Jembatan Ambruk Kecamatan Dau, DPRD Panggil Dinas Bina Marga dan Inspektorat

  • 03-02-2020 / 00:25 WIB
  • Kategori:Kabupaten
Jembatan Ambruk Kecamatan Dau, DPRD Panggil Dinas Bina Marga dan Inspektorat KERJA BAKTI:  Warga kerja bakti membangun jembatan darurat di Dusun Krajan, Desa Gadingkulon, jembatan dari bambu tersebut bisa dilewati sepeda motor.

Malangpostonline.com – Jembatan ambruk di Desa Gadingkulon Kecamatan Dau terus diseriusi oleh DPRD Kabupaten Malang. Dewan siap melayangkan surat pemanggilan terhadap pihak Dinas PU Bina Marga dan Inspektorat. Surat pemanggilan rencananya akan dilayangkan hari ini.

Menurut Ketua DPRD Kabupaten Malang  Didik Gatot Subroto, kapasitas Dinas PU Bina Marga selaku pemilik proyek pembangunan Jembatan Dusun Krajan. Sedangkan Inspektorat berperan sebagai pengawas. Mereka diharapkan kehadirannya hari Rabu (5/2) mendatang.

“Mereka yang dipanggil untuk memberikan klarifikasi, yaitu menjelaskan kronologis proses mulai dari perencanaan, penetapan, pelelangan, pembangunan, sampai dengan penyerahan,’’ kata Didik sapaan akrabnya.

Dia menyebutkan, bahwa dalam sebuah pekerjaan, juga ada di dalamnya penggunaan konsultan, serta pihak ketiga.

“Nah ini semua akan diklarifikasi,’’ tambahnya.

Didik juga berharap, dalam proses klarifikasi ini, tim investigasi dari Polres Malang juga sudah mendapatkan hasil. Sehingga hasil investigasi ini nanti juga menjadi acuan untuk klarifikasi.

“Jadi semuanya seiring sejalan. Polisi  dari unit Tipikor melakukan investigasi, dan kami juga meminta klarifikasi. Ini juga salah satu bentuk atau upaya untuk pengawasan kinerja daripada eksekutif,’’ tandas mantan Kepala Desa Tunjungtirto, Singosari ini.

Sementara itu, Pembangunan jembatan darut di Dusun Krajan, Desa Gadingkulon, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang akhirnya selesai. Meskipun belum 100 persen, namun pembangunan jembatan dilakukan oleh Muspika Kecamatan Dau, bersama warga, relawan juga anggota TNI/Polri, sudah bisa dilewati.

“Alhamdulillah, sudah selesai pembangunanannya. Sudah bisa dilewati,’’ kata Camat Dau Eko Margianto.

Eko mengatakan jembatan darurat yang dibangun terbuat dari bambu. Sesuai dengan namanya, yaitu jembatan darurat, kendaraan yang melintas di jembatan ini hanya kendaraan roda dua saja.  Sementara untuk kendaraan roda empat, dikatakan Eko bisa menggunakan jalur utama.

Eko menjelaskan, jalan di Dusun Krajan, Desa Gadingkulon, merupakan jalur alternatif. Jalan itu dibangun untuk memberikan kemudahan warga terhadap akses jalan. 

“Ada jalur utama, memang sedikit lebih jauh, dan kendaraan roda empat bisa lewat sana,’’ tambah mantan Camat Singosari ini.

Kepada Malang Post, Eko menyebutkan secara fisik pembangunan jembatan darurat ini dilakukan mulai kemarin pagi. Warga bersama-sama mengerjakan jembatan yang menghubungkan Desa Gadingkulon dan Desa Selorejo, Kecamatan Dau ini.

“Untuk bahan-bahannya sudah siap sejak Jumat lalu. Tapi karena masih ada pekerjaan pembersihan oleh Dinas PU Binamarga, pembangunan jembatan baru bisa dilakukan hari ini (kemarin),’’ katanya.

Jembatan darurat ini dibangun di atas reruntuhan badan jembatan. Ya, dijelaskan Eko, pasca jembatan terputus, petugas dari Dinas PU Binamarga langsung melakukan pembersihan. Namun demikian, mereka hanya membongkar  pondasi jembatan, karena posisinya menghalangi arus Sungai Metro.

Material pondasi juga diangkat ke atas. Sedangkan badan jembatan  tetap dibiarkan di bawah. Hanya saja posisinya diperbaiki, dengan menopang di antara reruntuhan.

“Badan jembatan ada di bawah jembatan darurat. Belum diangkat dan itu tidak mengganggu jembatan darurat,’’ kata mantan Camat Tajinan ini.

Badan jembatan ditambahkan Eko akan diambil, nanti ketika Jembatan Krajan ini kembali dibangun. “Prinsipnya kami terus melakukan pemantauan, terhadap debit air. Harapannya setelah  ini tidak ada lagi peningkatan volume air di Sunggai Metro,’’ tambahnya.

Eko juga mengatakan setelah jembatan selesai, tahapan selanjutnya adalah memasang besi di di seluruh tepi jembatan. Ini dilakukan untuk pengamanan. “Karena jembatannya sendiri ukurannya cukup kecil, yaitu lebarnya sekitar 2 meter, sehingga dibutuhkan pagar untuk membatasi jembatan, sekaligus sebagai upaya pengamanan juga,’’ tambahnya.

Sekalipun dari bambu, Eko memastikan jembatan darurat ini sangat kuat, dan tidak mudah ambrol. Apalagi penyangga kayu jembatan diletakkan di luar dari aliran sungai Metro.

“Harapan kami awet, karena kayu penyangganya terletak di luar aliran sungai,’’ tambahnya. 

Dia juga mengatakan, biaya untuk pembangunan jembatan, berasal dari swadaya dari masyarakat.

Seperti yang diberitakan koran ini sebelumnya, banjir melanda Dusun Krajan, Desa Gadingkuolon, Kecamatan Dau, (30/1) lalu. Akibatnya, jembatan di dusun tersebut putus. Putusnya jembatan ini menjadi sorotan banyak pihak. Itu karena usia jembatan belujm genap dua bulan.

Menurut informasi, jembatan itu dibangun bulan Agustus 2019 lalu, dan selesai awal November 2019 lalu. Pembangunan jembatan menelan anggaran Rp 480 juta, dan semuanya didanai oleh APBD 2019 Kabupaten Malang.(ira/ary)

 

PENTING! Baca Ini:

https://m.malangpostonline.com/bisnis/lowongan-kerja

https://m.malangpostonline.com/bisnis/iklan-baris

https://m.malangpostonline.com/bisnis/iklan-properti

Editor : Ary
Uploader : slatem
Penulis : ira
Fotografer : ira

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU