Smart Beauty

Uri-Uri Budaya Jawa

  • 22-09-2019 / 22:37 WIB
  • Kategori:Malang
Uri-Uri Budaya Jawa Wicha Rizky Sakti Mashito Widodo

Tantangan generasi muda Indonesia terhadap terpaan budaya asing, semakin berat ke depan. Namun anak muda seperti Wicha Rizky Sakti Mashito Widodo yang bakal menjadi benteng untuk budaya Indonesia. Aktivis budaya berusia 22 tahun ini aktif dalam Kampung Budaya Janti Padhepokan.

Ia tidak mau generasinya menjadi generasi yang menghilangkan budaya dan seni tradisi. Mahasiswi ilmu komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang tersebut menegaskan bahwa masih banyak pemuda-pemudi yang care terhadap warisan budaya tradisi.

“Faktanya masih banyak yang mau belajar warisan leluhur, mulai dari tari tradisional, lagu, musik,  ritual kebudayaan dan masih banyak lagi,” ujar Wicha kepada Malang Post.

Wicha sendiri, tergabung dalam kelompok mahasiswa yang ikut uri-uri budaya di kampung budaya Janti Padhepokan yang dimotori Mbah Yongki Irawan. Bersama rekan-rekannya dari UMM, belum lama ini mereka menghelat Festival Nyai Phutut, untuk menguri-uri budaya permainan tradisional.

Dalam festival ini, semua soal stigma dan stereotip soal permainan tradisional, dikupas tuntas. Wicha mengungkapkan, jelangkung yang distigmakan sebagai permainan setan, dilawan dengan adanya festival Nyai Phutut tersebut. Setelah menggelar festival ini, Wicha semakin yakin bahwa stigma mistis terhadap permainan tradisional itu tidak sepenuhnya benar.

“Soal Nyai Puthut atau jelangkung yang katanya selama ini disematkan stigma mistis, ternyata permainan yang seru untuk dimainkan dan dipelajari. Begitu juga dengan bambu gila yang bisa gerak karena energi dari pemainnya, bukan mistis semata,” tambah wanita yang juga hobi menulis puisi tersebut.

Dia bahkan merasa bahwa permainan tradisional seperti egrang sampai lompat tali, adalah nostalgia masa kecil yang terus dihantam budaya asing. Dia merasa beruntung bisa bersentuhan langsung dengan festival yang mengusung permainan tradisional. Sehingga, api kultur tradisi asli Indonesia tidak akan lekang.

“Rasanya kayak nostalgia, balik ke masa kecil lewat mainan-mainan tradisional. Andai saja, anak zaman sekarang masih ramai bermain bersama di lapangan setiap sore dengan permainan-permainan tradisional. Hal itu semakin menyadarkan saya Indonesia sekaya ini," tandas wanita yang gemar membuat cerpen ini.

Hanya saja, tantangan terhadap anak muda Indonesia saat ini semakin berat. Budaya asing yang menjadi dampak tak terelakkan dari globalisasi, terus menggerus tradisi dan kearifan lokal. Wicha mengaku tetap optimis, terutama dengan semangat nasionalisme Indonesia yang melekat pada generasi ini.

“Emang mulai geser sama budaya-budaya dari luar. Tapi, sekarang ada kombinasi juga, kayak misalnya fashion. Batik sekarang kan nggak melulu soal kemeja atau blouse aja, tapi juga bisa jadi gaun bahkan sampai go internasional. Sebagai anak muda, saya bangga dengan tradisi,” sambung pemilik akun Instagram @wichamasitha itu.

“Menurut saya, perlu ada penumbuhan rasa bangga menjadi anak Indonesia. Dengan kebanggaan, kami bisa belajar menjaga dan melestarikan. Contoh sederhana, biasa memakai bahasa daerah. Melestarikan kearifan lokal itu sama saja dengan menjaga kekayaan negeri ini,” tutup Wicha.(fin/ary)

Editor : Ary
Uploader : abdi
Penulis : fin
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU