Pameran Keramik Kontemporer, Muchlis Arif Tuangkan Perasaan dalam Karya Instalasi

  • 21-09-2019 / 18:02 WIB
  • Kategori:Batu
Pameran Keramik Kontemporer, Muchlis Arif Tuangkan Perasaan dalam Karya Instalasi Penuh Warna : Salah satu karya kolamik antara keramik dan kaca botol kecap yang ia pajang dalam rangkaian pameran tunggal SAM di rumahnya, Sabtu (21/9) siang.

MALANGPOSTONLINE.COM, BATU - Tanah liat bakal bernilai tinggi jika berada di tangan orang-orang kreatif dan inovatif. Itulah yang dilakukan oleh Muchlis Arif yang mempu menyulap tanah liat menjadi karya keramik kontemporer. Sehingga ratusan karya telah diciptakannya.

Untuk mewadahi karya yang telah di buat, pameran merupakan media bagi seorang seniman untuk dapat berkomunikasi dengan masyarakat. Terutama untuk menyampiakan tentang apa yang telah dialami, dirasakan, dipikirkan, direnungkan. Baik itu berupa ide, gagasan, wacana, harapan, hingga konsep kehidupan.

Melalui event tahunan September Art Month (SAM) yang digelar satu bulan penuh. Salah satunya di rumah milik Muchlis Arif di Jalan Merak Perum. Batu Permai Kelurahan Temas, Kec/Kota Batu ia memamerkan 11 karya instalasi atau 3D keramik kontemporer.

Dalam pameran yang dibuka mulai 21-30 September itu, merupakan rangkaian pameran tunggal SAM yang digelar di Kota Batu dan Malang.

"Pameran tunggal dalam rangkaian SUM di Kota Batu ini jadi kesempatan bagi seniman di Jawa Timur untuk memarkan karyanya. Tak terkecuali saya yang berkesempatan ikut untuk kedua kalinya ini," ujar Arif kepada Malangpostonline.com Sabtu (21/9) siang.

Ia menerangkan, dalam pameran kali ini dirinya mengangkat tema 'Monolog'. Yang diartikannya dari semua karya yang ia pamerkan berawal dari sebuah interaksi dengan diri sendiri atau kontemplasi. Dan kemudian dari monolog atau kesendirian itu, ditungkan dalam karya seni instalasi.

"Dari kesendirian itulah setiap orang akan merenung atau berkontemplasi secara abstrak. Kemudian menghasilkan karya. Tentu tiap orang akan berbeda dalam menuangkannya," bebernya.

Kemudian, dari karya yang dihasilkan melalui ruang privat atau monolog. Diungkap Arif butuh masukan, kritik, dan komunikasi dari masyarakat. Melalui pameran yang digelar di rumah yang ia sulap jadi galery itulah diharapnya ada komunilasi antara pengkarya dengan masayarakat.

 Dari 11 karya instalasi yang dibuatnya hanya dalam satu minggu. Tentunya sebuah karya menurutnya harus memiliki beberapa unsur. Diantaranya art, science, teknologi, dan tema.

Itu terbukti, dari karyanya dibuat dengan teknologi kolamik atau kolase. Antara keramik dengan botol bekas kecap yang ia padukan dengan membakarnya dengan panas 1200-1300 derajat celcius.

ari proses itulah kemudian lahir karya keramik kontemporer. Salah satunya adalah karya yang dinamai 'sendiri penuh warna' dalam karya instalasi kolamik 20 mangkuk dengan campuran kaca botol kecap.

"Judul itu diartikan bahwa seorang akan lebih berwarna dalam kesendirian dengan berpikir, kontemplasi, hingga introspeksi diri. Jadi dalam kesendirian seorang akan lebih berwarna dalam berpikir," urainya.

Selain pameran, laki-laki kelahiran Malang, 2 Februari 1969 ini juga membuka open studio di Kaliwatu selama sebulan. Dalam open studio itu ia mengajari anak-anak disabilitas, panti asuhan, dan pengusaha muda bagaimana menyalurkan bakat melalui media tanah liat.

Untuk open studio. Saya ambil tema Clay For All yang artinya melalui tanah liat saya bisa berkomunikasi dan merangkul semua orang dengan latar belakang yang berbeda untuk mengasah kreatifitas dan inovasi untuk disalurkan melalui tanah liat," pungkasnya. (eri/Malangpostonline.com)

Editor : eri
Uploader : slatem
Penulis : eri
Fotografer : eri

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU