Minuman Ksatria Karya Siswa SMPN 16 Malang

Anti Bakteri dari Bahan Alami, Raih Medali Perak di Malaysia

  • 11-10-2019 / 00:31 WIB
  • Kategori:Malang, Internasional
Anti Bakteri dari Bahan Alami, Raih Medali Perak di Malaysia TIM HEBAT: Xena Cleopatra Betha Oktaviana Rudita Putri (kiri) dan Chellina Azzahra Chaerunnisa (kanan) memperoleh medali perak pada kategori Healthy and Development di ajang World Invention Competition Exhibition (WICE) 2019.

Minuman Ksatria karya dua siswa SMPN 16 Malang, Xena Cleopatra Betha Oktaviana Rudita Putri dan Chellina Azzahra Chaerunnisa berhasil membawa pulang medali perak. Prestasi itu diraih pada ajang World Invention Competition Exhibition (WICE) 2019 pada 2-6 Oktober di  Kuala Lumpur Malaysia. Event internasional yang diikuti 88 tim dari 8 negara diselenggarakan oleh Asosiasi Ilmiah Muda Indonesia (IYSA) dan SEGi Callege Campus Subang Jaya.

Mereka harus bersaing dengan puluhan tim dari Indonesia dan 7 negara lainnya yaitu Malaysia, Filipina, Vietnam, Thailand, Turki dan Korea Selatan. Di kategori Healthy and Development inilah Minuman Ksatria mampu menggaet dewan juri, karena kandungan anti bakteri dan mampu menjadi immuno stimulan.

"Minuman Ksatria terbuat dari bahan-bahan alami seperti daun kayu manis, serai, cengkeh, gula, daun jeruk purut dan air. Kandungan di dalamnya sangat tinggi protein dan zat bioaktiv," ujar Xena, sapaan akrab Xena Cleopatra Betha Oktaviana Rudita Putri.

Minuman Ksatria juga diperkaya dengan manfaat lainnya seperti mampu mencegah asma, vertigo, hipertensi dan masih banyak lagi. Pada awalnya minuman ini dikemas dengan ukuran 330 ml namun saat di Malaysia hadir dengan kemasan 100 ml.

Bahan yang digunakan minuman ini merupakan bahan alami tanpa menggunakan pengawet. Dengan ketepatan proses pembuatan, Minuman Ksatria mampu bertahan hingga 79 hari di suhu ruangan. Diminum saat dingin jauh lebih nikmat lantaran rasanya asam, manis dan ada nuansa gurihnya.

"Untuk membuat Minuman Ksatria ini kami membutuhkan waktu selama 3,5 bulan, yang lama itu menunggu hasil uji laboratorium," tegas siswi kelas IX ini.

Untuk uji laboratoriumnya sendiri dilakukan dengan menggandeng Universitas Brawijaya. Minuman Ksatria sebelumnya adalah produk unggulan SMPN 16 Malang yang dibuat hanya berdasarkan kenikmatan rasa. Agar kandungan yang tersaji di dalamnya bermanfaat bagi tubuh, Xena dan Zahra mengembangkan minuman tersebut lengkap dengan uji lab.

Berdasarkan hasil Uji Proksimat dengan sampel 50 ml/saji menunjukkan kadar Protein 3.1 persen, kadar lemak 0.67 persen, kadar karbohidrat 1.02 persen, kadar air 95 persen, kadar Bioaktif (tannin, saponi, steroid, Flavonoid, Alkaloid, Glikosida) sebesar 0.17 persen dan enerhi total 35 kkal per saji.

Bahan utama pembuatan Minuman Ksatria adalah daun kayu manis, lantaran tanaman ini banyak memiliki khasiat bagi kesehatan tubuh. Selain itu, produknya juga lebih ramah lingkungan dan tidak menimbulkan efek samping. Kayu manis telah digunakan sebagai bumbu oleh bangsa Mesir Kuno pada 5.000 tahun lalu. Penggunaannya biasanya dicampur dengan madu yang berfungsi sebagai suplemen berbagai penyakit seperti radang sendi, kulit, jantung, dan perut kembung.

Salah satu tim peneliti, Chellina Azzahra Chaerunnisa menambahkan, kayu manis (Cinnamomum burmannii) mempunyai efek farmakologis yang diperlukan dalam bahan obat. Bahkan hampir di semua bagian tanaman ini baik kulit, batang, daun, dan akar. Fungsinya pun tak main-main yakni berkhasiat sebagai pencahar kentut (Carminative), pencahar keringat (diaphoretic), antirematik, meningkatkan nafsu makan (Istomachica), dan menghilangkan rasa sakit (Analgesik).

"Kandungan kimia Kayu Manis antara lain minyak atsiri, eugenol, safrol, cinnamaldehyde, tanin, kalsium oksalat, resin, dan penyamak yang juga bisa membantu mengatasi asam urat, radang lambung atau tukak lambung (gastritis), hernia, sariawan, penyakit kuning, dan lainnya," papar Zahra.

Mendapat apresiasi berupa medali perak di kompetisi internasional pertama yang diikuti keduanya ini membuat mereka semakin semangat mengembangkan produk dari berbagai sisi. Misalnya jika saat ini dibuat dalam bentuk cair, ke depannya ingin mengembangkan dalam bentuk serbuk yang lebih praktis dibawa kemanapun dan tentu ramah lingkungan.

Selain itu juga terus memperbaiki kemasan produk agar lebih memiliki nilai estetika tinggi. Terlebih saat lomba, Xena dan Xahra juga mendapat masukan untuk memperbaiki packaging dan memperbaiki komposisi gulanya agar cita rasa tidak terlalu manis.

Keikutsertaan dua siswi di ajang WICE 2019 tersebut sempat membuat keduanya minder. Sebab puluhan tim yang ikut menyajikan penelitian-penelitian dan produk keren serta didukung presentasi tak kalah bagusnya.

"Karena kami baru pertama kali ikut ajang internasional tentunya awalnya minder apalagi anak SD yang ikut bagus-bagus semua baik penelitian maupun produknya," urainya.

Tak hanya itu, mereka juga sempat kebingungan karena ternyata penilaiannya dewan juri dengan sistem mendatangi stand masing-masing peserta. Dua siswi kelas IX ini juga sempat merasa bingung mana dewan jurinya karena banyak orang berlalu lalang mendatangi stand.

"Kami bingung itu juri atau bukan ya, tapi kami berusaha menjawab semua pertanyaan, ada yang sempat bingung merangkai kata-kata karena pertanyaannya kenapa bioaktif bisa jadi anti bakteri, langsung kaget dan nge-blank," tandasnya.(Linda Epariyani/ary)

Editor : ary
Uploader : abdi
Penulis : lin
Fotografer : ya

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU