6.000 KK Huni Sepadan Sungai, Rusun Jadi Solusi

  • 27-08-2019 / 18:30 WIB
  • Kategori:Malang
6.000 KK Huni Sepadan Sungai, Rusun Jadi Solusi MENJOROK: Rumah di kawasan sepadan sungai yang menjorok ke sungai bisa berbahaya, jika terjadi banjir atau longsor.

MALANGPOSTONLINE.COM - Kawasan kumuh di sempadan sungai di Kota Malang masih banyak dimanfaatkan sebagai permukiman warga. Itu  menjadi PR besar bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Malang untuk memindahkan permukiman yang terletak di sempadan sungai. Kawasan tersebut tidak boleh dijadikan tempat tinggal lantaran pertimbangan bencana alam, seperti banjir dan tanah longsor.

Plt Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Malang, Hadi Santoso mengungkapkan, pihaknya sedang melakukan berbagai upaya untuk normalisasi sempadan sungai. Salah satunya, melalui program Rumah Susun (Rusun). “Saat ini, di Kota Malang sudah ada tiga rusun yang dikelola Pemkot Malang, salah satunya di kawasan Buring,” terang dia kepada Malangpostonline.com.

Menurutnya, kebutuhan akan rusun di Kota Malang harus terus ditambah. Sebab, saat ini juga menjadi salah satu kebutuhan masyarakat, salah satunya untuk memfasilitasi warga yang tinggal di sekitar sempadan sungai. "Kami masih membutuhkan banyak lagi untuk memindahkan masyarakat yang tinggal di aliran sungai. Prinsipnya adalah membangun tanpa menggusur dan memberi solusi kepada masyarakat," terangnya.

Pria yang akrab disapa Soni itu menjelaskan, program Rusun merupakan program bantuan dari pemerintah pusat. Untuk mendapatkan bantuan itu, Pemkot Malang juga harus melakukan beberapa kajian terlebih dulu. Utamanya pada kawasan sempadan sungai dengan letak geografis yang berbahaya. “Harus ada kajian terlebih dahulu. Jika secara geografis memang berbahaya, maka masyarakat yang menempati kawasan tersebut harus segera dipindahkan,” jelas dia.

Soni menjelaskan, satu blok rusun berisi 98 unit. Sementara sampai sekarang, total kurang lebih ada enam ribu KK yang tinggal di kawasan sempadan sungai. Selain itu, angka kebutuhan hunian juga semakin tinggi di Kota Malang. Sehingga, hunian vertikal menjadi jawaban. "Karena jumlah tanah kita nggak mungkin bertambah, tapi kebutuhan hunian semakin tinggi," urai dia.

Ke depan, imbuh Soni, pembangunan di wilayah Kota Malang akan mengarah ke hunian vertikal. Sehingga, perlu dilakukan pengenalan kepada masyarakat. "Tapi tetap harus memastikan pengaturan ruangan yang efektif dan efisien," kata dia.

Menurutnya, hunian vertikal tersebut akan terus dikembangkan di beberapa daerah tanpa kecuali Kota Malang. Dengan mengedepankan konsep yang aman dan efisien, pembangunan hunian vertikal harus tetap memperhatikan tata ruang dan kajian khusus.

"Melalui konsep ini kami harapkan masyarakat dapat memahami seperti apa konsep pembangunan hunian vertikal itu sebenarnya. Karena kebutuhannya memang terus mengalami trend peningkatan," jelas dia.(tea/aim/Malangpostonline.com)

Editor : aim
Uploader : slatem
Penulis : tea
Fotografer : Ipunk

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU