Hasil Appraisal AAM Belum Keluar

Kontrak Tapi Tak Paham Harga Sewa

  • 20-11-2019 / 07:27 WIB
  • Kategori:Malang
Kontrak Tapi Tak Paham Harga Sewa

Malangpostonline.com - Pemilik tenant akhirnya sewa tempat usaha di Alun Alun Mall (AAM) langsung dengan Pemkot Malang. Hanya saja mereka teken kontrak, Selasa (19/11) kemarin  tanpa mengetahui harga sewa. Itu karena penghitungan harga sewa tempat usaha di AAM belum tuntas.

Jumlah penyewa tempat atau tenant yang tanda tangan kontrak sebanyak 18 orang.  Mereka meneken di atas materai. Hal ini menandakan seluruh tenant yang ada di AAM menyanggupi persyaratan yang diberikan Pemkot Malang.

Untuk diketahui, sejak 4 November 2019 lalu, kontrak kerjasama PT Sadean Intramitra Corporation (SIMC) dengan Pemkot Malang telah berakhir. Dengan demikian, kini bangunan AAM  akan dikelola sepenuhnya Pemkot Malang.

Wali Kota Malang Drs. H. Sutiaji menjelaskan semua pemilik tenant termasuk manajemen Ramayana bertemu Dinas Perdagangan (Disdag) pukul 09.00 WIB. Pertemuan berlangsung di kantor Disdag.   

“Mereka kami minta untuk membuat surat pernyataan dan perjanjian sebagai dasar hukum yang sah untuk nanti membayarkan uang sewa kepada pemerintah,” jelas Sutiaji. Artinya, surat yang ditandatangani pemilik tenant ini bersifat mengikat. Ketika tim appraisal telah menentukan harga sewa, maka penyewa tenant wajib membayar ke Pemkot Malang.

Sampai kemarin, Sutiaji belum memastikan tim appraisal  tentukan harga sewa bangunan di AAM. “Sudah dipercayakan langsung ke Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL Malang).  Kami tidak ingin ikut campur. Mereka yang menentukan secara resmi, kami beri kesempatan untuk bekerja sebaik mungkin,” jelasnya.

Indikator penilaian  atau penghitungan, lanjut Sutiaji tidak hanya sekadar ukuran tempat. Tetapi juga menyangkut nilai investasi, pasar saat ini dan banyak lainnya.  Karena itulah Pemkot Malang memilih KPKNL untuk menentukan harga sewa.

Selanjutnya Pemkot Malang akan menggunakan acuan tersebut untuk mengelola AAM dengan menyewakan ke pemilik tenant saat ini.  “Tapi saya yakin (waktu sewa) tak sampai enam bulan. Yang jelas tenant-tenant di sana sudah diikat dan dibuatkan surat pernyataan untuk nanti membayarkan senilai yang sudah ditentukan pada waktunya,” jelas Sutiaji.

Kepala  Disdag Kota Malang Drs Wahyu Setianto MM mengatakan, 18 pemilik tenant yang diundang kemarin hadir. Jumlah tersebut diakui Wahyu merupakan jumlah keseluruhan tenant yang ada di AAM. Termasuk Ramayana.

“Kami memang mengundang mereka beberapa hari sebelumnya dan tadi (kemarin,red) baru kumpul semua. Kita berikan informasi yang memang harus diberitahu pada semua tenant,” jelas Wahyu.

Mantan Kasatpol PP Kota Malang ini melanjutkan sebelum melakukan penandatanganan surat perjanjian tenant, Disdag juga menginformasikan bahwa masa kontrak PT SIMC dengan Pemkot Malang berakhir pada 4 November lalu.

Ia mengakui hal ini tidak banyak diketahui penyewa tempat di AAM. Informasi tersebut terbilang penting karena menentukan batas waktu yang juga akan menentukan besaran nilai sewa yang harus dibayarkan.

“Kami informasikan bahwa nanti setelah appraisal selesai dan nilai sewa per tenant sudah diketahui, maka mereka harus membayar sewa ke Pemkot Malang per tanggal 5 November 2019,” tegas Wahyu.

Dalam pertemuan kemarin juga diketahui pemilik 16 tempat usaha selama ini membayar  sewa langsung ke manajemen Ramayana. Sedangkan dua tenant lainnya menyewa langsung ke PT SIMC.

Meski menemukan hal tersebut, Pemkot Malang sudah memutuskan bahwa segala sewa nantinya akan menjadi satu pengelolaannya. Yakni ditangani Pemkot Malang.

 

Penyewa Siap Bayar Tempat Usaha

Salah satu pemilik tenant,  penjual Arloji di AAM, Reni Dewi Anggraeni mengaku tetap melanjutkan berjualan di AAM. "Iya tadi ada pertemuan tapi  saya tak datang. Pegawai yang ke sana," ungkap Reni.

Meski begitu ia menjelaskan  masih tetap melanjutkan kerjasama ataupun membayar sewa dengan sistem baru seperti yang telah disiapkan Pemkot Malang. Reni menempati tempat berdagang seluas 2 x 3 meter di lantai 3 AAM. Ia menyewa sejak tahun 1997 ke manajemen Ramayana dengan harga sewa Rp 2,2 juta per bulan.

"Kalau saya memang sejak bulan ini belum bayar. Tapi katanya nanti ada nilai sewa baru. Saya tetap saja lanjut. Mau gimana lagi, udah lama jualan di sana," tegasnya.

Ia mengatakan telah mengikuti prosedur perjanjian yang ada termasuk membuat perjanjian membayar sewa mundur usai tim appraisal tentukan harga sewa. (ica/van/Malangpostonline.com)

Editor : van
Uploader : irawan
Penulis : ica
Fotografer : Guest

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU