Diskusi Malang Post Forum Pembinaan Atlet Bulu Tangkis (1)

Polemik PB Djarum Vs KPAI Membuat Daerah Turut Resah

  • 22-09-2019 / 22:36 WIB
  • Kategori:Malang
Polemik PB Djarum Vs KPAI Membuat Daerah Turut Resah BERI SOLUSI: Perwakilan KONI dan PBSI Malang Raya memberikan solusi terkait pembinaan atlet bulu tangkis.

Polemik antara Perkumpulan Bulu Tangkis (PB) Djarum dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia menjadi bahasan menarik pada diskusi di Malang Post, Jumat (20/9). Polemik itu amat relevan dengan tema diskusi “Pembinaan Atlet Bulu Tangkis”. Nyatanya terhentinya audisi PB Djarum 2020 membuat organisasi pembina atlet di daerah turut resah.

Ya sejumlah kalangan memang resah. Betapa tidak, PB Djarum selama ini dikenal sebagai mesin pencetak atlet bulu tangkis berprestasi Indonesia. PB Djarum selalu memberi peran signifikan terhadap perkembangan cabor bulu tangkis daerah. Paling itu hal itu yang diulas para tokoh-tokoh pembina cabor bulu tangkis di kawasan Malang Raya.

Diskusi yang digelar di Graha Malang Post tersebut, setidaknya dihadiri oleh Ketua KONI Kabupaten Malang Imam Zuhdi, Ketua KONI Kota Batu Mahfud, Ketua KONI Kota Malang periode 2014-2018 Bambang Suyono, PBSI Kabupaten Malang Sigit Ismihadi, PBSI Kabupaten Malang Heri Mursid, PBSI Kota Malang Rizki Alan F.

Perwakilan Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Kabupaten Malang Sigit Ismihadi menyebut bahwa keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi tahun depan, berdampak berkurangnya jumlah kompetisi bagi para atlet muda daerah. Padahal, sebagai atlet muda, mereka sangat membutuhkan wadah kompetisi atau turnamen untuk meningkatkan kemampuan menuju jenjang atau level yang lebih tinggi.

"Sekarang dilihat secara sederhana, PB Djarum memberikan peran yang sangat luar biasa. Setiap Kota maupun Kabupaten diberikan anggaran Rp 10 juta untuk menyelenggarakan kompetisi tingkat daerah," ungkapnya mengawali diskusi di meeting room Graha Malang Post.

Dijelaskannya, para atlet muda daerah sangat bergantung pada kompetisi yang dilakukan secara rutin. Sebab mereka membutuhkan tahapan raihan prestasi yang harus dilalui. Melalui kompetisi daerah semacam itu juga, bibit-bibit atlet berprestasi dapat terjaring.

"Hingga saat ini kita pun masih cukup sulit menemukan bibit-bibit atlet bulu tangkis berprestasi. PBSI pun menggelar Badminton on Mall (BOM), sampai segitunya kita mencari bibit ke daerah-daerah," sambungnya.

Lebih lanjut ia menyampaikan, bahwa PB Djarum sebaiknya jangan tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Mengingat dampaknya yang akan sangat signifikan dirasakan oleh PBSI khususnya ditingkat daerah.

"Dana yang terbatas untuk daerah, saya kira memang perlu dipikir lagi, jangan sampai PB Djarum yang sudah sedemikian rupa memberikan kontribusi audisinya harus diakhiri. Walaupun kalau dipikir-pikir PB Djarum malah seneng kalau tidak mengeluarkan uang," tandasnya.

Senada dengan yang disampaikan oleh Sigit Ismihadi, Ketua KONI Kabupaten Malang Imam Zuhdi menyebut bahwa keputusan PB Djarum kemungkinan akan berdampak pada menurunnya prestasi atlet tingkat daerah. Apalagi cabor bulutangkis menjadi penyumbang medali yang cukup dominan dibanding dengan cabor lainnya.

"Sebenarnya KONI tidak ada kapasitas untuk berbicara, sebab itu ranah profesional kami mengurusi amatir. Tapi ukuran KONI sangat simpel, minimal dua tahun sekali KONI nagih prestasi pada setiap cabor. Prestasi yang menjadi ukuran kami itu Proprof selebihnya tidak," jelasnya.

Sementara itu, dijelaskan pula oleh Ketua KONI Kota Batu, Mahfud, bahwa ruh dari pembinaan olahraga apa pun sejatinya adalah pada kompetisi rutin bagi para atlet. Namun di sisi lain, kompetisi tidak secara mudah diselenggarakan oleh pengembang tingkat daerah. Salah satu alasannya adalah keterbatasan anggaran. Apalagi dilihat pada konteks olahraga yang cukup kompetitif seperti bulu tangkis.

"Untuk jadi atlet nasional cabor bulu tangkis itu tahapannya sangat panjang dan berlapis-lapis. Harus lewat kompetisi rutin dan ajeg. Jelas itu membutuhkan anggaran yang tidak sedikit, sedang jika hanya bergantung pada dana APBD jelas tidak nutut, dan perlu diketahui bahwa menyelenggarakan suatu kompetisi itu sulitnya bukan main. Jadi peran PB Djarum ini sebenarnya sangat besar," terangnya.

Menurutnya, jika melihat polemik yang diusung oleh KPAI, seharusnya dapat dipilah atau dibedakan, antara Pabrik Rokok Djarum, Djarum Foundation, dan PB Djarum. Disampaikannya, PB Djarum sudah jauh levelnya dari Pabrik Rokok Djarum. Kemudian diungkapkannya juga bahwa perlu memahami sulitnya pengembang cabor untuk menggandeng pengusaha yang berkenan memberikan kontribusi terhadap kemajuan olahraga.

Kemudian pendapat serupa juga disampaikan oleh Ketua Umum PBSI Kota Malang Heri Mursyid terkait peran PB Djarum terhadap perkembangan atlet daerah. Menurutnya PB Djarum sejauh ini menjadi satu-satunya club olahraga yang mampu menciptakan image masa depan cerah. Sama halnya seperti image masuk AKPOL atau STAN, namun konteksnya sebagai atlet bulu tangkis.

"Baru PB Djarum saja yang sudah bisa menciptakan image semacam itu, karena di sana sudah komplet. Orang tua tidak akan risau dengan masa depan anak-anaknya, kalau sudah masuk PB Djarum," pungkasnya.(asa/ary/bersambung)

Editor : Ary
Uploader : abdi
Penulis : asa
Fotografer : Guest

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU