DPUPR Kota Malang Terus Dorong Pemilik Bangunan Urus SLF

  • 12-09-2019 / 17:09 WIB
  • Kategori:Malang
DPUPR Kota Malang Terus Dorong Pemilik Bangunan Urus SLF Sampai saat ini, masih banyak bangunan yang masih belum memiliki Sertifikat Laik Fungsi.

MALANG - Sampai saat ini, masih banyak bangunan yang masih belum memiliki Sertifikat Laik Fungsi (SLF). Berdasarkan data yang dihimpun tahun 2018 hingga bulan Maret 2019, tercatat 17 bangunan yang memiliki SLF. Untuk itu, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Malang melalui bidang cipta karya akan menindaklanjuti hal tersebut.

Saat ini, pembangunan gedung di kawasan Kota Malang semakin marak. Sehingga, diperlukan adanya pengaturan dan pembinaan yang bersifat administratif dan teknis. Agar keyamanan maupun keselamatan pengunjung dan masyarakat sekitar bangunan terjamin.

Kepala DPUPR Kota Malang, Hadi Santoso mengungkapkan, SLF sangat penting bagi pemilik bangunan. Sebab, banyak terjadi kasus pelanggaran bangunan gedung, baik AP, SitePlane, IMB, Amdalalin dan gangguan lain bagi lingkungan sekitar. "Selain itu, kurangnya tingkat keselamatan bangunan terhadap resiko kebakaran dan roboh karena lemahnya fungsi keandalan bangunan," terang dia.

Untuk itu, pria yang akrab disapa Soni tersebut terus mendorong pemilik bangunan di Kota Malang yang belum mengurus izin penerbitan SLF agar gedung yang telah dibangun bisa memverikan kenyamanan dan keamanan bagi masyarakat. “Karena SLF sangat penting. Bila tak punya SLF, dampaknya pada kekhawatiran aspek keandalan bangunan yang ditempati,” jelas dia.

Pada kesempatan tersebut, Soni menguraikan, masa berlaku SLF bagi bangunan gedung, sekolah, rumah tinggal hingga rumah deret yang berlantai dua memiliki jangka waktu 20 tahun. Sementara, untuk bangunan gedung hunian rumah tinggal yang tak sederhana, memiliki jangka waktu 5 tahun. “SLF memiliki dua aspek persyaratan administratif dan teknis. Dua poin ini menjadi acuan pengujian penerbitan SLF,” papar dia.

Soni melanjutkan, untuk aspek persyaratan teknis meliputi pemenuhan keselamatan, yakni sistem proteksi kebakaran. Kemudian, aspek kesehatan, seperti ventilasi udara, pencahayaan alami dan buatan, sanitasi air limbah dan hujan serta pembuangan sampah. Selain itu, asoek kenyamanan juga menjadi perhatian khusus. "Misalkan kondisi udara ruang gerak dalam bangunan, tingkat getaran dan kebisingan. Kemudian, aspek kemudahan meliputi sarana dan prasarana jalur khusus evakuasi serta fasilitas untuk difabel dan lansia," tandas dia.(tea/Malangpostonline.com)

Editor : tea
Uploader : slatem
Penulis : tea
Fotografer : Ipunk

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU