Ketika Mantan Pecandu Narkoba Jadi Inspirasi

Bermodal Limbah Kayu, Ukirannya Pikat Wisatawan Asing

  • 22-11-2019 / 01:30 WIB
  • Kategori:Kabupaten
Bermodal Limbah Kayu, Ukirannya Pikat Wisatawan Asing SENI: Totok Setiawan Putranto atau Totok Art kini memberi contoh generasi muda dengan karya ukiran berbahan limbah kayu dan bambu.

Malangpostonline.com - RODA kehidupan pasti berputar. Selama memiliki tekad untuk berubah, pasti akan ada jalan keluarnya. Kisah inilah yang dialami Totok Setiawan Putranto, warga asal Desa Sanankerto, Kecamatan Turen. Ia pernah dikucilkan akibat terjebak penyalahgunaan narkotika. Namun kini pria 31tahun  itu  jadi inspirasi karena karyanya.

Sehari-harinya ia akrab disapa Totok Art. Sebelum tahun 2010, ia terlibat penyalahgunaan narkoba. Ia penah dipandang sebelah mata. ”Saya dulunya memang pecandu narkoba," ucap Totok. Namun pandangan negatif orang terhadap dirinya kini berputar 360 derajat. Pria kelahiran 19 Juli 1988 itu sudah berubah.  Segala jenis narkoba telah dijauhi.

Sekarang Totok Art dikenal sebagai inspirasi  anak muda di lingkungannya. Ia mengangkat potensi desanya dengan kerajinan ukiran dari limbah kayu serta bambu. Hasil karya Totok Art diminati beberapa negara.

"Semuanya memang butuh perjuangan dan kerja keras. Selama kita bertekad mau berubah, pasti akan ada jalannya," ujarnya.

Dia mulai belajar membuat kerajinan ukiran dari kayu pada tahun 2010. Saat itu secara otodidak belajar mengukir dari limbah kayu. Beberapa kali membuat ukiran memang tidak sesuai dengan harapannya.

Tetapi, Totok Art tidak putus asa. Dia terus belajar dan belajar, sampai hasil karyanya sempurna. "Saya terus belajar, sembari mencari tahu alat apa yang cocok untuk membuat kerajinan," kata dia.

Butuh waktu lima tahun untuk belajar dan meningkatkan skill membuat kerajinan. Hingga akhirnya pada tahun 2015 setelah karyanya sempurna, Totok mulai serius membuat kerajinan ukiran.

Bahan utamanya limbah kayu dan bambu. Selain asbak, juga beberapa patung. Seperti patung biksu, wanita membawa padi serta kerajinan lainnya.

Alhasil karyanya ini, ternyata banyak yang berminat. Beberapa hasil karyanya laku terjual. Tidak hanya dibeli orang di sekitarnya, tetapi juga beberapa warga dari luar kota dan pulau, banyak yang tertarik dengan karya Totok.

Bahkan, tempat karya Totok di Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, sudah beberapa kali dikunjungi wisawatan untuk belajar membuat kerajinan. Tidak hanya wisatawan lokal tapi juga dari luar negeri.

"Rombongan wisatawan dari Belgia, Maroko serta Swiss pernah datang ke tempat saya. Mereka belajar membuat kerajinan. Termasuk juga membeli beberapa kerajinan ukiran yang saya buat," urai bapak dua orang anak ini.

Selain membuat kerajinan patung dan lainnya, sekarang ini Totok mengaku sedang fokus menggarap kerajinan dengan karakter wajah. Contoh karakter wajah yang sudah selesai dibuatnya seperti Albert Einstein serta Mr. Bean.

"Bentuk karakter wajah lainnya, saya kembangkan sesuai dengan insting dan imajinasi saja," katanya.

Usaha kerajinan kayu dan bambu ini, Totok, mengatakan hanya bermodal alat pahat serta gergaji saja. Itupun modalnya tidak terlalu besar, hanya sekitar Rp 200 ribu. Namun hasil yang didapatkan bisa berlipat ganda hingga jutaan rupiah.

Setiap hasil karyanya, dibanderol dengan harga Rp 30 ribu untuk jenis kerajinan seperti asbak. Sampai dengan harga Rp 1,5 juta. "Harga kerajinan sesuai dengan tingkat kesulitan pembuatannya," ucapnya.

Selama ini, dikatakan Totok, dia membuat kerajinan seorang diri. Satu kerajinan seperti patung atau karakter wajah, diselesaikan dalam waktu tiga hari. Tetapi ketika ada banyak pesanan, Totok melibatkan anak-anak muda kampung untuk membantunya.

"Saya memasarkannya lewat online di Facebook dan Instagram dengan ID Totok Art. Ketika ada pesanan banyak seperti permintaan kerajinan asbak dari Kalimantan, saya pasti melibatkan pemuda dan warga sekitar," bebernya.

Untuk bahan kayu dan bambu, Totok mengatakan didapat dari limbah yang tidak terpakai. Kadang juga membeli dari warga yang mengumpulkan limbah kayu dan bambu.

Motivasinya membuat kerajinan dari bambu serta kayu karena ingin memanfaatkan limbah yang terbuang. Karena dari pada menumpuk menjadi sampah, ternyata bisa dijadikan karya bernilai seni tinggi.

"Saya hanya ingin meningkatkan nilai bahan limbah. Karena berkarya tidak harus biaya besar. Mencari pundi-pundi rupiah bisa juga didapat dari limbah bekas yang tidak terpakai," pungkasnya.(agung priyo/van)

Editor : van
Uploader : slatem
Penulis : agp
Fotografer : agp

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU