ dari almarhum Rubai, yang merupakan anak kandung dari pewaris almarhum Jumar serta almarhumah Kariyatun.

Sedangkan pihak termohon, ada delapan orang. Enam diantaranya adalah saudara kandung dari almarhum Rubai, yakni Rupiah, Rupani, Suyateni, Tono, Noto dan Mustopo.

"Jadi, gugatan ahli waris ini bukan dengan orang lain. Melainkan antara keponakan dengan bibi atau paman," ujarnya.

Dari gugatan yang diajukan tersebut, sidang berjalan alot sampai delapan bulan. Namun lima kali persidangan, pihak termohon tidak ada yang hadir. Sehingga Ketua PA Kabupaten Malang, membuat putusan dengan mengabulkan gugatan pemohon, untuk membagi tanah waris pada 7 Agustus 2017.

Selanjutnya, setelah putusan tersebut pada tanggal 23 Agustus 2017, pihak pemohon mengajukan eksekusi. Kemudian pada 15 April 2018, PA Kabupaten Malang melakukan sita jaminan atas aset tanah tersebut.

"Seharusnya setelah ada sita jaminan, tidak ada bangunan atau kegiatan. Tetapi faktanya pada lahan sengketa masih ada kegiatan, dan seharusnya sudah menjadi ranah pidana," urainya.

Setelah sita jaminan, pada 18 Mei 2018, PA Kabupaten Malang melakukan pemeriksaan setempat. Termasuk juga sudah memberikan peringatan aanmaning untuk berdamai. Yakni pada 19 Desember 2018 dan 13 Maret 2019. Tetapi karena tidak bisa berdamai, baru pada 22 Oktober 2019 keluarkan penetapan eksekusi.

Selanjutnya, setelah dilakukan eksekusi, tanah seluas 2093 M2 tersebut, dibagikan kepada pihak ahli waris. Pembagian tanah ditentukan oleh PA, sesuai dengan keputusan dan langsung dipasang patok atau pembatas masing-masing.

Rinciannya, untuk ketiga pemohon yang merupakan ahli waris pengganti dari almarhum Rubai, masing-masing Watilah mendapat 94,526 m2, Ngatiyah mendapat 94,520 m2, serta Budianto mendapat 189,254 m2.

Dari sisi pihak almarhum Jumar, Suyateni mendapat 189,277 m2, Rupani mendapat 189,276 m2, Rupiah mendapat 189,197 m2, Tono mendapat 378,385 m2, Mustopo mendapat 378,434 m2, dan Noto mendapat 378,4 m2.

"Jadi eksekusi hari ini adalah pembagian​ yang sudah ditetapkan oleh majelis hakim," katanya.

Terpisah, Watilah, salah satu pemohon menerangkan, bahwa selama ini tanah seluas​ 2093 m2 tersebut dikuasai salah satu anak dari Jumar. Tanah itu digunakan untuk produksi​ batu bata. Sebelumnya, pemohon sudah mengadu ke desa.

"Dulu pernah dibagi sama kantor desa, dipatok juga pembagiannya. Tapi​ ada yang mencabut patok itu. Sehingga saya mengajukan gugatan ke PA Kabupaten Malang. Saya meminta keadilan saja. Rencananya bagian saya akan saya tanami pohon sengon," ucap Watilah.(agp/Malangpostonline.com )

Editor : agp
Uploader : irawan
Penulis : agp
Fotografer : agp

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU