Mengenal Batik Ecoprint Karya Levita Damaika

Pakai Daun Jati dan Susu Kedelai, Jadi Primadona hingga Manca

  • 20-09-2019 / 23:46 WIB
  • Kategori:Malang
Pakai Daun Jati dan Susu Kedelai, Jadi Primadona hingga Manca BATIK ECOPRINT: Levita Damaika Anggraini ketika menunjukkan salah satu batik ecoprint hasil karyanya.

Saat ini, industri batik dan kain kriya menjadi salah satu tren busana. Banyak sekali inovasi batik. Salah satunya, dengan produk ecoprint yang memiliki desain khas. Pembuatannya cukup sederhana dan dibuat dalam waktu singkat dan memiliki harga jual yang tinggi di pasaran. Popularitasnya terus berkembang pesat, apalagi banyak masyarakat yang menerapkan gaya hidup ramah lingkungan.

Salah satu pembuat kain ecoprint, yakni Levita Damaika dengan brand-nya, Lakshmee. Ia mencoba membuat kriya ini sejak tahun 2016. Seiring berkembangnya waktu, industri tersebut terus berkembang dan hasilnya diekspor hingga luar negeri.

Kepada Malang Post, Levita menceritakan perjalanannya membangun bisnis kain ecoprint itu. Mulanya, ia sama sekali tidak terpikir untuk membangun bisnis fashion.

“Awal mula bikin usaha, saya bergerak di industri makanan dan minuman. Kemudian, usaha itu terus menurun,” terang dia ketika ditemui Malang Post dalam sebuah kesempatan.

Kemudian, sekitar tahun 2016, ia datang ke Bali dan tertarik dengan salah satu baju pernikahan yang digunakan oleh seorang temannya. Bahannya adalah kain ecoprint.

“Setelah itu, saya mencari informasi dan mengikuti training selama tiga bulan untuk pembuatan ecoprint,” lanjut perempuan berhijab ini.

Menurutnya, bisnis ecoprint bisa berkembang pesat. Sebab, sejauh ini, kain kriya tersebut banyak disukai oleh masyarakat lokal hingga mancanegara. “Di Indonesia, daun jati dan bahan-bahan alami mudah ditemukan. Motif-motif itu juga banyak disukai masyarakat,” kata dia.

Pembuatan ecoprint cukup sederhana dan bisa dilakukan di rumah dengan bahan-bahan mudah didapat. Seperti kain, daun jati, tawas, susu kedelai, cuka dan lainnya. Mulanya, dilakukan pengolahan kain atau mordanting. Sebelum dibuat bentuk batik, kain direndam dulu dengan menggunakan air susu kedelai dan kemudian dijemur.

“Untuk kain katun dan sutera, saya menggunakan susu kedelai. Sementara, untuk kain lainnya, menggunakam air tawas. Cara ini dilakukan untuk mempertahankan warna dasar kain, dan membuka pori-pori kain agar gambar dapat tercetak,” jelas dia.

Sementara, untuk bahan motif, seperti daun jati dan bunga, direndam dulu selama beberapa waktu di dalam air. Sehingga, mampu menghasilkan warna dan motif alami yang eksotis.

Ada dua cara untuk membuat motif. Pertama, teknik ecoprint. Setelah direndam, motif tersebut kemudian ditempelkan ke kain dan ditutup kembali dengan kain serupa. Kemudian, dipukul dengan palu besi sampai mengeluarkan warna yang diinginkan. Setelah itu, kain digulung atau ditali dengan menggunakan jerami dan dikukus selama empat hingga delapan jam.

Kemudian, cara kedua, yakni dengan teknik hapazome dye, yang merupakan penyederhanaan dari ecoprint. Daun dan kelopak bunga diletakkan di atas kain dengan menggunakan motif tertentu. Kemudian, dilapisi ujung lainnya. Gambaran motif tersebut kemudian dipukul menggunakan palu besi dan memunculkan warna. Dalam teknik ini, tidak menggunakan bara api, namun menggunakan tahap pencucian warna, sama seperti pembuatan kain batik organik.

Sejauh ini, perempuan yang juga mengembangkan bisnis pewarnaan organik dengan brand Studio Tumbuh ini tidak mendapatkan kesulitan untuk melakukan proses pembuatan kain sehingga menjadi hasil yang sempurna.

“Proses pembuatannya memang memakan waktu yang cukup lama. Untuk kain berukuran besar, yakni 240 x 115 meter, bisa memakan waktu sekitar dua minggu. Sedangkan untuk hijab, satu orang bisa menghasilkan 10 biji per orang dalam satu hari,” papar dia.

Untuk desainnya, lanjut dia, satu kain hanya menggunakan satu motif saja. Sebab, bahan baku untuk motif kain juga sulit ditemukan. “Bahan-bahannya, saya cari sendiri di alam. Untuk daun jati misalnya, saya harus cari ke daerah Bedengan. Sehingga, saya membuat desain yang limited,” ujar perempuan yang menggelar dagangannya di kawasan Jalan Kalimosodo ini.

Lebih lanjut, Levita menguraikan, berdasarkan proses dan keterbatasan stok, ia membanderol hasil karyanya dengan harga yang kompetitif. Untuk scarf, ia membanderol sekitar Rp 175 ribu, hijab segi empat Rp 200 ribu dan hijab pashmina Rp 225 ribu. Sementara, untuk kain lainnya, harganya beragam, mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

“Sejauh ini, hasil karya kami sudah dikirim ke Jogjakarta, Bali dan Jakarta. Selain itu, setiap bulannya, kami secara rutin mengirimkan ke luar negeri,” jelas lulusan SMKN 8 Malang ini.

Dalam satu bulan, pihaknya mengirimkan sebanyak 30 pieces kain ke Slovakia, Rusia hingga Jerman. Selain itu, ia juga sering mendapat pesanan dari kawasan Vietnam. Di sana, hasil karya kain kriya tersebut dijual di sebuah artisan market untuk kembali dijual. Sehingga, dalam satu bulan, pendapatannya mencapai Rp 50 juta atau lebih.

“Kain ini banyak disukai oleh orang bule. Orang Vietnam biasanya memakai produk ecoprint sebagai bahan untuk baju maupun kemeja. Sementara, untuk masyarakat Eropa dibuat sebagai scarf,” kata perempuan yang tinggal di kawasan Jalan Bromo ini.

Selama ini, produksi untuk Lakhsmee dibantu oleh keluarga. Sementara, untuk Studio Tumbuh, ia juga mengajak masyarakat sekitar yang menjadi anggota komunitasnya. Ke depan, ia berharap, usahanya tersebut bisa terus tumbuh dan mampu melakukan ekspor lebih banyak lagi. “Mudah-mudahan, bisa ke seluruh penjuru dunia,” tandas dia.(Amanda Egatya/ary)

Editor : Ary
Uploader : abdi
Penulis : tea
Fotografer : tea

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU