Tokoh di Balik Sukses Oeklam-Oeklam Heritage Kajoetangan

Kayutangan Adalah Downtown Sekaligus City Walk

  • 02-09-2019 / 00:14 WIB
  • Kategori:Malang, Kabupaten, Batu
Kayutangan Adalah Downtown Sekaligus City Walk Imawan Mashuri Ketua MRH

Deklarasi Kayutangan sebagai Ibu Kota Malang Raya Heritage berlangsung Jumat (30/8). Deklarasi tersebut dirangkai dalam perhelatan besar, yakni Oeklam-Oeklam Heritage Kajoetangan (UUHK) di koridor Kayutangan. Selama dua hari UUHK dihadiri sebanyak 40 ribu pengunjung dari berbagai penjuru.

Tidak hanya dari Malang Raya saja, namun juga dari Jakarta, Jogyakarta, Makassar, Medan dan masih banyak lagi. Salah satu tokoh di balik suksesnya acara tersebut adalah H. Imawan Mashuri, SH, MH, Ketua Malang Raya Heritage (MRH). Berikut wawancara Malang Post (MP) dan Imawan Mashuri (IM).

Malang Post (MP): Pak Imawan, selamat, ya. UUHK, yang di dalamnya ada acara sangat penting, yakni Deklarasi Kayutangan sebagai Ibu Kota Malang Raya Heritage (MRH) berlangsung sangat sukses. Bagaimana MRH terbentuk pak?

Imawan Mashuri (IM): MRH terbentuk sekitar dua bulan lalu oleh tokoh masyarakat Malang Raya, yang peduli terhadap warisan budaya dan upaya pencerahannya. Tokoh-tokoh tersebut di antaranya adalah Pak Gagoek (Gagoek S. Prawito, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kota Malang), Sam Dukut (Dukut Imam Widodo, penulis buku Tempoe Doeloe berbagai daerah), Ki Dwi Cahyono (Dosen Sejarah Universitas Negeri Malang sekaligus seniman dan budayawan), Sam Budi Fath (Budi Fathoni, ahli cagar budaya sekaligus dosen ITN Malang), Sam Muhlas (M. Nor Muhlas, Dirut PDAM sekaligus seniman), Febi Damayanti (Manager Area Sarinah Jatim), M. Iskandar Sjachran (pemilik gedung heritage Hotel Pelangi), Sugeng Irawan (tokoh pers), Tjandra Purnama Edhi (salah satu pendamping masyarakat Kayutangan dan pelaku pariwisata) dan masih banyak lagi. Kami membangun Malang Raya Heritage, yang bertujuan untuk melakukan pelestarian, penguatan dan pencerahan warisan budaya. Termasuk di dalamnya adalah arsitektural demi peradaban. Setelah terbentuk, kami langsung membuat perencanaan besar, sebagai salah satu upaya untuk membantu pemerintah untuk melestarikan dan penguatan terhadap warisan budaya.

MP: Mengapa Kayutangan kemudian dipilih sebagai ibu kota?

IM: Kalau berbicara heritage, artinya berbicara warisan dan budaya. Budaya itu ada berbagai macam hal. Seperti kearifan lokal hingga arsitektural dan peradaban zaman. Kayutangan dipilih karena secara geografis, lokasinya berada di titik sentral wilayah Malang Raya. Kawasan tersebut memiliki koridor yang panjang dan memiliki bangunan heritage. Selama ini, Malang Raya belum memiliki titik sentral heritage. Untuk itu, kita jadikan downtown, city walk dan dijadikan ikon kebanggaan Malang Raya. Untuk itu, kita jadikan prioritas penggarapan dan melakukan diskusi, akhirnya tercipta event UUHK. Kami memilih Kayutangan sebagai ibu kota karena bentuknya yang merupakan koridor. Disertai dengan peninggalan arsitektur kunonya berjajar panjang lebih dari 800 meter, yang  ada di dua sisi dan sangat mudah direvitalisasi. Ketiga, perkampungan,  di dalamnya khas dan budaya masyarakatnya telah mencerminkan karakteristik Arek Malang. Malang Raya memiliki, potret kearifan lokal, daerah maju dan layak wisata. Sehingga, memerlukan downtown dan city walk. Kayutangan paling pas untuk itu.

MP: Menarik sekali mengenai downtown dan city walk tadi, bisa anda jelaskan kaitannya dengan Kayutangan?

IM: Begini, setiap kota harus memiliki dua kelompok lokasi. Satu kota kuno atau heritage sedangkan satu lagi kawasan yang bersifat masa depan yaitu district. District untuk percepatan bisnis dan lain-lain yang bersifat modern. Kalau di Kota Malang, districtnya ada di  Soehat, sedangkan Kayutangan dan Ijen adalah Heritage. Sedangkan downtown adalah pusat aktivitas, bisa saja tempat heritage jadi pusat aktivitas atau district juga jadi tempat aktivitas, misalnya belanja 24 jam. Jika dua-duanya berkembang baik wah itu luar biasa, nah itu harus ditata. Di luar negeri malah ada di subway atau kawasan bawah tanah yang jadi pusat belanja selama 24 jam. Untuk Kota Malang Kayutangan jadi dua fungsi, downtown dan ibukota heritage Malang Raya.

 

MP: Secara obyektif, apa saja yang bisa dikerjakan di Kayutangan?

IM: Kita sudah menemukan ide untuk UUHK itu. Pertama, sudah lama tidak ada kegiatan yang berpusat di Kayutangan. Kedua, di kawasan tersebut cenderung sepi bahkan tidur. Selain itu, masyarakat juga merindukan perhelatan besar yang memiliki makna kerakyatan, namun mampu menembus semua lapisan. Sesungguhnya, Kayutangan merupakan tempat yang strategis. Apalagi, nama Kayutangan hanya ada satu-satunya di dunia. Dalam perhelatan tersebut, kami juga ingin menggugah masyarakat sekitar, utamanya pemilik rumah dan toko agar mau menghidupkan kembali tokonya. Mereka tetap berjualan seperti masa lalu dengan modernisasi (barang-barang yang dijual, Red). Sehingga, ada kesinambungan untuk mengekspresikan heritage.

MP: UUHK sudah berlangsung bahkan sangat sukses, apa sebenarnya tujuan dari event ini?

IM: Dalam event tersebut, kami tidak sedang membangun pasar malam, tapi sedang membangun koridor heritage berkelanjutan. Kami tidak membuat pasar rakyat, tapi sedang membangun ekosistem heritage untuk ekonomi kreatif zona dan daerah. Kami bukan untuk kolonial, tapi sedang menghargai sejarah, arsitektural, dan warisan budaya untuk peradaban zaman. Kami bukan menghadirkan jadoel, tapi menggarap heritage. Kayutangan harus jadi downtown, jadi city walk, jadi ikon kuat Kota Malang dan kebanggaan Malang Raya. Heritage di Malang Raya, yakni di Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu, merupakan satu kesatuan wilayah dan karakter. Maka untuk pelestarian, penguatan dan pencerahannya, diperlukan ibu kota heritage. Dan pilihannya adalah Kayutangan.

MP: Untuk masyarakatnya, apa yang diharapkan?

IM: Atas perhelatan tersebut, bisa diprediksi jika perekonomian terus tumbuh. Terbukti pada hari H, hotel di kawasan tersebut penuh. Selain itu, kuliner dan oleh-oleh banyak diburu. Sehingga, memberikan multi efek yang positif. Semakin banyak uang yang dibelanjakan, mampu membuat perekonomian meningkat, utamanya peningkatan dalam ekonomi kreatif. Untuk itu, harus didukung secara bersama-sama. selain itu, warga sekitar yang memiliki rumah dan kamar kosong, mungkin bisa sebagai salah satu alternatif sebagai tempat menginap untuk wisatawan. Sehingga, masyarakat yang datang bisa berbaur dengan warga dan tahu kehidupan di kampung. Banyak sekali orang yang merindukan suasana seperti itu.

MP: Persiapan kegiatan tersebut berapa lama?

IM: Kami bekerja efektif selama delapan hari dengan persiapan yang cukup panjang. Ketika kami memutuskan untuk menutup separo jalan, kami harus berkoordinasi dengan berbagai pihak dan memunculkan berbagai alternatif. Akhirnya kegiatan tersebut bisa terbentuk.

MP: Apakah tahun depan akan diadakan lagi event serupa?

IM: Iya, event tersebut sudah masuk dalam salah satu kalender event. Rencananya, akan digelar selama tiga hari. Melihat antusias masyarakat yang tinggi, membuat kami sangat serius menggarap event ini. Banyak sekali harapan-harapan masyarakat maupun pemerintah terkait wisata Malang Raya. Ini harus kita kuatkan.

 

MP: Bagi pariwisata Malang Raya apa dampaknya?

IM: Kalau untuk wisata di Malang Raya bisa menarik banyak wisatawan. Sehingga, mereka memiliki Length of Stay yang lebih panjang. Misalnya, ketika hendak menghadiri UUHK, sebelumnya menikmati wisata buatan dulu di Batu. Setelah dari UUHK yang ada di Kota Malang, lanjut wisata alam di Kabupaten Malang. Sehingga, multi efeknya lebih besar lagi. Masa depan pariwisata tidak akan tergantikan dengan digital.

 

MP: Bagaimana dukungan tiga pemerintah daerah Malang Raya terkait adanya event tersebut?

IM: Untuk Wali Kota Malang, Bapak Sutiaji, kita tahu totalitasnya dalam perhelatan ini. Sudah tampak dari visi misi beliau melindungi cagar budaya di Kota Malang. Beliau memiliki kesadaran yang sangat tinggi, ia sadar kekuatan pariwisata yang ada di kotanya. Bahkan, beliau memiliki perencanaan khusus terhadap kawasan ini. Beliau akan menggelontorkan dana sebagai salah satu upaya penguatan. Ke depan, kawasan Kayutangan akan dibenahi untuk penguatan wisata. Kami bangga dan optimis terhadap beliau. Sementara itu, untuk Wali Kota Batu, Ibu Dewanti Rumpoko, merupakan wanita hebat menurut saya. Ia merupakan orang yang tidak banyak bicara namun melakukan sesuatu yang konkret. Sejauh ini, Kota Batu memiliki potensi wisata yang sudah berhasil dikembangkan. Apalagi, periode sebelumnya, Wali Kota Batu adalah suaminya. Sehingga, beliau paham akan makna dan gagasan. Bahkan, beliau menginginkan, wisatawan yang datang ke kotanya juga bisa menikmati wisata di Kota dan Kabupaten Malang.

Saya juga berterima kasih kepada Wali Kota Malang Sutiaji dan Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko yang mendatangani deklarasi ibu kota Malang Raya Heritage. Serta, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yang sudah hadir.
Sedangkan untuk wilayah Kabupaten Malang, saya sedikit merasa prihatin. Sebab, dalam perhelatan tersebut, Kepala Daerah Kabupaten Malang tidak datang. Ada ketimpangan, pariwisata itu tidak bisa disektor-sektorkan, harus jadi satu kesatuan. Ini yang harus disadari, bagaimana membangun kesadaran dan komitmen. Untuk itu, komitmen dari masing-masing daerah harus diperkuat untuk menjadi satu kesatuan.(tea/ary)

Editor : Ary
Uploader : abdi
Penulis : tea
Fotografer : Guest

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU