Museum Bentoel Akan Pindah

  • 10-09-2019 / 17:37 WIB
  • Kategori:Malang
Museum Bentoel Akan Pindah

MALANG-Ada suasana berbeda di Museum Bentoel yang terletak di kawasan Jalan Wiro Margo, Kota Malang, Selasa (10/9). Museum legendaris yang menyimpan sejarah Bentoel tersebut tampak sepi dan tertutup. Bahkan, di salah satu bagian gedung, terdapat banner besar bertuliskan ‘DIJUAL’ dan begitu tampak dari luar. Berdasarkan informasi yang dihimpun, selama kurang lebih satu bulan, museum tersebut tak lagi beroperasi. Bahkan, di dalam gedung, segala koleksinya sudah tidak ada lagi.

Hal tersebut menimbulkan reaksi dari berbagai pihak, utamanya bagi para pemerhati sejarah dan budaya. Sebab, Bentoel dinilai memiliki sejarah untuk perkembangan Kota Malang. Bahkan, gedung tersebut sempat disebut-sebut menjadi salah satu tempat yang direkomendasikan sebagai bangunan cagar budaya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang, Ida Ayu Made Wahyuni melakukan pemanggilan terhadap pihak Bentoel, Selasa (10/9). Dalam pertemuan tertutup tersebut, perempuan yang akrab disapa Dayu tersebut menegaskan bahwa pihak Bentoel telah menceritakan segala kronologi.

“Bangunan tersebut merupakan bangunan baru dan tidak masuk dalam cagar budaya. Selain itu, barang-barang yang ada juga merupakan replika. Gedung tersebut dibuat hanya untuk menceritakan perjalanan Ong Hok Liong dalam merintis usahanya hingga sukses,” terang dia.

Sementara, terkait bangunan, lanjut dia, bukan merupakan bangunan cagar budaya. Sebab, gedung tersebut baru dibangun sekitar tahun 1994 dan berusia kurang dari 50 tahun. “Sehingga, masih belum memenuhi kriteria bangunan cagar budaya,” lanjut dia.

Berdasarkan keterangan yang diperoleh, museum sejarah Bentoel akan berpindah tempat, yakni di kawasan sekitar kantor Bentoel, yakni di sekitar Jalan Niaga. Kawasan tersebut dinilai lebih representatif dan memudahkan masyarakat untuk mengakses. “Sehingga, masyarakat yang ingin belajar sejarah dan kisah perjuangan Ong Hok Liong, bisa datang kesana,” jelas dia.

Terkait kata museum, menurut Dayu, bangunan tersebut tidak bisa dikatakan museum. Sebab, menurut aturan undang-undang, museum harus memiliki koleksi, memiliki dana khusus untuk pengelolaan hingga SDM yang mengelola. “Kalau salah satu dari empat unsur tersebut tidak ada, maka tidak bisa disebut dengan museum. Mereka membentuk gedung tersebut lantaran memiliki kepedulian terhadap perjalanan bisnis pemimpinnya,” beber Dayu.

Di dalam gedung tersebut, terdapat sebuah arca yang merupakan bagian dari patung bersejarah. Kalau memang gedung tersebut dijual, Dayu meminta pemilik baru gedung baru untuk memelihara arca tersebut. “Kalau pembeli baru tidak mau memelihara, kami yang akan memelihara arca itu,” tegas dia.

Sementara itu, Director of Legal & External Affairs Bentoel, Mercy Fransisca Hutahaean memberikan klarifikasi melalui rilis yang diterbitkan Bentoel Group. Merka menyatakan bahwa perusahaan terus melakukan kajian terhadap setiap lini usaha dan aset-aset perusahaan agar memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya. “Untuk mendukung pencapaian strategi bisnis perusahaan, berdasarkan hasil kajian, perusahaan memutuskan untuk melepaskan semua aset yang sebelumnya digunakan untuk Museum Bentoel. Agar lebih fokus kepada prioritas perusahaan dalam menumbuhkan bisnis,” tulis dia.

Dari tahun ke tahun, perusahaan akan terus melakukan investas dalam pengembangan fasilitas modern berkelas dunia untuk mendukung peningkatan ekspor. “Kami juga terus berkomitmen untuk mengembangkan brand/produk dan sumber daya kami. Hal tersebut merupakan wujud nyata dari dukungan kami terhadap program pemerintah, khususnya di bidang ekonomi dan SDM,” tutup dia.(tea/Malangpostonline.com)

Editor : tea
Uploader : slatem
Penulis : tea
Fotografer : Guest

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU