Kota Batu Butuh Perda Agar Hotel dan Restoran Serap Produk Pertanian dan Kerajinan Lokal

  • 20-09-2019 / 15:27 WIB
  • Kategori:Batu
Kota Batu Butuh Perda Agar Hotel dan Restoran Serap Produk Pertanian dan Kerajinan Lokal UNGGULAN: Produk kerajinan unggulan Kota Batu butuh wadah promosi dan penjualan di tempat-tempat wisata, hotel, dan resto.

BATU - Bertumbuhnya produk kerajinan dan hasil pertanian di Kota Batu menjadi PR bagi Pemkot, Dewan, Kadin, PHRI, dan pelaku usaha untuk bersinergi dalam memasarkan produk. Salah satu caranya melalui regulasi yang dikeluarkan Pemkot Batu agar hotel dan restoran menampung produk asli Kota Batu sebagai upaya pemberdayaan.

Dengan adanya Perda atau regulasi  yang mewajibkan hotel dan restoran ini menampung dan mempromosikan produk kerajinan dan produk pertanian asli warga Kota Batu. Diharapkan pelaku kerajinan dan pelaku pertanian di Kota Batu tak kesulitan memasarkan produknya. 

Hal itu mendapat tanggapan dari Wakil Wali Kota Batu, Ir. Punjul Santoso M.M bahwa dalam waktu dekat, pemerintah akan menseriusi pembuatan Perwali yang kemudian berlanjut membentuk Perda tentang kewajiban hotel dan restoran menampung produk ketrampilan dan pertanian warga Kota Batu.  

"Dalam waktu dekat ini akan segera digodok. Sehingga nanti setiap kamar di hotel bisa memajang produk petani asli Kota Batu. Misalnya buah jeruk keprok 55, apel rome beauty, stroberi, bunga hingga hasil kerajinan," ujar Punjul kepada Malangpostonline.com Jumat (20/9) siang.

Ia menjelaskan, pembuatan Perwali dan Perda butuh regulasi dan pembahasan lebih dalam. Bagaimana sistemnya, pemilihan kualitas buahnya, hingga packing. Untuk kemudian kerajinan bisa ditampung oleh hotel dan restoran.

"Melalui aturan ini, kami harap nanti bisa memberdayakan petani dan masyarakat. Karena itu secepatnya kami akan berkoordinasi dengan PHRI Kota Batu," beber Punjul. 

Selain itu, agar tidak memberatkan wisatawan, Ketua DPC PDIP Kota Batu ini menyarankan agar pengusaha bisa mengatur daya beli atau kebutuhan setiap hotel dan resto serta harganya. Misalnya harga buah dan kerajinan itu bisa include harga kamar dari Rp 300 ribu menjadi Rp 350 ribu. 

Untuk merealisasikan hal itu, pemerintah berharap ada peran serta anggota DPRD Kota Batu untuk mematangkan rencana dan membuat regulasi demi kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu, Wakil Sementara DPRD Kota Batu, Nurochman menambahkan bahwa saat ini Kota Batu memang belum memiliki Perda agar hotel dan resto menampung hasil kerajinan dan pertanian masyarakat Kota Batu. 

"Untuk Perda tersebut belum ada. Hanya di Perda UMKM ada bab dan pasal yang mengatur itu dengan menyebutkan produk UKM harusnya mendapat tempat dan wadah maksimal 20 persen dari area food court dan atau pusat oleh-oleh. Baik di tempat wisata maupun di toko swalayan," bebernya. 

Ia juga menegaskan bahwa dirinya dulu sudah pernah menyampaikan tentang hal serupa. Misalnya produk apel Batu dan minuman  olahan berbahan dasar apel  sebagai wellcome drink di setiap hotel. 

"Karena pertumbuhan UMKM dengan produk kerajinan hingga hasil pertanian menjadi sebagian besar mata pencaharian masyarakat Kota Batu. Secepatnya kami akan mendorong Perda ini masuk di propemperda 2020," tegasnya. (eri/Malangpostonline.com)

Editor : eri
Uploader : irawan
Penulis : eri
Fotografer : eri

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU