Isnu dan Rizky Putra Ngabalin Petinju Asal Kota Batu

Adik Jadi Petinju karena Kakak Tak Punya Sparring

  • 13-09-2019 / 00:03 WIB
  • Kategori:Batu, Nasional
Adik Jadi Petinju karena Kakak Tak Punya Sparring Berprestasi: Isnu Randika Putra Ngabalin (kiri) saat menjadi pelatih sang adik Rizky Satriya Sukma Putra Ngabalin (kanan) mampu meraih medali emas di Porprov Jatim VI di bidang olah raga tinju.

Isnu Randika Putra Ngabalin dan Rizky Satriya Sukma Putra Ngabalin saling berkompetisi dalam meraih prestasi. Kakak beradik asal Kota Batu mampu bicara di tingkat provinsi, nasional dan internasional. Sama-sama petinju dan berhasil masuk dalam Pra PON yang akan digelar di Papua tahun 2020 nanti.

Keduanya berhasil mengalahkan ratusan atlet tinju di Jatim untuk bergabung dalam Pra PON mewakili Jatim. Sebelum menghadapi PON Papua 2020. Tentu ada banyak proses yang harus dijalani oleh dua atlet muda sebelum berhasil meraih berbagai prestasi. Selain itu juga banyak cerita menarik yang dibaginya untuk menginspirasi atlet-atlet muda agar meraih prestasi.

Bahkan sebelum terjun sebagai atlet cabor tinju, Randy Ngabalin, nama panggilannya pernah menjadi pemain bola. "Saya dulunya pemain bola mas. Dari kecil memang hobby bola. Bahkan bermain bola sampai kelas 3 SMP," ujar Randy mengawali ceritanya kepada Malang Post.

 

Namun, langkah untuk menjadi pesepak bola profesional harus terhenti. Karena ia melihat dan merasakan begitu sulit untuk tembus ke atas. Dalam artian mengembangkan prestasi, karena diungkapnya banyak yang tebang pilih dalam tim.

"Harus berhenti dari sepak bola dulu. Karena dalam sepak bola siapa yang punya uang dan kedekatan orang dalam yang akan diberangkatkan pertandingan," kenang laki-laki kelahiran Malang, 21 Desember 1994 ini.

Melihat hal tersebut, akhirnya ia merasa pesimis. Yang kemudian membawanya untuk mulai melirik olahraga individual. Pemilihan tersebut diungkapnya karena menurutnya olehraga individu adalah diri sendiri yang bisa menentukan karier ke depan.

"Saat itulah saya memilih tinju. Apalagi tinju bukan hal yang asing di mata saya. Karena om saya tiga orang petinju. Jadi sering nonton. Walaupun nyali ini kecil sebenarnya," paparnya sambil terkekeh.

Tapi, lanjut dia, keikut sertaannya dalam olahraga tinju awalnya hanyalah iseng alias coba-coba. Namun tak disangkanya sampai saat ini mampu digelutinya.

"Ya memang orang bilang proses itu tidak muda. Karena saat memulai diawal saya mendapat ujian yang berat. Apalagi tiga kali pertandingan awal tidak pernah menang. Bahkan ada yang kalah KO," bebernya.

Dengan kekalahan itulah ia sebenarnya sempat mengurungkan niat untuk bertinju. Disamping dari pengurusnya juga meremehkan dirinya. Namun cerita berubah menjelang Porprov 2011. Waktu itu ada seleksi dan dirinya coba memberanikan diri untuk ikut. Singkat cerita Randy lolos seleksi dan masuk dalam tim.

"Iseng-iseng berhadiah sih, cuma mau nunjukin ke temen-temen sekolah bahwa saya juga bisa. Karena semasa sekolah saya jadi bahan bully-an melihat postur saya yang kecil sekali," paparnya sambil tertawa.

Dari tekad untuk keluar dari bully-an itu membuat dirinya sampai saat ini menjadi seorang petinju profesional. Bahkan dirinya saat ini juga masuk dalam Pelatnas SEA Games di Filipina bulan Desember 2019 ini.

Begitu juga dengan sang adik yang sebelumnya tidak ada passion untuk masuk dalam olahraga tinju. Singkat cerita Rizky Ngabalin sang adik ikut tinju karena sang kakak tak memiliki lawan latihan dalam bertanding.

"Adik saya juga gak ada passion di tinju. Karena waktu itu saya susah cari lawan sparring dan harus latihan di Malang dengan rumah di Batu jauh. Jadi saya ajak latihan adik saya sebagai lawan sparring," tutur peraih medali emas Kejurprov Jatim tahun 2013-2018 ini.

 

Lebih lanjut dia mengungkapkan jika motivasinya menjadi petinju berprestasi karena ingin beda dari yang lain. Artinya ia mampu mencari uang sendiri untuk membiayai sekolah SMA sampai sekarang. Bahkan ia tdak pernah minta uang orang tua, untuk uang saku sekolah sekalipun.

Untuk meraih prestasi tersebut, tentu hari-harinya digunakan untuk berlatih. Dalam seminggu ia bisa 10 kali berlatih. Lima kali di pagi hari dan lima kali di sore. Dengan porsi latihan meliputi hiit cardio, weight training dan teknik boxing.

Sementara untuk pengalaman paling berkesan, dikenangnya waktu Pra PON tahun 2015. Pada waktu itu dalam pertandingan hanya semifinalis yang berhak lolos ke PON 2016. Dan waktu pertandingan di babak delapan besar ia harus melawan Kaltim.

"Waktu itu saya terpukul jatuh di ronde pertama detik ke sepuluh. Pukulan yang sangat keras tepat didagu saya. Itu pertama kalinya dalam karier saya, saya terpukul jatuh," bebernya.

Ia ingat betul, seluruh tubuhnya terasa lemas, sudah tidak ada tenaga untuk berdiri. Tapi ia memikirkan orang tua dan orang-orang yang mendukung hingga ia melangkah jauh. Sampai akhirnya di hitungan ke delapan ia bisa berdiri.

Dan dengan semangat membara itu di ronde kedua ia membalikkan keadaan. Lawannya berhasil ia jatuhkan. Walaupun bisa berdiri lagi.

"Tapi saya terus memasukan pukulan dan mengumpulkan angka. Sampai akhirnya saya dinyatakan menang angka dan lolos ke semifinal dan masuk di PON 2016," paparnya bangga.

Dengan kemenangan yang ia raih tersebut. Sedih. Bangga. Campur aduk. Bahkan dengan kemenangan itu dari atas ring sampai ruang ganti ia tak berhenti menangis dan bersyukur atas malam yang luar biasa mampu dilewatinya dengan perjuangan panjang.

Yang menarik lagi, Randy Ngabalin berhasil menghantarkan sang Adik Rizky Ngabalin mendapat medali emas dalam Porprov Jatim VI 2019. Dirinya saat Porprov tersebut dipercaya oleh KONI Kota Batu sebagai pelatih adiknya.(eri/ary)

Editor : ary
Uploader : abdi
Penulis : eri
Fotografer : eri

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU