Konflik Antar Warga Terkait Karamba, Perum Jasa Tirta I Gelar Mediasi

  • 10-01-2020 / 13:27 WIB
  • Kategori:Kabupaten
Konflik Antar Warga Terkait Karamba, Perum Jasa Tirta I Gelar Mediasi Panas : Suasana di luar antara warga pro dan kontra sempt panas dan adu mulut di luar Perum Jasa Tirta I, Waduk Selorejo, Kacamatan Ngantang, Kab Malang siang ini.

Malangpostonline.com, NGANTANG - Persoalan pemanfaatan Bendungan atau Waduk Selorejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang terkait adanya pemasangan Karamba Jaring Apung yang membuat gap dan perselisihan antar warga yang ada di lingkup Waduk Selorejo akhirnya diakomodir oleh Perusahaan Umum (PERUM) Jasa Tirta I.

Dalam perjalannya konflik horizontal atau antar warga di lingkup Waduk Selorejo terjadi sejak Agustus 2019 lalu. Konflik ini menyebabkan adanya perpecahan antara warga yang pro dengan adanya Karamba Jaring Apung dan yang kontra.

Mereka warga yang pro adalah yang berkolompok membuat jaring apung. Sedangkan untuk yang kontra adalah mereka yang mereka sehari-harinya bekerja sebagai nelayan, pemilik perahu, dan meraka yang sehari-hari memancing dan mencari ikan dengan menjaaring untuk perekonomian sehari-hari. Bahkan ada juga konunitas Mancing Mania Ngantang (MMN).

Dari konflik horizontal yang terjadi dan tak ingin berlarut-larut, Perum Jasa Tirta I akhirnya menggelar sarasehan pengelolaan perikanan darat di Waduk Selorejo, Kacamatan Ngantang, Kabupaten Malang Jumat (10/1) pagi ini. Dalam sarasehan tersebut dihadiri oleh semua elemen yang berkepentingan dan bertanggung jawan atas Waduk Selorejo.

Dalam jalannya sarasehan berlangsung dengan aman, kondusif, dan komunikatif. Meski sempt memanas dan bisa diredam. Baik dari perwakilan warga yang pro dan kontra hingga pihak yang berwenang yakni Perum Jasa Tirta I.

Suhartono, Kades Sumberagung selaku perwakilan warga yang kontra dengan adanya keramba jaring apung menyampaikan tentang keluhan warga yang hidup dari dari dan disekitar Waduk Selorejo.

Ia menyampaikan beberapa poin penting diantaranya dengan adanya keramba apung dan sekat membuat dan mengurangi lingkup gerak warga masyarakat kecil yang hidupnya dari bendungan. Misalnya mereka yang hidup dari memamcing dan menjala.

"Dengan adanya keramba apung dan sekat membuat nelayan yang memancing dan menjala semakin kecil pendapatannya. Bahkan ruang gerak dalam memancing dibatasi," ujar Harto dalam forum.

Sebaliknya, lanjut dia, mereka yang punya keramba hasilnya mencapai ton. Bukan kwintal lagi. Hasilnya pribadi digunakan untuk pribadi. "Ini artinya tidak adil. Apalagi saat ini bendingan yang menjadi tanggung jawab Perum Jasa Tirta I wes asat," imbuhnya.

Karena itu, ia mengungkapkan, demi kelestarian ekosistem di Waduk Selorejo, dengan melihat fakta yang ada. Harto ingin suara dan fakta yang ada di masyarakat mampu diakomodir oleh Jasa Tirta dan sepenuhnya keputusan  diserahkan kepada Jasa Tirta.

"Dengan adanya polemik ini masyarakat kami telah terjadi gap, singgung-singgungan, gelut (berkelahi.red), perahu dipotong hingga ditenggelamkan. Saya mohon pemerintah Provinsi, Kab. Malang, memberikan keputusan yang adil bagi masyarakat dan masyarakat tidak ada gap," harapnya.

Sementara itu, perwakilan yang pro dari kelompok msyarakat yang memiliki keramba, Miskan menyampaikan jika dirinya bersama kompoknya tidak menggunakan keramba apung. Tapi   hanya menggunakan keramba sekat.

Ia juga mengungkapkan jika dengan adanya kekompok yang membuka usaha keramba pendapatan semakin meningkat dibanding dulunya nelayan. Bahkan hasil yang didapatnya juga merata.

"Dulu tidak ada keramba pendapatan beda. Sekarang dengan adaya keramba pendapatan (kelompok.red) merata. Kami juga meyuarakan paling keras peencarian ikan dengan menggunakan sodok," bebernya.

Ia juga mengungkapkan jika kelompoknya ikut melakukan dan mengembangkan benih ikan. Bahkan ia juga mengelak jika dari keramba kelompok yang ada menghasilkan hingga mancapai ton. Tapi hanya hitungan kwintal per hari. (eri)

Editor : eri
Uploader : rois
Penulis : eri
Fotografer : eri

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU