Kapten Laut Albert Warokka

Terkenal Bandel, Selalu Bela Pribumi Tertindas

  • 09-11-2019 / 00:28 WIB
  • Kategori:Malang
Terkenal Bandel, Selalu Bela Pribumi Tertindas SAUDARA : Nelly Warokka, adik pahlawan Kapten Laut Albert Warokka saat menunjukkan buku kisah kakaknya yang ditulis oleh TNI AL.

Malangpostonline.com - Bagi Nelly Warokka, 83, kakaknya Kapten Laut Albert Warokka, adalah sumber kebanggaan keluarga sampai sekarang. Masyarakat, mungkin hanya tahu Albert gugur di medan perang, saat perang melawan Belanda di lautan Bali pada April 1946. Tapi, sosok yang pernah bertempur bahu membahu bersama I Gusti Ngurah Rai pahlawan Bali tersebut ternyata tumbuh sebagai remaja yang setia kawan.

Nelly bercerita bagaimana kakaknya yang lahir pada 10 Juli 1924 sudah menentang penindasan terhadap anak-anak pribumi. “Sejak remaja kakak saya sudah tidak suka dengan anak-anak keturunan Belanda yang suka menindas remaja Indonesia. Nyalinya besar, sejak masih remaja,” ujar Nelly kepada Malang Post, ditemui di kediamannya di Jalan Sulfat Agung, Purwantoro, Blimbing.

Meski Nelly masih kecil saat Albert menginjak remaja, dia ingat betul bagaimana kakaknya menyimpan kebencian kepada penjajah, baik itu Belanda maupun Jepang.Saat ada remaja pribumi yang dirundung oleh anak-anak Belanda, Albert yang maju pertama untuk menjadi pembela.

Karena keberaniannya ini, Albert bahkan dikenal oleh banyak pimpinan Belanda yang memerintah di Lawang. “Kakak saya ini terkenal bandel, nakal dan pemberani. Dia selalu bilang ‘saya libas’ ketika bicara soal penjajah,” ungkap Nelly.

Tak hanya membela anak-anak sebayanya, Albert juga selalu trenyuh dengan penderitaan masyarakat pribumi. Terutama, pribumi yang dipaksa menjadi budak dan buruh kerja paksa oleh penjajah. Bahkan, dia nekat mencuri ketela rambat untuk diberikan kepada remaja-remaja lokal kawan seumurannya, dari kebun yang dikelola Ayahnya, Yohanes Warokka. Dengan kecerdikan dan keberanian yang sudah mengalir dalam nadinya, Albert sering mengelabui penjaga kebun.

Umbi-umbian ini diberikan kepada remaja pribumi yang kelaparan di luar kompleks RSJ Lawang. Albert lahir dari pasangan Yohanes Warokka dan Armini. Ayah Albert adalah kepala pertanian RSJ Lawang era Belanda. Dia memiliki 11 saudara. Nelly adalah adik kelima. Mereka besar di Desa Sumber Porong, Kecamatan Lawang.

Dia menempuh pendidikan di Holandsch Inlandsche School (HIS) atau SDK Santo Fransiskus Lawang Jalan Tawang Argo (Zusterschool Ussulinen), Hogere Burger School (HBS) Lawang, dan AMS Malang di Kota Malang. Setelah memasuki usia dewasa muda, Albert, menjalani pendidikan pelayaran Semarang.

Dia lalu terpilih menjadi anggota latihan pembantu Kaigun dan Butai, serta latihan pelaut Sen In Kurensjo di Singapura pada 1944. Sebelum Jepang, Italia dan Jerman kalah perang tahun  1945, anak-anak muda Indonesia, termasuk Albert membentuk organisasi sosial, yang sejatinya adalah gerakan bawah tanah untuk menentang penjajahan.

Setelah Indonesia dinyatakan merdeka, Albert muda yang masih berusia 21 tahun, bergabung dengan BKR Laut Banyuwangi. Tahun 1945, Albert menjadi wakil komandan BKR Laut Banyuwangi. Namun, jangan dibayangkan angkatan laut ini seperti masa sekarang. Kapal yang digunakan adalah kapal nelayan.

Senjata dan amunisi sangat terbatas. Logistiknya adalah bakpau yang di tengahnya dimasukkan pil kina, untuk mencegah prajurit terserang malaria. BKR Laut Banyuwangi ini, berubah menjadi Angkatan Laut Republik Indonesia Pangkalan X Banyuwangi. Albert adalah seorang perwira yang sangat menonjol di batalyon ini.

Dia pernah menyelamatkan mahasiswa sekolah tinggi kedokteran bentukan menteri Amir Syarifudin, yang ditahan Jepang di Gilimanuk Bali pasca kemerdekaan. Dia menerima pangkat Kapten Laut karena jasanya ini. Tahun 1946, gerakan agresi militer Belanda sangat agresif di lautan Bali.

Sehingga, I Gusti Ngurah Rai, meminta bantuan militer untuk melindungi kawasan Bali. Akhirnya, tiga kompi tempur dikirimkan untuk operasi lintas laut Jawa Bali. Gelombang pertama kompi tempur, dipimpin oleh Albert yang menyasar pantai utara Bali. Dia memikul beban tugas yang paling berat, karena harus membuka jalan ke area yang dikuasai Belanda.

Namun, karena Albert dikenal paling bernyali, dia memikul tugas ini dengan gagah berani. “Saya pernah bertemu dengan pensiunan-pensiunan jenderal yang dulu pernah berjuang, mereka mengakui bahwa kakak saya ini yang selalu maju paling depan, untuk memikul tugas paling berat,” jelas Nelly dengan mata berkaca-kaca.

Tugas Albert setelah mendarat, adalah secepatnya menuju jembatan di Jembrana Bali. Dia dan 15 anak buahnya harus memutus jembatan yang akan dilewati Belanda. Tapi, karena Belanda sudah melintasi jembatan ini, Albert menginisiasi penyergapan terhadap Belanda yang berkonvoi.

Dia berhasil melakukan penyergapan ini, bersama anak-anak muda Bali yang akan merebut wilayah Seririt. Persenjataan yang terbatas, dengan ransum yang menipis, membuat Albert memutuskan untuk mundur ke markas Banyuwangi, mengisi ulang logistik, lalu berperang lagi ke tanah pulau dewata.

Sayang, di tengah perjalanan, kapal Albert bertemu dengan patroli Belanda yang persenjataannya lebih lengkap. Kapal Albert dibombardir tanpa ampun. Albert tewas seluruh awak kru kapal, kecuali IGM Wiyono dan Kami yang meloloskan diri. Sampai sekarang, jenazah Albert sudah menyatu dengan lautan utara Bali.

Kematian Albert dan kru kapalnya, membuat para pejuang Indonesia naik darah. Serangan balik pun dilancarkan oleh I Gusti Ngurah Rai dan Makardi. Pembalasan tercapai. Satu kapal Belanda karam beserta krunya, satu kapal melarikan diri ke Gilimanuk, dengan lambung dan dek kapal terbakar akibat granat yang dilemparkan oleh pejuang.

Atas jasa Albert, namanya diabadikan sebagai nama gedung purnawirawan AL di Jalan Menari 66. Namanya juga dijadikan nama jalan di Porong Lawang. Serta, di kawasan belakang gedung DPRD Banyuwangi. Nelly menyebut, dalam momentum hari pahlawan, dia berharap kisah kakaknya bisa menjadi inspirasi anak-anak muda Indonesia.

“Jangan salah, kakak saya ini sudah berperang melawan angkatan laut Belanda di usia 22 tahun. Ketika bangsa ini memanggil, dia sudah tidak ada kompromi, dia tidak pikir apa-apa lagi kecuali bangsanya. Karena itu, saya tidak mengerti, mengapa ada orang ingin merdeka dari Indonesia,” jelasnya.

“Masa depan Indonesia, ada di tangan anak-anak muda. Kemajuan bangsa ini, tergantung anak mudanya. Saya takjub, selama 80 tahun lebih hidup, perubahan luar biasa Indonesia, itu berada di tangan anak-anak muda,” tutupnya.(fin/ary)

Editor : Ary
Uploader : slatem
Penulis : fin
Fotografer : fin

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU