Kasus Bayi Meninggal dalam Kandungan Meningkat

Asap Rokok Bisa Bikin Bayi Lahir Prematur

  • 09-10-2019 / 23:47 WIB
  • Kategori:Malang
Asap Rokok Bisa Bikin Bayi Lahir Prematur Ilustrasi

PERISTIWA bayi kembar Irish Bella meninggal dunia dalam kandungan beberapa hari lalu jadi pengingat tentang berbagai penyebab meninggalnya bayi. Di Malang Raya, jumlah bayi meninggal dalam kandungan tak sedikit.  (baca grafis, red)

Berdasarkan data yang dihimpun dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang periode Januari hingga Sepember 2019,  Intrauterine fetal Death (IUFD) berjumlah 36 kasus. Sedangkan keguguran atau abortus mencapai 181 kasus.

Data yang dihimpun dari Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang, dalam periode  Januari-September 2019, untuk IUFD dalam satu bulan terdapat dua hingga tiga kasus. Sementara abortus, berjumlah sekitar 12 kasus. Sedangkan sepanjang tahun 2018, untuk IUFD berjumlah 25 kasus. Sementara, untuk abortus 17 kasus. Angka tersebut merupakan data penanganan yang terjadi di Kamar Bersalin RSSA.

“Kasus IUFD tahun ini sedikit mengalami peningkatan. Jika tahun lalu berjumlah 25 kasus, tahun ini, hingga bulan September 2019 berjumlah 26  kasus. Sementara, untuk abortus mengalami  penurunan. Jika tahun lalu 17 kasus, tahun ini 12 kasus,” terang Tri Agustin, Kepala Urusan Kamar Bersalin RSSA Malang.

Kedua kasus tersebut merupakan salah satu risiko yang kemungkinan bisa terjadi pada ibu hamil karena berbagai sebab. Untuk kasus IUFD misalnya, bisa terjadi karena ibunya mengalami keracunan dalam masa kehamilan (preeklamasia). Salah satu penyebabnya adalah sang ibu mengalami tekanan darah tinggi ketika janin memasuki usia 20 minggu (trimester kedua atau ketiga).

“Selain itu, faktor pemicu lainnya adalah penyakit yang menyertai ibunya. Mulai dari gangguan jantung, ginjal hingga diabetes mellitus juga bisa menjadi penyebab. Ada juga kasus konginetal, bisa karena tali pusarnya terpelintir hingga terjerat tali pusar,” paparnya.

Sedangkan untuk kasus abortus, bisa terjadi ketika janin berusia kurang dari 20 minggu dengan berbagai macam penyebab, salah satunya adalah pendarahan. “Bayi yang lahir di usia kehamilan yang masih muda dan beratnya di bawah 1 kilogram, kami anggap itu kasus keguguran atau abortus,” kata dia.

Lebih lanjut, perempuan yang akrab disapa Agustin ini menguraikan, jika seorang ibu pernah mengalami keguguran atau kasus bayi meninggal dalam kandungan, tidak menutup kemungkinan akan terjadi lagi pada kehamilan berikutnya. Untuk itu, penatalaksanaan (tindakan) harus betul-betul tuntas. Ketika seorang perempuan memasuki masa kehamilan, ada plasenta, cairan ketuban dan berbagai macam selaput serta jaringan.

“Semuanya harus benar-benar bersih dan ditangani oleh tenaga kesehatan. Serta, harus dilakukan pemeriksaan melalui USG. Sebab, jika tersisa, walau sedikit, bisa menimbulkan penyakit, seperti kanker,” jelas dia.

Setelah betul-betul bersih, kondisi rahim akan melalui proses pemulihan. Biasanya, dalam jangka waktu tertentu, sekitar tiga atau enam bulan ke depan, sang ibu tidak boleh hamil terlebih dahulu. “Ibarat tanah, ini akan disuburkan kembali. Oleh karena itu harus megikuti pemulihan,” katanya.

Agustin mengimbau ibu hamil agar rutin melakukan pemeriksaan kandungan. Minimal, empat kali selama proses kehamilan. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi ibu dan janin sama-sama sehat. “Pemeriksaan tersebut sekaligus untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” kata dia.

Untuk menjaga kehamilannya agar tetap sehat, sang ibu juga harus memperhatikan nutrisi yang masuk dalam tubuhnya. Saat masa kehamilan pada bulan pertama dan kedua, seluruh asupan nutrisi harus didapatkan. Mulai karbohidrat, protein, mineral dan banyak lagi. “Sementara, setelah tiga bulan ke atas, asupan karbohidrat mulai dikurangi, perbanyak protein. Ini untuk mengantisipasi berat badan ibu tidak mengalami peningkatan lebih dari 12 kg. Bia menimbulkan preeklamasi juga,” tandas dia.
 

 

Asap Rokok Bisa Sebabkan Bayi Lahir Prematur

Di Kabupaten Malang menghadapi masalah lain. Yakni kasus bayi meninggal setelah melahirkan. Kasus ini cukup tinggi pada tahun lalu. Dari data Dinas Kesehatan, Kabupaten Malang, tahun 2018 lalu, terjadi 84 kematian bayi. 84 bayi yang meninggal ini, mulai usia 0-7 hari. Kematian bayi ini disebabkan karena beberapa faktor. Di antarannya karena berat badan bayi saat lahir terlalu rendah.

Hal ini diuraikan Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang RA Ratih Maharani, M.M.R.S. Dia mengatakan bayi dengan berat badan terlalu rendah sangat rentan terhadap kematian. 

”Lahir dengan berat badan rendah itu juga disebabkan beberapa hal. Pertama karena premature. Lahir premature ini juga disebabkan karena beberapa faktor, pertama kurang memperhatikan nutrisi, kedua karena aktifvitas ibu hamil yang berlebihan, ibu hamil juga sering mengalami KDRT dan mengakibatkan stress, serta beberapa faktor yang lainnya,’’ ungkapnya.

Asap rokok juga dapat menyebabkan bayi lahir prematur dengan berat badan minim. ”Meskipun bukan perokok, tapi ibu hamil yang terkena asap rokok bisa menjadi faktor bayinya lahir prematur, dengan berat badan sangat kurang, sehingga risiko kematiannya pun tinggi,’’ ungkapnya.

Selain itu, ada 4T yang juga menjadikan bayi lahir meninggal. T pertama adalah terlalu sering melahirkan, T kedua yakni terlalu dekat jarak kelahiran, T ketiga adalah terlalu tua melahirkan, dan T ke empat adala terlalu muda melahirkan.

Selain faktor tersebut, ada beberapa faktor lain yang menyebabkan kematian bayi. Di antarannya kelainan pada plasenta. ”Plasenta itu adalah jalan masuknya nutrisi dan dari ibu kepada janin yang dikandungnya. Jika plasentanya bermasalah, maka janin tidak bisa berkembang, sehingga meninggal dalam kandungan,’’ katanya.

Di Kabupaten Malang, Ratih juga menyebutkan ada kasus tersebut. Namun demikian, untuk angkanya dia enggan menyebutkan.

Sedangkan untuk kematian bayi lahir, Ratih mengatakan mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Dia menyebutkan tahun 2014, angka kematian bayi di Kabupaten Malang mencapai

264 bayi. Kemudian tahun 2015, angka kematian bayi mencapai 246. Menurun lagi di tahun 2016, yaitu angka kematian bayi mencapai 180.

”Penurunan drastis ini terjadi pada tahun 2017. Angka kematian bayi mencapai 64 bayi,’’ kata wanita yang juga menjabat sebagai Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Malang ini. Namun demikian di tahun 2018, Ratih kembali mengatakan terjadi kenaikan angka kematian bayi, yaitu 84 bayi.

Sejauh ini Ratih mengatakan, Dinas Kesehatan tidak berdiam diri. Beragam upaya telah dilakukan. Melalui beragam program kesehatan, Dinkes terus memberikan edukasi kepada masyarakat.

 

Kota Batu Edukasi Calon Pengantin

Angka keguguran maupun bayi mati dalam kandungan di Kota Btu mencapai 28 kasus pada tahun ini. Jumlah itu didapat dari data Dinas Kesehatan Kota Batu terhitung sejak bulan Januari hingga September 2019 ini dari enam rumah sakit dan lima Puskesmas.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Batu Drg Kartika Trisulandari mengatakan, penyebab kematian bayi karena faktor yang beragam. “Mulai dari stres, masalah dalam rahim, trauma fisik dan psikis, penyakit penyerta atau misal ada penyakit lain seperti jantung. Namun yang lebih sering karena sakit organ dalam seperti rahim yang bermasalah," jelas Kartika kepada Malang Post, Rabu (9/10) kemarin

Masalah lainnya yakni hamil di usia muda dan usia tua. Ia menguraikan untuk usia muda di bawah 20 tahun. Sedangkan usia tua untuk kehamilan di atas 35 tahun. "Masalah usia juga jadi faktor terjadinya keguguran atau bayi mati dalam kandungan. Karena itu untuk mencegah terjadinya kematian bayi dalam kandungan harus, ibu bayi disuplay gizi dengan baik," imbuhnya.

Selain gizi, lanjut dia, masalah mental juga menjadi salah satu faktor keguguran. Misalnya menikah di usia muda namun tidak bayak memiliki pengetahuan kesehatan. Karena itu, untuk mengatasi terjadinya kematian bayi dalam kandungan,  pihaknya memiliki program smart catin. Yakni edukasi untuk catin atau calon pengantin tentang persiapan saat akan menikah hingga pengetahuan tentang reproduksi. "Program ini kami harap tak hanya menurunkan angka kematian bayi dalam kandungan. Tapi juga menekan bayi lahir stunting. Jadi program ini untuk jangka panjang," paparnya.  (tea/eri/ira/van) 

Editor : van
Uploader : hargodd
Penulis : ira
Fotografer : -

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU