Rawan inflasi Karena Kunjungan Wisatawan, Kota Batu Harus Miliki Pengukur Inflasi

  • 08-12-2019 / 15:49 WIB
  • Kategori:Batu
Rawan inflasi Karena Kunjungan Wisatawan, Kota Batu Harus Miliki Pengukur Inflasi SEMBAKO: Sembako menjadi komponen yang rawan naik di Kota Batu. 

Malangpostonline.com, BATU - Sebagai destinasi wisata dengan kunjungan terbanyak pertama di Jatim tahun 2018 yang mencapai 6,5 juta wisatawan, Kota Batu rawan inflasi. Pasalnya setiap weekend atau hari libur Kota Batu penuh dengan kunjungan wisatawan dan membuat ketersedian bahan pokok rawan kurang dan menyebabkan harga naik atau inflasi.  

Sebagai kota yang mobile atau aktifitas padat, Kota Batu sampai saat ini masih belum memiliki penghitung inflasi. Sehingga sampai saat ini dalam menganalisa angka inflasi, Kota Batu selalu mengacu perhitungan angka inflasi di Kota Malang yang letaknya berdekatan.

Kepala BPS Kota Batu, Pardjan M.Si menyampaikan bahwa penghitung inflasi disetiap Kota/Kabupaten sangatlah penting. Pasalnya Kota Batu masuk dalam kriteria kota yang mobile.

"Penghitungan inflasi ditujukan untuk melihat perkembangan harga dan gejolak harga sekitar 372 komoditas. Baik sandang, pangan, dan papan. Kota Batu sebagai kota wisata yang padat aktifitas setiap weekend perlu melakukan penghitungan inflasi," ujar Pardjan kepada Malangpostonline.com

Ia menerangkan lebih lanjut, kota wisata yang setiap akhir pekan penuh wisatawan rawan terjadi gejolak. Yakni jumlah kebutuhan danyang  harga naik turun karena peningkatan konusimsi. "Karena itu penting Kota Batu untuk menghitung inflasi dan deflasi," imbuhnya.

Lebih lanjut, ia menerangkan jika semua wilayah memang penting menghitung inflasi. Tapi semua dilihat dari anggaran atau biaya yang tak sedikit. Karena untuk menghitung inflasi harua berkelanjutan didasari survey biaya hidup dengan mengambil sample.

"Untuk menghitung inflasi dilakukan selama satu tahun penuh dan berkelanjutan. Ini untuk mendetaksi jumlah biaya hidup di daerah itu," paparnya.

Misalnya, diungkap Pardjan, bahwa dari sample yang diambil akan dicatat selama setahun pengeluaran atau pola kunsumsi. Mulai dari pengeluaran untuk bayar listrik, air, biaya sekolah, sewa rumah, kontrak, sandang, dan pangan. Dengan total ada 372 komoditas yang dihitung.

"Dengan banyaknya komoditas yang dihitung itulah butuh biaya yang cukup tinggi," imbuhnya. Saat ditanya berapa jumlah biaya, Pardjan enggan menjawab karena yang bisa memperkirakan adalah BPS Pusat. 

Karena biaya yang tinggi itulah, Kota Batu saat ini masih mengacu pada perhitungan inflasi di Kota Malang. Meskipun Kota Batu dan Malang tidak 100 persen sama kebutuhannya. Namun setidaknya tidak jauh beda. 

Sementara itu, Wakil Wali Kota Batu, Ir. Punjul Santoso M.M menambahkan jika penghitungan inflasi butuh dana yang cukup tinggi. Namun keberadaan Kota Batu dengan Kota/Kabupaten Maang tak jauh. Sehingga inflasi tak beda jauh dengan dua Kota/Kab tersebut.

"Tetapi sebagai kota yang telah mendeklarasikan kota yang menjadi destinasi wisata, kami tak bisa terus menerus mengacu penghitungan inflasi dari Kota Malang. Karena itu kamu akan secepatnya akan sampaikan ke dinas terkait, provinsi dan BPS untuk anggaran menghitung inflasi yang dibutuhkan oleh Kota Batu," paparnya.

Untuk Kota Batu sendiri, mengacu Rakor TPID mengambut Natal 2019 dan Tahun Baru 2019 bersama Bank Indonesia Malang pada awal bulan di Kota Batu kemarin. Untuk inflasi di Kota Batu masih 0,01 persen atau masih sangat aman. 

Indikasi inflasi aman tersebut mengacu dari rata-rata inflasi nasional yang mencapai 3,5 persen. Dari rata-rata itu inflasi masih ditoleransi 1 persen ke bawah dan keatas. Jika lebih dari toleransi rata-rata nasional artinya harga-harga yang masuk dalam ratusan komponen naik dan tak terjangkau oleh masyarakat. (eri)

Editor : eri
Uploader : irawan
Penulis : eri
Fotografer : eri

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU