Juara Dunia Kelas Ringan Super

Sejarah Daud Yordan untuk Batu

  • 18-11-2019 / 08:14 WIB
  • Kategori:Batu
Sejarah Daud Yordan untuk Batu TANGGUH: Daud Yordan kemarin lebih tenang saat berhadapan denganĀ  petinju Afrika Selatan, Michael Mokoena. Ia akhirnya menang TKO pada ronde ke-8.

Malangpostonline.com, BATU - Petinju Daud Yordan bikin sejarah di Jatim Park 3 Kota Batu, Minggu (17/11) kemarin. Ia merebut gelar juara dunia kelas ringan super 63,5 kilogram versi IBA dan WBO Oriental setelah mengalahkan petinju Afrika Selatan, Michael Mokoena. Daud Yordan menang TKO atas Michael Mokoena pada ronde ke-8.

Kemenangan Daud Yordan langsung disambut meriah suporter yang memadati arena tinju di halaman parkir Jatim Park 3 ini. Mereka tidak henti-hentinya meneriakkan nama Daud Yordan sembari melakukan selebrasi. Di atas ring, penggemar juga berebut berfoto bersama. Mereka sempat mencegat Daud Yordan yang keluar dari lokasi tinju untuk berfoto.

Daud Yordan menang dan menjadi satu-satunya petinju profesional yang mampu merebut sabuk juara dunia di tiga kelas berbeda. Tiga kelas berbeda, yakni bulu, ringan, dan ringan super.

Dia langsung mengucapkan terima kasih kepada suporter yang terus memberikan dukungan penuh sepanjang pertandingan. Hingga akhirnya a bisa menang TKO atas petinju Afrika Selatan  itu. “Terima kasih suporter, terima kasih manajemen, terima kasih Pemkot Batu dan Jatim Park. Gelar dipenghujung tahun ini juga untuk kado ulang tahun Kota Batu. Terima kasih kepada seluruh warga Indonesia, baik yang menonton langsung maupun di televisi,’’ ungkap Daud Yordan usai pertandingan.

Seperti diketahui, pertandingan tinju tersebut mendapat dukungan penuh Pemkot Batu dan menjadi rangkaian HUT ke-18 Kota Batu. Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko juga hadir dalam pertandingan dan memberikan ucapan selamat kepada Daud Yordan.

Daud tampil lebih dominan hingga membuat sang lawan terjungkal dan menyatakan tak dapat melanjutkan pertandingan. Lawan juga mengalami cedera sehingga tidak bisa melanjutkan pertandingan karena harus menjalani perawatan medis secara intensif.

"Saya juga tidak tahu persis, dia cedera karena pukulan saya atau dia salah melempar pukulan. Saya tadi lebih fokus pada pertandingan dan mendengarkan intruksi tim,” katanya. “Dulu saya cenderung menggebu-gebu dalam bermain, tapi sekarang karena pengalaman saya lebih dewasa dan dengarkan arahan dari tim, saya naik pelan-pelan agar tidak kehabisan tenaga saat dipenghujung ronde, rencana awalnya begitu," sambung Cino, sapaan akrabnya.

Ia menerangkan,  tidak tampil menggebu-nggebu sejak ronde pertama. Dia lebih banyak mengatur ritme pertandingan sehingga tenaga tidak akan habis hingga ronde terakhir. Apalagi, lawan juga sangat lincah dan dia sangat pintar menghindari pukulan.

Pada pertandingan lain, Ongen Saknosiwi bertanding menghadapi Marco Demecillo memperebutkan gelar juara dunia kelas bulu versi IBA. Petinju asal Maluku itu berhasil menang angka 12 ronde dengan nilai 116-112, 118-110, dan 116-112.

Dengan demikian, Ongen menjadi petinju pertama Indonesia yang mampu meraih gelar juara dunia di bawah 10 pertarungan. Saat ini ia baru naik ring delapan kali dengan rekor 100 persen kemenangan (7 KO). (feb/van/Malangpostonline.com)

Editor :
Uploader : irawan
Penulis : febri
Fotografer : Firman

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU