Pelopor Bakso di Kota Malang Tutup Usia, Kegigihannya Terus Dikenang

  • 18-09-2019 / 06:52 WIB
  • Kategori:Malang
Pelopor Bakso di Kota Malang Tutup Usia, Kegigihannya Terus Dikenang Anak pertama Pak Man, Sugeng Hariono akan meneruskan perjuangan Bakso Bakar Pak Man bersama adiknya.

MALANG - Soeparman, pemilik Bakso Pak Man meninggal dunia, Senin (16/9) lalu di Rumah Sakit Aisyiyah pukul 08.15 WIB. Pelopor bakso di Kota Malang meninggal dunia akibat penyakit komplikasi yang dideritanya sejak satu tahun belakangan.

Kegigihan Pak Man sapaan akrabnya dalam bekerja masih membekas bagi anak pertamanya, Sugeng Hariono. Sebab meski dalam kondisi sakit laki-laki yang mengawali membuka bakso di Kota Malang sejak tahun 1963 ini masih aktiv mengunjungi warung Bakso Bakar Pak Man cabang jalan Diponegoro.

"Beliau masuk rumah sakit sejak Selasa (10/9) lalu pukul 7.30 WIB, selama sakit satu tahun sudah dua kali masuk rumah sakit, bapak tipikal orang yang susah untuk diajak berobat," terang Sugeng.

Kepergian Pak Man menyisakan kepedihan. Terlebih saat menengok ke belakang perjuangan Pak Man yang tidaklah mudah. Sebelum dikenal seperti sekarang ini, Pak Man pernah mendapat penolakan berjualan bakso.

Di tahun 60an masyarakat mengira bakso itu mengandung babi. Bahkan saat sedang berjualan Pak Man pernah dilempari oleh warga hingga akhirnya berganti nama menjadi Sopso (sop bakso).

"Dulu berjualannya di rombong, baksonya itu diletakkan di kotak rombong pas ada orang beli pintu rombing dibuka akhirnya bakso jatuh semua ke rombong, baksonya itu tidak kotor karena bukan jatuh di tanah akhirnya diambil pakai tusuk kemudian di bakar, itu awal mulanya jadi bakso bakar," kisah Sugeng. 

Cabang pertama Bakso Bakar Pak Man berada di Comboran tepatnya di jalan Professor Moch Yamin Malang. Kemudian 20 tahun silam membuka cabang kedua di jalan Diponegoro.

Sugeng memaparkan bahwa sebelum bertandang ke Malang, Pak Man pernah merantau ke Jember dan Situbondo. Namun selama 6 bulan berjualan bakso tidak mendapatkan untung sama sekali.

"Kemudian pindah ke Malang dan membuka Bakso Bakar Pak Man pada 1963 hingga sekarang," paparnya.

Kepergian Pak Man ini meninggalkan dua orang anak dan 5 cucunya. Kesedihan turut dirasakan oleh semua keluarga besar. Terlebih dalam kesehariannya Pak Man merupakan orang yang sabar dan pendiam.

Pesan Pak Man yang terus diingat Sugeng adalah agar dalam kehidupan ini ialah agar dirinya tidak menjadi orang yang sombong, jika berlebih jangan lupa memberi tanpa pandang bulu.

"Kalau ingat pesan jadi rasanya sedih, sekarang bapak tidak ada, meskipun banyak yang ditinggalkan tapi tanpa bapak rasanya tidak ada artinya bagi saya," ungkap Sugeng dengan mata berkaca-kaca.

Kesederhanaan Pak Man juga menjadi tauladan bagi anak-anak dan cucunya. Sebab, meskipun saat ini hidup berlebih Pak Man tetap tinggal di rumah sederhana jalan Kolonel Sugiono Gang 6, RT. 06 RW.01. 

Semangat kerja keras yang selama inj ditunjukkan menjadi contoh terbaik dalam keluarganya. Perjuangan Pak Man berjualan bakso kedepan akan terus dijalankan oleh Sugeng dan adik kandungnya.

"Rencana Saya dan Adik nantinya kami akan membuka Bakso Bakar Pak Man di sebuah ruko, karena cabang jalan Diponegoro kontraknya akan habis tiga tahun lagi, tetapi cabang di Comboran akan selalu ada karena itu bukti perjuangan bapak dari awal hingga sekarang," tutupnya. (lin/Malangpostonline.com)

Editor : lin
Uploader : irawan
Penulis : lin
Fotografer : lin

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU