Pembinaan SDM WBP, Lapas Klas I Kota Malang Menjadi Lapas Medium

  • 12-11-2019 / 18:11 WIB
  • Kategori:Malang
Pembinaan SDM WBP, Lapas Klas I Kota Malang Menjadi Lapas Medium Amanda Egatya/Malang Post//TINJAU: Staf Ahli Menteri Bidang Politik dan Keamanan Kemenkumham RI, Ambeg Paramarta saat meninjau Lapas Klas I Lowokwaru Malang, Selasa (12/11).

Malangpostonline.com - Menindaklanjuti program pemerintah pusat, yakni menciptakan SDM unggul, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) juga turut memberikan kontribusi dengan pembagian cluster. Hal tersebut dilakukan sebagai salah satu langkah percepataan pembinaan terhadap Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang ada. Untuk memantapkan langkah tersebut, Staf Ahli Mentri Bidang Politik dan Keamanan Kemenkumham RI, Ambeg Paramarta mengunjungi Lapas Klas I Lowokwaru Malang untuk melakukan tinjauan dan evaluasi. 

Kepala Lapas Klas I Lowokwaru Malang, Anak Agung Gde Krisna mengungkapkan, kunjungan tersebut dilakukan sebagai salah satu bahan kajian revitalisasi sistem penyelenggaraan pemasyarakatan. Nantinya, seluruh Lapas akan dibagi ke dalam tiga cluster, yakni maximum, medium dan minimum security. “Nantinya, pola pembinaan terhadap WBP di masing-masing cluster Lapas berbeda, sesuai dengan clusternya. Lapas Klas I Lowokwaru Malang ini masuk dalam medium cluster,” terang dia.

Dia mencontohkan, jika nanti ada WBP yang baru masuk dengan tingkat kedisiplinan dan ketertiban yang cenderung kurang, akan dibina terlebih dahulu di lapas dengan cluster maximum security. Setelah dilakukan pembinaan dan assessment yang dilakukan oleh tim asesor dari Balai Pemasyarakatan (Bapas) selama satu tahun sekali dan lolos, WBP tersebut akan berpindah ke Lapas cluster medium. Jika kembali lolos, akan berpindah lagi ke Lapas dengan minimum security. “Intinya, ada pada perubahan perilaku WBP. Mereka semakin tertib dan disiplin, akan cepat pindah ke cluster berikutnya. Setiap cluster, memberikan hak yang berbeda kepada para WBP,” papar dia.

Nantinya, dalam Lapas dengan cluster maximum security, WBP akan diberikan pembinaan terkait kedisiplinan, ketertiban hingga keagamaan. Sementara, pada Lapas dengan cluster medium, akan diajarkan keterampilan. Setelah itu, kembali dimantapkan dalam lapas dengan minimum security. “Di cluster terakhir, nanti WBp akan diberikan pemantapan skill dan diberi sertifikat. Sehingga, mereka bisa bekerja di luar dengan pengawasan kami. Sehingga, ketika bebas, ia menjadi manusia baru, memiliki keterampilan dan tidak lagi mengulangi perbuatannya,” ungkap pria asal Pulau Dewata itu.

Saat ini, lanjut dia, pihaknya tengah melakukan klasifikasi terhadap WBP sesuai dengan bakat yang mereka miliki. Serta, melakukan pembinaan sesuai dengan skill masing-masing. “Pembagian cluster tersebut juga sebagai salah satu langkah untuk menangani masalah over capacity disini,” kata dia.

Sementara itu, Staf Ahli Menteri Bidang Politik dan Keamanan Kemenkumham RI, Ambeg Paramarta menambahkan, kunjungannya ke wilayah Jawa Timur tersebut, yakni di Pasuruan dan Malang untuk mengetahui implementasi dan kendala yang ada di lapangan. Di Lapas Klas I Lowokwaru, masih dalam tahap awal revitalisasi. “Kita masih lakukan assessment, bagaimana proprsi yang pas berdasarkan klasifikasi yang ada,” lanjut dia.

Selama ini, rata-rata, kendala yang dialami oleh Lapas adalah keterbatasan jumlah petugas assessor. Sebab, selama ini, jumlah mereka lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah WBP yang ada. Nantinya, Kepala Divisi Pemasyarakatan (Kadiv Pas) akan bikin action plan dengan melakukan inventarisasi petugas yang ikut sebagai assessor,” kata dia.

Kemudian, membuat pembinaan dan pelatihan agar bisa melakukan percepatan revitalisasi. “Targetnya, tahun ini sesuai arahan, bisa dilakukan secara bertahap. Sebab, Lapas yang multi purpose menjadi singe purpose membutuhkan waktu penyesuaian,” tandas dia.(tea/Malangpostonline.com)

Editor : tea
Uploader : irawan
Penulis : tea
Fotografer : tea

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU