Ada Balita di Bunuh Ayah Tiri

  • 17-11-2019 / 04:48 WIB
  • Kategori:Malang
Ada Balita di Bunuh Ayah Tiri

Malangpostonline.com - Di wilayah hukum Kota Malang, baru-baru ini terjadi kasus pembunuhan terhadap anak tiri. Korbannya balita, diawali dari penganiayan karena sang anak tiri itu pipis sembarangan. Korbannya, Agnes Arnelita yang masih berusia tiga tahun, pelakunya sang ayah tiri, Ery Age Anwar, 36.

Usai Agnes buang air sembarangan, sang ayah emosi dan langsung membawa Agnes ke kamar mandi. Ia menyiramnya dengan air. Kemudian, Agnes jatuh tersungkur dan diinjak oleh sang ayah pada bagian punggung dan dada. Karena kedinginan, Agnes sempat digendong oleh sang ayah dan tubuhnya dibakar di atas kompor. Hingga Agnes tak sadarkan diri dan nyawa balita malang itu akhirnya tak tertolong.

Berdasarkan hasil penyelidikan, olah TKP, dan hasil autopsi, pelaku ditetapkan sebagai tersangka.

Akibat perbuatannya itu, tersangka diancam pasal UU Perlindungan Anak. Yaitu, pasal 80 ayat 3 UU RI 35 tahun 2014, dengan ancaman hukuman pidana 15 sampai 20 tahun.

Selain itu, di Kota Malang juga baru saja terjadi kasus kekerasan terhadap siswa. Pelakunya seorang motivator, dengan korban siswa SMK Muhammadiyah 2 Malang. Beberapa orang tua siswa yang tak terima anaknya dipukul, langsung melaporkan peristiwa tersebut ke Polres Malang Kota. Sehingga, menyeret sang motivator ke dalam jeruji besi. Namun akhirnya para orang tua siswa pun mencabut laporan mereka.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Malang Kota, pada tahun 2017, kasus kekerasan terhadap anak terjadi pada korban kisaran usia 12-18 tahun dengan jumlah 22 kasus. Sementara, pada tahun 2018, kasus kekerasan pada anak terjadi di kisaran usia 9-18 tahun dengan jumlah 23 kasus.

Sementara, terkait kasus pencabulan terhadap anak, pada tahun 2017, terjadi pada korban di kisaran usia 6-15 tahun dengan jumlah 3 kasus. Sedangkan pada tahun 2018, usia korban di kisaran 4-17 tahun dengan jumlah 8 kasus.

Selain itu, untuk kasus persetubuhan terhadap anak, pada tahun 2017, terjadi pada korban kisaran usia 6-17 tahun dengan jumlah 12 kasus. Sedangkan pada tahun 2018, terjadi pada kisaran korban berusia 8-17 tahun dengan 11 kasus. Sedangkan pada tahun 2019, jumlah kasus-kasus kekerasan terhadap anak masih dilakukan pendataan secara rinci oleh Polres Malang Kota.

Meski demikian, seluruh kasus dugaan kekerasan terhadap anak tersebut diselesaikan sesuai dengan kaidah hukum yang berlaku. “Kami lakukan penegakan hukum sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku. Mulai penyidikan, penyelidikan, pelimpahan kasus ke Kejaksaan Negeri Malang hingga penyelesaian kasus berupa putusan perkara yang dilakukan oleh Pengadilan Negeri Malang,” terang Kasat Reskrim Polres Malang Kota, AKP Komang Yogi Arya Wiguna ketika ditemui Malang Post di kantornya.

Selain melanggar aturan hukum yang berlaku, kasus tersebut diselesaikan sesuai dengan aturan yang berlaku lantaran memberikan efek kepada korban. “Korban ada yang mengalami trauma, baik secara fisik maupun psikis. Untuk itu, kami beri tindakan tegas,” jelas dia.

Menurutnya, penyelesaian kasus tersebut juga mempertimbangkan restorative justice, tergantung dari kronologi yang terjadi. Salah satu contohnya, yakni kasus dugaan kekerasan terhadap anak yang terjadi di Jalan Bandung yang sempat viral beberapa waktu lalu.

“Dalam kasus tersebut, sempat terjadi kesalah pahaman antara anak dan orang tuanya. Sehingga, dilakukan mediasi. Hal tersebut bisa dilakukan di beberapa kasus lain yang tidak memberikan dampak trauma fisik maupun psikis terhadap korban,” tandas dia.(tea/ary/Malangpostonline.com)

Editor : Ary
Uploader : irawan
Penulis : tea
Fotografer : tea

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU